Informasi
ADVERTISEMENT

Sragen, Kota yang Hidup Cuma Sampai Maghrib, Setelah Itu, Seakan Jadi Kota Mati

Keresahan Saya Selama Tinggal di Kecamatan Gemolong Kabupaten Sragen

Ini bukan keluhan. Ini semacam saran buat pemerintah daerah dan warga Sragen untuk mulai mempertimbangkan jam operasional yang lebih manusiawi. Kita juga pengin punya opsi buat ngerjain skripsi di luar rumah, tanpa harus dikejar deadline dan juga dikejar satpam karena tempatnya udah mau tutup. Kita pengin duduk di kedai kopi yang punya playlist musik selain dangdut koplo atau house remix yang sound-nya bocor.

Merasakan jadi biksu digital

Jangan salah sangka, warga Sragen itu asik-asik kok. Ramah, sederhana, dan punya selera humor yang khas. Tapi ya itu tadi, malam hari di Sragen bukan waktu buat bersosialisasi, melainkan waktu buat instrospeksi. Mungkin karena itulah banyak yang jadi bijak mendadak tiap malam, saking nggak ada distraksi.

Kalau kamu anak rantau dan baru pindah ke Sragen, saran saya jangan langsung frustrasi. Mungkin di awal kamu akan kaget, syok, bahkan merasa kayak tinggal di antah berantah. Tapi lama-lama, kamu bakal terbiasa. Bahkan kamu bakal mulai menikmati suasana sunyi itu, dan bilang ke diri sendiri: “Ternyata jadi biksu digital di Sragen itu nggak buruk-buruk amat.”

Pada akhirnya, meskipun Sragen sunyi, kita tetap bisa bahagia. Walau kadang, bahagia itu harus dicari di siang hari, karena malamnya udah keburu bubar jalan.

Penulis: Putri Ardila
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Derita yang Saya Rasakan Selama Tinggal di Perbatasan Ngawi-Sragen: Mau Pesan Ojol, Malah Disarankan Bertapa

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 23 Mei 2025 oleh .

Putri Ardila

Mbak-mbak bermata minus yang nulis buat bertahan hidup dan berharap suatu hari bisa keliling dunia tanpa harus berhenti menulis.