Kita semua sudah sepakat untuk membenci bunyi knalpot brong. Manusia waras di mana saja, mau dunia atau akhirat, pasti nggak akan suka dengan suara bising seperti itu.
Maka nggak heran kalau banyak orang yang marah, bahkan sampai meluapkan kemarahannya, terhadap mereka yang suka bleyer knalpot brong.
Padahal sudah ada regulasi yang mengatur soal knalpot brong ini. Ada di UU No.2 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Tapi regulasi akhirnya cuma jadi hiasan dinding. Nggak teraplikasikan dengan baik.
Tapi terlepas dari kemarahan, kebencian kita terhadap knalpot brong dan mereka yang suka bleyer knalpot, kayaknya perlu tahu soal bagaimana knalpot brong dan tren bleyer-bleyer knalpot ini bisa muncul.
Kita juga perlu tahu secara ilmu psikologis, mengapa manusia bisa merespons suara bising dari knalpot brong yang dibleyer dengan kemarahan.
Balap liar dan pertumbuhan industri knalpot
Kalau mengetik “sejarah adanya knalpot brong”, kita nggak akan nemu detail pasti soal kapan dan di mana tren ini muncul. Nggak ada satu kesepakatan yang bulat soal sejarah kemunculannya.
Tapi, satu hal yang pasti, kemunculan tren knalpot brong dan bleyer-bleyer ini muncul karena dua hal: balap liar (termasuk modifikasinya), dan naiknya industri knalpot.
Soal balap liar dan semesta modifikasinya, kita sudah tahu, lah, gimana bentuknya. Bodinya trondol mentok, knalpotnya harus berisik, bobokan, atau racing.
Di skena balap liar, bleyer-bleyer motor itu jadi semacam mandatory. Wajib. Datang ke lokasi harus bleyer, ketemu sesama pelaku balap liar harus bleyer, sebelum start balapan juga haru bleyer. Seakan bleyer-bleyer motor ini adalah cara mereka berkomunikasi.
Dari sinilah tren knalpot brong dan bleyer knalpot itu menyebar luas, bahkan sampai ke luar skena balap liar.
Selain karena balap liar, pengaruh lain muncul dari naiknya industri knalpot di Purbalingga. Purbalingga yang memang terkenal dengan industri logam sejak lama, akhirnya punya julukan lagi sebagai kota yang erat dengan knalpot.
Naiknya industri knalpot di Purbalingga ini sudah terjadi sejak tahun 90-an sampai 2000-an. Masih bertahan sampai sekarang.
Karena industri knalpotnya naik, ada banyak merek-merek knalpot lokal yang menjadikan Purbalingga sebagai basis mereka. Apalagi merek-merek yang memang mainnya di knalpot racing. Selain itu, ada banyak banget jasa bobok knalpot di Purbalingga, yang siap mengubah knalpot standar jadi knalpot brong.
Balap liar (beserta tren modifikasinya) dan industri knalpot benar-benar berperan penting terhadap adanya knalpot brong dan bleyer-bleyer knalpot ini. Dan dua faktor ini jadi yang utama.
Secara psikologis, suara bising knalpot brong memang mengganggu dan kita layak marah
Sekarang kita masuk lebih dalam, ke ruang di mana penerimaan masyarakat terhadap knalpot brong dan kebiasaan bleyer-bleyer knalpot. Tapi sebelum itu, kita tengok dulu dari sisi pelakunya.
Kalau kita melihat alasan mereka suka dengan knalpot brong dan suka bleyer-bleyer knalpot, selalu saja soal keren, merasa gagah, soal aktualisasi diri. Bahkan soal cari sensasi. Alasannya serupa.
Bahkan, salah satu profesor psikologi dari Universitas Western Ontario Canada, Julie Aitken Schermer, punya pandangan yang cukup tegas akan hal ini. Dalam penelitiannya yang termuat di “Current Issue in Personality Psychology” pada April 2023, Schermer bilang bahwa mereka yang suka dengan knalpot modifikasi (knalpot brong yang bising) punya kecenderungan sadisme dan psikopat yang didorong oleh sifat narsisme.
Menurut Schermer, orang-orang yang suka dengan knalpot bising selalu menganggap itu adalah hal yang keren, tanpa peduli dengan situasi sekitar.
“Tampaknya ini merupakan pengabaian yang tidak berperasaan terhadap perasaan dan reaksi orang lain. Itulah sifat psikopat yang muncul dan mereka juga mungkin senang melihat orang-orang terkejut.” ungkap Schermer yang dilansir oleh “National Geographic Indonesia”.
Tapi ada yang menarik di Magelang, tepatnya di Dusun Nyobaran, Windusari. Di sana, ada semacam kultur bleyer-bleyer (plus konvoi motor) ketika akan menjemput kiai yang akan mengisi pengajian di sana. Sekilas memang aneh, tapi ada alasan yang cukup masuk akal di baliknya.
Mereka melakukannya sebagai simbol perlindungan. Seperti yang dilaporkan @borobudur_news. Dulu, ada preman yang mengadang kiai saat akan mengisi pengajian di dusun tersebut.
Sejak saat itu, warga melakukan pengawalan dengan bleyer-bleyer motor supaya kiai yang datang merasa aman. Ya meskipun tetap saja berisik dan mengganggu, sih.
Kenapa orang marah?
Nah, sekarang, mengapa orang-orang selalu marah kalau dengar suara knalpot brong atau suara bleyer-bleyer? Sederhana saja, karena mengganggu.
Manusia normal akan terganggu dengan suara-suara bising yang tiba-tiba menghantam. Apalagi kalau kita dalam keadaan tenang, dalam keadaan sunyi, atau bahkan dalam keadaan serius.
Makanya, suara bising knalpot brong atau suara ini dapat memicu adrenalin. Otak akan menganggap suara bising itu sebagai sinyal bahaya, sehingga tubuh akan mengeluarkan hormon stres dan adrenalin yang membuat kita emosi dan cepat marah.
Kita selalu marah dan misuh-misuh, kan, kalau dengar suara knalpot brong? Ya itulah reaksi normalnya.
Wajar, kok, kalau kita marah sama orang yang suka bleyer-bleyer knalpot, apalagi pakai knalpot brong. Sudah benar marahin aja. Memang mengganggu dan bikin nggak nyaman. Iya kalau efeknya cuma kaget, kalau sampai jantungan gimana?
Penulis: Iqbal AR
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Mendengar Alasan Anak Muda Memakai Knalpot Brong yang Kerap Dimaki Bukan Dipuji
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
