Sudah tahu jalan di Lamongan jelek, kok malah beli Honda Scoopy, aneh!

Awalnya Bangga Beli Honda Scoopy, Lama-lama Malu karena Sering Bermasalah, Motor dan Pemiliknya Jadi Kelihatan Payah Mojok.co lamongan

Awalnya Bangga Beli Honda Scoopy, Lama-lama Malu karena Sering Bermasalah, Motor dan Pemiliknya Jadi Kelihatan Payah (unsplash.com)

Udah tau jalanan di Lamongan jelek, kok ya pake Honda Scoopy? Nalarnya tuh dipake apa nggak sih?

Di antara sekian banyak misteri sosial di tanah kelahiran saya, ada satu fenomena unik yang saban hari berhasil membuat saya mengurut dada. Kita semua tahu, jalan Lamongan memang begitu bergelombang. Penderitaan berkendara di sini adalah sebuah keniscayaan. 

Namun, di tengah kontur jalanan yang ganas dan penuh cobaan itu, saya justru mendapati sebuah pemandangan yang amat kontradiktif. Masyarakat Lamongan, terutama anak-anak mudanya, secara masif dan tanpa ragu justru menjadikan Honda Scoopy sebagai kendaraan tempur harian mereka.

Setiap kali melihat deretan Scoopy membelah jalanan Lamongan yang gronjal-gronjal, ada pertanyaan mendasar yang terus menari-nari di kepala saya, sudah tahu jalanan di daerah sendiri rusak dan bergelombang, kok ya malah memilih motor yang spesifikasinya bertolak belakang dengan realitas lapangan? Ini logikanya bagaimana?

Ketika visual melumpuhkan akal sehat

Keberhasilan Honda Scoopy menguasai pasar Lamongan membuktikan satu hal mendasar tentang perilaku konsumen, yakni kita adalah bangsa yang gampang sekali luluh oleh tampang.

Soal fungsi, performa, daya tahan mesin, hingga rasa berkendara, itu perkara belakangan yang kalau bisa tidak usah dibicarakan. Motor ini murni hidup dari kekuatan branding retro-modern yang menggemaskan, bukan dari keunggulan fungsional yang bisa diandalkan untuk menghadapi jalur ekstrem.

Mari kita bedah secara rasional. Honda Scoopy dibekali mesin 110 cc eSP yang secara teknis memang irit bahan bakar. Tapi ingat, irit tidak otomatis berarti ideal. Tenaga yang dihasilkan mesin kecil ini terasa sangat pas-pasan, untuk tidak menyebutnya loyo.

Akselerasinya lamban dan tarikan di putaran bawah hingga menengah sering kali terasa brebet serta berat. Pengendara dipaksa ekstra sabar setiap kali memutar selongsong gas. Di tanjakan ringan atau saat harus menyalip truk di jalur Lingkar Utara, mesin Scoopy sudah megap-megap menunjukkan keterbatasannya, apalagi jika digunakan untuk berboncengan atau membawa barang belanjaan.

Honda seolah lupa bahwa konsumen di daerah seperti Lamongan tidak sekadar berkendara di atas aspal mulus perkotaan, melainkan bertarung dengan beban dan medan yang dinamis. 

Honda Scoopy: handling ringkih dan suspensi yang menyiksa pinggang

Siksaan berlanjut pada sektor kenyamanan dan keselamatan. Rangka Scoopy yang terasa terlampau ringan justru menjadi bumerang saat diajak melaju di jalanan bergelombang. Motor gampang oleng ketika diterpa angin samping dari truk trailer atau saat melindas permukaan aspal yang tidak rata.

Suspensi bawaannya pun menyajikan kombinasi yang aneh: cenderung keras, tetapi tidak stabil. Ketika melindas lubang jalanan Lamongan, motor bukannya meredam guncangan dengan lembut, melainkan memantul-mantul tanpa kontrol yang baik. Pinggang dan tulang belakang pengendara menjadi korban utama dari kekakuan suspensi ini.

Situasi makin mengkhawatirkan saat memasuki musim hujan. Dengan velg berdiameter kecil (12 inci) dan profil ban bawaan yang kurang menggigit, daya cengkeram Scoopy terhadap aspal basah terbilang minim. Di jalanan licin atau tikungan tajam, motor ini sangat mudah tergelincir.

Kondisi tersebut diperparah oleh sistem pengereman depan yang kurang responsif di atas permukaan basah. Kombinasi antara ban berdiameter kecil dan rem yang kurang presisi adalah resep sempurna untuk memicu serangan jantung mendadak saat harus melakukan pengereman darurat.

Penderitaan penuh bagi pembonceng

Jika bagi pengemudinya saja Honda Scoopy sudah memberikan banyak kompromi, maka bagi pembonceng, motor ini adalah wujud penyiksaan yang nyata.

Bentuk jok Scoopy yang membulat, cenderung rata, dan minim grip membuat duduk di boncengan belakang terasa amat tidak aman. Setiap kali pengemudi membuka gas secara mendadak, pembonceng akan merasakan sensasi seolah-olah hendak terjungkal ke belakang. Tidak ada rasa memeluk atau menopang yang ergonomis.

Niat hati ingin tampil gaya membonceng pasangan membelah kota, yang didapat justru ketegangan otot tangan karena harus berpegangan ekstra kuat agar tidak menggelinding ke aspal. 

Honda Scoopy bukan motor buruk, tapi kurang cocok untuk jalanan Lamongan 

Honda Scoopy mungkin adalah kendaraan yang praktis, lucu untuk difoto, dan sangat memadai jika habitat utamanya hanyalah jalanan mulus kompleks perumahan atau area perkotaan yang steril.

Namun, mengandalkannya sebagai armada harian di kabupaten dengan karakter jalanan sekeras Lamongan adalah sebuah keputusan yang ajaib. Kita seolah-olah sengaja menukar kenyamanan fisik, keselamatan pengereman, dan ketenangan jiwa demi selembar estetika visual di jalan raya.

Pada akhirnya, sebelum Anda tergiur untuk memboyong matic retro ini ke garasi rumah, coba tanyakan sekali lagi pada diri sendiri, apakah Anda benar-benar membutuhkan kendaraan yang fungsional untuk menyelamatkan pinggang Anda di jalan berlubang, atau sekadar ingin terlihat keren saat berhenti di lampu merah?  

Sebab jalanan Lamongan yang keras tidak akan pernah peduli seberapa imut bentuk motor yang sedang Anda kendarai.

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Honda Scoopy Adalah Bukti Kebobrokan Seni Menjual Motor Kosong dengan Wajah Lucu dari Honda

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version