Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Surat Cinta buat Mas dan Mbak Penonton Konser yang suka Peluk-pelukan

Fareh Hariyanto oleh Fareh Hariyanto
30 Oktober 2020
A A
Album Baru Band Itu Pasti Mengecewakan, Nggak Usah Terlalu Berharap Makanya terminal mojok.co

Album Baru Band Itu Pasti Mengecewakan, Nggak Usah Terlalu Berharap Makanya terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Izin mini konser di Pilkada Serentak 2020 yang dibatalkan membuat saya masygul bukan kepalang bung. Padahal saat berita itu disampaikan, angin segar nan sepoi sudah sedikit saya rasakan. Namun, semua sirna. Walakin ritus harian pengobat rindu konser dengan berbagai varian dokumen di kanal YouTube kembali jadi solusi. Beberapa konser yang saya saksikan membawa ingatan saya menguar kemana-mana. Apalagi saat melihat dokumentasi Sheila on 7, saya jadi ingat jenis penonton konser yang menyebalkan.

Ironis tapi, ingatan yang muncul bukan tentang nada dan syair Om Duta dkk.. Tapi, malah menyoal Mas dan Mbak penonton konser di dekat saya yang sedang kasmaran dan menafikkan penonton lain yang sama-sama bayar. Bagaimana saya bisa lupa, coba? Saya ingat betul posisi keduanya di arah jam 10 di depan saya.

ADVERTISEMENT

Kemesraan tidak pada tempatnya dan cenderung mengarah kepada hakikat yang merasa dunia ini hanya milik mereka berdua, sementara penonton lain ngontrak. Sebab baru lagu pembuka “Melompat Lebih Tinggi” dinyanyikan, keduanya sudah pada posisi berasyik masyuk saling berpeluk dengan posisi si Mbak di depan dan Masnya di belakang sama-sama menghadap panggung utama.

Logikanya dengan alunan distorsi gitar Om Eross Candra, ditambah betotan bass Om Adam, sama gebukan drum Om Brian, serta lengkingan vocal Om Duta yaaa harusnya lompat dong ya. Nah ini malahmasih asyik saling memeluk seperti mendengarkan komposisi “Für Elise” milik Ludwig van Beethoven. Apa blio itu nggak mempertimbangkan banyak jomblo yang rawuh?

Tentu kita dengan mudah bisa menebak, Mas dan Mbak penonton konser yang peluk-pelukan tersebut tidak memiliki sisi humanis kepada sekitar. Saya nggak bisa bayangkan bila Mbak Kalis Mardiasih melihat kejadian itu. Bisa jadi, keduanya akan mendapat kultum tentang banyak hal. Dan Mbak yang pelukan akan dapat maido khasanah perihal urgensi wanita memiliki otoritas atas dirinya sendiri.

Mbak Kalis Mardiasih Mulyadi, sang pemerhati isu perempuan suatu ketika pernah bersabda: “Tubuh kita memang milik Allah. Tapi, sudah dititipkan kepada kita dan jadi amanah buat kita. Memastikan tubuhmu selalu sehat dengan memastikan masuknya segala sesuatu yang halal dan thayyib, adalah otoritasmu. Memastikan tubuhmu tidak dilecehkan, tidak ikutan tren yang merusak, dan tidak disakiti, adalah otoritasmu. Memastikan tubuhmu tidak mendapat kekerasan seksual oleh siapa pun adalah otoritasmu. Memastikan tubuhmu aman saat beraktivitas di ruang publik dan ruang privat dengan mendorong penciptaan ruang publik aman untuk semua orang adalah otoritasmu.”

Ya walau Mas yang meluk mbaknya mungkin bakal punya alibi dengan dalih melindungi si Mbak dari tangan-tangan jahil penonton lain. Tahu sendirilah, kadang di konser-konser besar macam itu, ada aja tangan liar yang menyasar bagian tertentu. “Cari kesempatan dalam kesesakan konser” kata seorang teman saya yang pernah jadi pelaku.

Oke, Mbaknya mau dipeluk, Masnya niat ngelindungi, dan mereka sama-sama ridho. Kenapa saya heboh?

Baca Juga:

3 Alasan JIS Jadi Tempat Konser Red Flag, Bikin Penonton Ogah-Ogahan

Aksi Liar Sok Rock n Roll dan Destruktif di Panggung Musik yang Kerap Merugikan Tidak Bisa Dibenarkan!

Ingat, saya bukan lelaki jomblo yang sok dan iri dengan nasib mujur Mas itu lho ya. Saya cuma merasa tidak terima ingatan yang seharusnya tentang Sheila on 7 justru terdistraksi dengan aksi kedua penonton konser yang hingga saat ini masih lekat jelas dalam ingatan alam bawah sadar saya.

Sebenarnya pelajaran yang bisa dipetik menurut saya hanya satu: kalau mau nonton konser sebisa mungkin hindari posisi di belakang pasangan muda-mudi yang sedang kasmaran macam ini. Minimal anda bisa menerapkan social distancing dengan penonton seperti itu, minimal lima meter dari TKP.

Cukup mudah sekali melihat tipe penonton macam ini. Pertama, memakai baju, jaket atau aksesoris lainnya yang kembar (couple). Baju yang digunakan pun bukan yang asal kembar. Tapi ada identitas khusus yang bertautan antar keduanya lho. Bisa yang cowok bertulis “LO” dan si cewek “VE”. Hadah hadaaah.

Kedua, gandengannya kaya orang nyebrang di Jalan Malioboro. Konser Sheila on 7 di Universitas Semarang (USM) itu bukan konser pertama yang saya tonton. Sebagai Sheilagank, garis lentur saya selalu menemui pasangan yang saling bergandengan tangan dalam setiap konser Om Duta dkk.. Tapi, pasti deh kalau tipe yang satu ini gandengannya bakal beda, Mypan.

Ketiga, tidak hafal lagu sama sekali. Alasan ini yang paling sentimentil, entah saya nggak tahu harus ketawa apa nangis. Saat Om Duta dkk nyanyi, penonton lain akan ikut bersenandung. Tapi, kok ya yang dua ini masih di posisi yang sama. Kadang menggerakan bibirnya untuk nyanyi pun selalu terlambat beberapa detik. Kesannya malah kaya dukun yang komat-kamit.

Saya sudah bisa bayangkan, bila konser Sheila on 7 diisi dengan tipe penonton semacam ini. Bisa jadi Om Duta bakal makin keras saat nyanyi “Kau harus bisa-bisa berlapang dada, kau harus bisa-bisa ambil hikmahnya,” sambil blio nunjuk saya.

Demikianlah pesan ini ditujukan kepada Mas dan Mbak penonton konser sedunia yang suka peluk-pelukan, khususnya di Konser Sheila on 7. Semoga kalian masih bisa “ambil hikmahnya” beneran.

BACA JUGA Tak Melulu Santet, Banyuwangi Juga Gudang Musisi dan tulisan Fareh Hariyanto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 29 Oktober 2020 oleh

Tags: konser musikMusik
Fareh Hariyanto

Fareh Hariyanto

Perantauan Tinggal di Banyuwangi

ArtikelTerkait

Saya Nggak Langganan Spotiffy Premium Bukan karena Saya Miskin terminal mojok.co

Saya Nggak Langganan Spotify Premium Bukan karena Saya Miskin

16 September 2021
Alasan Kita Bisa Hafal Lirik Lagu, Meski Jarang Mendengarkannya

Alasan Kita Bisa Hafal Lirik Lagu, meski Jarang Mendengarkannya

12 Maret 2020
Relasi Bunyi, Sebuah Usaha Merawat Interaksi Seni di Yogyakarta terminal mojok.co

4 Channel YouTube Main Gitar Nonmusisi Terbaik di Indonesia

9 Agustus 2020
Bisakah Kita Menikmati Musik Tanpa Peduli Pilihan Politik sang Musisi? (Pixabay.com)

Nggak Ada Masalah Musisi Terjun ke Dunia Politik, asalkan…

4 Maret 2023
Konser Coldplay Cuma Sehari di Jakarta, Harusnya Pemerintah Sadar Diri dan Berbenah xyloband

Konser Coldplay Cuma Sehari di Jakarta, Harusnya Pemerintah Sadar Diri dan Berbenah

11 November 2023
Selera Musik Berhenti Berkembang, Tanda Kita Terlalu Sibuk Menjadi Orang Dewasa? Mojok

Selera Musik Berhenti Berkembang, Tanda Kita Terlalu Sibuk Menjadi Orang Dewasa?

13 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kenapa banyak daerah di jombang bernama mojo? (Wikimedia Commons)

Kenapa banyak daerah di jombang bernama mojo?

21 Juli 2026
Jamuan untuk dosen saat sidang akhir itu suka rela atau paksaan yang dibalut tradisi?

Jamuan untuk dosen saat sidang akhir itu suka rela atau paksaan yang dibalut tradisi?

19 Juli 2026
Krisis Identitas wingko babat: jajanan asli Lamongan, dijajah Semarang, dicaplok Jogja

Krisis Identitas wingko babat: jajanan asli Lamongan, dijajah Semarang, dicaplok Jogja

21 Juli 2026
Terminal Bungurasih Momok bagi Pengguna Jalan Raya Waru Sidoarjo, Macet Ora Umum! Mojok terminal bungurasih surabaya

Waru Sidoarjo, kecamatan penuh keistimewaan dan kemudahan, paling top di Sidoarjo!

17 Juli 2026
Pengalaman mengecewakan saat nonton di XXI Central City Semarang, niatnya cari hiburan, malah dapat kekesalan Mojok.co

Pengalaman mengecewakan saat nonton di XXI Central City Semarang, niatnya cari hiburan, malah dapat kekesalan

14 Juli 2026
Setelah Membelah Sleman-Bantul dan Melawan Kemacetan Jogja, Saya Nyatakan Yamaha Aerox Alpha Motor Terbaik di Masa Kini

Setelah Membelah Sleman-Bantul dan Melawan Kemacetan Jogja, Saya Nyatakan Yamaha Aerox Alpha Motor Terbaik di Masa Kini

17 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.