Banyak orang mengira pusat kepadatan penumpang kereta di Jakarta hanya terjadi di Stasiun Manggarai. Stasiun besar itu memang terkenal sibuk, penuh perpindahan jalur, dan hampir tidak pernah benar-benar sepi. Namun bagi para commuter yang pernah transit di Stasiun Duri, pengalaman yang dirasakan justru sering lebih melelahkan.
Stasiun Duri seperti menyimpan tingkat stres tersendiri yang jarang dibahas orang. Hal pertama yang langsung terasa adalah keramaian yang tidak mengenal waktu. Anehnya, Stasiun Duri selalu ramai baik hari kerja maupun akhir pekan. Pagi penuh pekerja yang berangkat kantor, siang dipadati penumpang transit, sore hingga malam berubah menjadi lautan manusia yang pulang kerja.
Bahkan di hari Sabtu dan Minggu, suasananya tetap padat seolah tidak ada jeda istirahat untuk Stasiun ini. Bagi penumpang yang baru pertama kali datang, kesannya sederhana stasiun ini kecil, tetapi jumlah orangnya terasa tidak proporsional.
Peron Stasiun Duri yang sempit bikin tempatnya terlihat kelewat padat
Salah satu penyebab utama stres di Stasiun Duri adalah ukuran peron yang relatif sempit. Ketika kereta datang bersamaan atau jadwal sedang padat, ruang gerak penumpang menjadi sangat terbatas. Orang berdiri rapat menunggu pintu kereta terbuka sambil menjaga keseimbangan agar tidak terdorong arus penumpang lain.
Situasi semakin menegangkan ketika dua arah penumpang bertemu sekaligus yang turun berusaha keluar, sementara yang naik sudah bersiap menyerbu masuk. Tidak ada ruang kompromi, semua bergerak cepat mengikuti ritme kereta komuter yang tidak bisa menunggu lama.
Masalah berikutnya yang sering dikeluhkan adalah akses tangga yang minim. Dengan volume penumpang sebesar itu, jumlah tangga yang tersedia terasa tidak sebanding. Akibatnya, antrean naik dan turun tangga hampir selalu terjadi, terutama pada jam sibuk.
Banyak penumpang harus berjalan pelan mengikuti arus manusia yang menumpuk. Jika terburu-buru mengejar kereta, kondisi ini bisa sangat membuat panik. Tangga yang seharusnya menjadi jalur mobilitas justru berubah menjadi titik kemacetan utama di dalam stasiun.
Tidak sedikit orang akhirnya memilih berdiri lama di peron karena khawatir tidak sempat turun atau naik tepat waktu.
Interval kereta yang begitu lama
Hal lain yang memperparah situasi adalah interval kedatangan kereta yang terasa lama di beberapa jalur. Ketika kereta datang sekitar 20 hingga 30 menit sekali, penumpang otomatis menumpuk dalam jumlah besar. Begitu kereta akhirnya tiba, kepadatan langsung melonjak drastis.
Berbeda dengan stasiun besar yang memiliki banyak jalur alternatif, di Stasiun Duri pilihan penumpang sering kali terbatas. Tidak heran jika setiap kedatangan kereta terasa seperti momen “perebutan kesempatan” untuk bisa masuk dan mendapatkan ruang berdiri yang layak.
Yang menarik, banyak commuter justru merasa tekanan di Stasiun Duri lebih terasa dibanding Manggarai. Jika Manggarai sibuk karena luas dan kompleks, Duri terasa padat karena ruangnya terbatas. Kombinasi peron sempit, tangga minim, dan jadwal kereta yang tidak terlalu rapat menciptakan pengalaman transit yang menguras energi.
Secara psikologis, kepadatan di ruang kecil memang lebih melelahkan. Tubuh harus terus waspada terhadap dorongan orang lain, pikiran fokus pada posisi berdiri, dan waktu terasa berjalan lebih lambat saat menunggu kereta datang.
Titik kumpul pekerja keras
Namun di balik semua itu, Stasiun Duri tetap menjadi titik vital mobilitas warga Jakarta dan sekitarnya. Ribuan orang setiap hari menggantungkan perjalanan mereka di stasiun ini—mulai dari pekerja kantoran, pedagang, mahasiswa, hingga masyarakat yang sekadar bepergian.
Keramaian yang tidak pernah berhenti sebenarnya menjadi gambaran nyata betapa besar ketergantungan masyarakat terhadap transportasi kereta komuter.
Banyak penumpang berharap adanya peningkatan fasilitas, terutama pelebaran area peron, penambahan akses tangga atau eskalator, serta jadwal kereta yang lebih rapat agar penumpukan tidak terjadi terlalu lama. Karena pada akhirnya, kenyamanan stasiun bukan hanya soal bangunan modern, tetapi tentang bagaimana arus manusia bisa bergerak dengan aman dan manusiawi.
Stasiun Duri mungkin bukan stasiun terbesar di Jakarta, tetapi bagi para commuter, tempat ini adalah arena latihan kesabaran setiap hari. Di sinilah orang belajar berdiri lama, menunggu tanpa kepastian cepat, dan tetap berangkat bekerja meski perjalanan dimulai dengan sedikit stres.
Sebab perjalanan menuju pekerjaan sering kali sudah menjadi perjuangan pertama sebelum hari benar-benar dimulai.
Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Sebaik-baiknya Tas Ransel Adalah Tas Gratisan ASUS
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
