Stasiun Cawang adalah stasiun yang bikin saya nangis bawang tiap hari. Tiada hari tanpa menderita di stasiun tersebut
KRL dan warga Jabodetabek merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Mereka sama seperti Romeo-Juliet, bubur ayam dan kerupuk, maupun sendok dan garpu. Dan sebagai warga Depok yang bekerja di area Mampang, saya termasuk ke dalam golongan orang yang menjadikan KRL sebagai partner kerja sehidup-semati.
Setiap hari kerja, saya akan menjalani rute sebagai berikut: naik KRL dari Stasiun Universitas Indonesia—inilah stasiun kereta yang paling dekat dengan tempat tinggal saya—sampai Stasiun Cawang. Setelah itu, untuk tiba ke tempat kerja saya di area Mampang, saya memiliki dua opsi: lanjut menaiki Transjakarta atau kalau ingin lebih mudah, lanjut naik ojek online. Apa pun yang saya pilih, satu hal tetap pasti akan terjadi: Stasiun Cawang akan membuat saya menangis bawang.
Kok bisa? Apakah saya berangkat kerja sambil motong-motong bawang merah? Tentu tidak! Berikut ini akan saya jelaskan.
Jadi ayam geprek di KRL
Saya memang penyuka ayam geprek. Akan tetapi, sesuka-sukanya saya sama makanan tersebut, bukan berarti saya rela dihimpit dan digeprek oleh pengguna commuter lain saking ramainya. Nahasnya, hal ini sudah lazim terjadi di kalangan para pengguna KRL.
Selama melewati delapan stasiun dari UI sampai Cawang, saya harus terpaksa berdiri dengan desak-desakan. Kaki pegal, ruang bernapas yang tidak lapang, ditambah adanya bau kaki, bau keringat, atau bau ketiak terkadang, segalanya harus saya tahan. Dan jangan bilang saya tidak mencoba menghindarinya. Pernah saya mencoba untuk berangkat lebih pagi. Namun, alih-alih memperoleh kelegaan sehingga saya bisa menaiki kereta sambil membaca novel, situasinya kurang lebih tetap sama: saya akan berhimpitan bersama pengguna transportasi umum lainnya.
Bahkan, tidak jarang pula saya harus pasrah untuk tidak masuk ke kereta yang baru tiba. Sebab, kereta tersebut sudah sangat penuh. Jadi, tubuh saya yang kebetulan cukup tinggi menjulang ini pasti akan menambah level kepenuhan apabila saya memaksakan diri untuk tetap naik. Meskipun sebenarnya, tak sedikit pula orang yang tetap memaksakan diri untuk masuk ke dalam gerbong walaupun situasi di dalamnya sudah lebih padat daripada jadwal kuliah mahasiswa semester tiga.
Yah, begitulah nasib saya saat ini: memulai pagi dengan menjadi ayam geprek di KRL sampai Stasiun Cawang.
Sampai Cawang, tetap tidak lapang
Waktu sekitar 20 menit dibutuhkan untuk mencapai Stasiun Cawang dari Stasiun UI. Dua puluh menit yang terasa seperti 1.200 detik (ya, memang bener, dong). Begitu 20 menit sudah terlewati dan saya bisa turun dari gerbong kereta, apakah hidup saya langsung akan bahagia? Tidak juga!
Pasalnya, Stasiun Cawang adalah stasiun yang terintegrasi dengan berbagai moda transportasi umum lainnya, yakni LRT dan Transjakarta. Oleh sebab itu, banyak orang yang akan turun di stasiun ini. Karena banyak yang turun, otomatis antrean untuk keluar stasiun pun akan membludak. Jujur saja, antrean keluar stasiun di sini sangat mirip dengan antrean pada tempat makan atau minuman yang sedang viral alias, ramai banget!
Kepadatan antrean tidak hanya disebabkan karena jumlah orang yang mau keluar berlimpah. Ada pula faktor lain: kita harus menunggu kereta lewat terlebih dahulu. Karena sedang berada di rush hour, tentu jarak kedatangan antarkereta tidak akan lama, kurang lebih dua menit. Jadi, dengan kata lain, setiap dua atau tiga menit sekali, kereta akan datang dan membuat orang-orang yang mau keluar stasiun harus menunggu kereta itu lewat terlebih dahulu. Penumpukan lagi, bukan?
Susah dapet ojek online
Setelah melalui semua ke-hectic-an tersebut, saya sering memilih ojek online sebagai solusi untuk mengantarkan saya ke kantor. Bisa saja saya menaiki TJ untuk opsi yang lebih murah, tetapi itu berarti saya akan bertemu lagi dengan yang namanya desak-desakan. Maka dari itu, memesan Gojek atau Grab menjadi jalan ninja saya.
Sialnya, mendapatkan ojek online di Stasiun Cawang itu cukup susah-susah-gampang. Penyebabnya ada beberapa faktor. Pertama, karena banyaknya orang yang turun di stasiun ini, otomatis akan banyak pulalah yang kemungkinan memesan ojek online. Itu berarti, saingan saya untuk bisa segera di-pick up pun akan cukup banyak. Faktor kedua adalah para driver di area sekitar Stasiun Cawang cenderung cukup picky.
Saya sempat beberapa kali mengobrol dengan beberapa driver dalam perjalanan ke kantor. Dari mereka, saya jadi tahu beberapa fakta menarik, salah satunya adalah beberapa driver cenderung ogah untuk mengambil pesanan Bike Hemat karena upahnya yang pasti lebih kecil dibandingkan pesanan yang normal.
Belum lagi kalau situasi sedang turun hujan. Untuk mendapatkan driver di situasi tersebut merupakan tugas yang lebih berat daripada menjadi pelatih Manchester United. Dan mengingat ibu kota beberapa waktu ini sangat sering didera hujan, wajarlah jika saya susah mendapatkan Gojek.
Jika sudah begini, langkah yang harus saya ambil akhirnya adalah memesan ojek online dengan tarif yang normal atau prioritas, atau bahkan menaiki ojek online yang versi mobil (Hah? Ojek tapi mobil? Gimana sih?). Apa pun itu, tentunya kocek saya yang tidak dalam ini akan semakin terkuras. Hiks.
Stasiun Cawang yang membuatku sampai menangis bawang
Pada intinya, saya bukanlah satu-satunya orang yang merasakan ini. Masih banyak para pengguna transportasi umum di luar sana yang perjuangannya lebih berat lagi, perjalanannya lebih panjang lagi, tetapi kebetulan tidak menuliskannya ke dalam artikel saja. Oleh karena itu, kepada pihak-pihak terkait, saya harap tulisan ini dapat menjadi aspirasi yang didengarkan agar transportasi umum di Jabodetabek bisa lebih baik lagi kedepannya. Kritik itu bagus, kan?
Selama itu belum terjadi dan kondisi transportasi umum di sini tetap begitu-gitu saja, ya, saya tetap akan menangis bawang di Stasiun Cawang. Saya tetap akan digeprek. Saya tetap harus melalui semua ini setiap hari. Namun, tidak apa-apa. Lagi pula, katanya, penduduk di Indonesia itu mayoritas bahagia, bukan? Jadi, mungkin saya saja yang kurang mensyukuri hidup. Hiks.
Penulis: Bintang Ramadhana Andyanto
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 5 Stasiun KRL Paling Ikonik di Jakarta, Bisa Jadi Sarana Rekreasi Murah Meriah
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
