Sragen Daerah yang Cuma Dilewati, Tak Pernah Jadi Tujuan Orang karena Tidak Punya Apa-apa

Sragen Daerah yang Cuma Dilewati, Tak Pernah Jadi Tujuan Orang karena Tidak Punya Apa-apa

Sragen Daerah yang Cuma Dilewati, Tak Pernah Jadi Tujuan Orang karena Tidak Punya Apa-apa (unsplash.com)

Ada kota yang dicari karena janji. Ada daerah yang dituju karena harapan. Namun sepertinya Sragen tidak masuk dua-duanya. Sragen lebih sering menjadi lintasan, dilihat sebentar dari kaca mobil, dilewati dengan kecepatn pasti, lalu ditinggalkan tanpa kesan.

Sebagai warga asli Sragen, saya sepakat dengan artikel yang tayang di Terminal Mojok November lalu berjudul Sragen Dianggap Badut Jawa Tengah. Sejak ada tol, Sragen seperti dipindahkan dari peta emosional Jawa. Masih ada secara administratif, tapi absen secara imajinatif.

Sebelum dibangun tol, dulu rumah makan, penginapan, UMKM pinggiran, pasar, hingga potensi ekonomi lainnya masih ramai dan menjadi daya tarik ketika pelancong melewati kota kecil ini. Namun alih-alih kian berkembang, kini nama Sragen seperti keluar dari ingatan warga luar.

Saya termenung mendengar pertanyaan sederhana yang muncul dari bibir teman-teman kuliah saya di Jogja. Meski sering diucapkan sambil bercanda, pertanyaan, “Ke Sragen mau cari apa?” atau yang lebih nyelekit “Di Sragen memang ada apa?” membuat saya mak tratap. Anehnya, pertanyaan ini jarang menemukan jawaban yang meyakinkan.

Sragen tidak pernah jadi tujuan

Sragen punya posisi geografis yang tanggung. Tidak ikonik seperti Solo, tidak banyak industri seperti Karanganyar, dan tidak populer seperti Jogja. Ia ada di tengah bagian paling timur Jawa Tengah, tapi kerap kali lekang dari perhatian. Bahkan untuk sekadar singgah pun, Sragen kalah sama rest area.

Lahirnya jalan tol yang katanya membawa kemajuan, justru membuat Sragen makin sunyi. Jalan cepat itu mempercepat orang pergi, bukan datang. Dahulu, kendaraan mau tak mau melewati kabupaten mepet Ngawi ini. Orang berhenti, makan, atau sekadar belanja di sini.

Sekarang? Sragen tinggal nama di papan hijau. Dibaca sekilas sebelum mata kembali fokus ke lajur lurus ke depan.

Ironisnya, pembangunan yang diagungkan sebagai simbol konektivitas itu malah menjadikan Sragen terisolasi secara sosial-ekonomi. Sebenarnya bukan terisolasi karena jauh, tapi karena tak dianggap penting untuk disinggahi.

Tapi ya mau ngapain? Lha wong mau lewat jalan raya umum, jalanannya juga jelek yang bikin repot pengendara. Belum lagi kalau malam banyak lampu jalanan yang mati. Jika bukan karena kepepet, ya… gitulah.

Baca juga: Sragen Itu Bukan Kota Mati, Kota Ini Ramenya Minta Ampun dan yang Utama, Punya Bioskop!

Sebuah prestasi, ranking nasional yang tak bisa disangkal

Ada kalanya prestasi Sragen di tingkat nasional perlu tampil. Hadir sebagai runner up UMR—atau UMK, istilah resminya—yang bukan sekadar rendah, tapi langganan papan bawah nasional, adalah fakta yang menambah kenestapaan kota tersebut. Angka itu bukan cuma statistik, ia menjelma jadi kenyataan sehari-hari. Upah kecil, pilihan kerja terbatas, dan masa depan yang terasa harus dicari, bahkan bergantung di tempat lain.

Tak heran jika merantau menjadi semacam ritus wajib warga. Bekerja di kota lain bukan lagi pilihan, melainkan strategi yang lahir dari akal waras. Dan di titik ini, muncul fenomena yang getir tapi nyata, banyak warga Sragen yang memilih mengaku berasal dari Solo ketika berada di perantauan.

Bukan karena malu pada tanah kelahiran, melainkan karena lelah menjelaskan. Mengaku dari Solo terasa lebih praktis, lebih “diterima”, dan tidak memancing pertanyaan lanjutan seperti, “Sragen itu di mana?” dan tak jarang berlanjut pada pertanyaan-pertanyaan yang kerap bikin puyeng.

Identitas di sini jadi cair. Bukan karena kosmopolitan, tapi karena tekanan sosial-ekonomi yang bikin menjawab asal usul terasa tidak ideal.

Sragen punya wisata, tapi seperti tidak dianggap ada

Setiap daerah biasanya punya satu kebanggaan wisata. Sragen juga punya. Masalahnya, kebanggaan itu hampir tidak pernah dirawat dengan sungguh-sungguh.

Gunung Kemukus, misalnya. Lebih terkenal karena narasi esek-eseknya ketimbang makna historis-kultural atau spiritualnya. Ia telanjur dikemas sebagai sensasi, bukan sebagai ruang refleksi atau warisan budaya. Akibatnya, Sragen ikut terseret dalam stigma murahan maupun bahan gosipan warga luar daerah.

Lalu ada Sangiran, situs manusia purba kelas dunia. UNESCO mengakuinya, ilmuwan mengaguminya, tapi promosi lokalnya seperti setengah hati. Sangiran ada, tapi jarang dibicarakan. Megah secara sejarah, sunyi secara gaung. Seolah-olah kebanggaan global itu hanya dipajang, bukan dihidupi. Serba tanggung.

Selain dua itu? Daftar wisatanya cepat habis. Bukan karena Sragen miskin potensi, tapi karena potensinya tidak pernah dibangun menjadi cerita yang menarik. Wisata tanpa narasi hanya jadi lokasi. Dan, lokasi tanpa cerita sulit mengundang orang datang.

Bingung mau bawa oleh-oleh apa dari Sragen…

Setiap kota biasanya punya satu benda yang membuat orang ingat tentang makanan, kerajinan, atau sesuatu yang bisa dibawa pulang. Di Sragen, mencari oleh-oleh khas bisa jadi bikin kehabisan waktu buat mikir. Saking bingungnya.

Seringnya bukan karena tidak enak, tapi karena tidak khas. Bisa ditemukan di kota lain, bisa diganti merek lain. Tak ada oleh-oleh yang punya identitas kuat sehingga orang bisa berkata, “Oh, ini Sragen.”

Akhirnya oleh-oleh yang dibawa dari sini sering berupa apa saja yang kebetulan dibeli, bukan sesuatu yang dengan sadar dicari. Ini bukan soal rasa, tapi soal karakter. Dan entah kenapa daerah ini belum bisa membangun karakter kekhasannya sendiri.

Baca juga: Sragen Dianggap Badut Jawa Tengah, padahal Punya Potensi yang Amat Hebat, tapi yang Terkenal Justru Hal Buruknya.

Kota yang melatih warganya untuk pergi

Jika dirangkum, Sragen seperti kota yang sejak awal tidak disiapkan untuk ditinggali lama-lama. Pendidikan ada, tapi lapangan kerja minim, gaji pun rendah. Budaya ada, tapi tak diuri-uri. Sejarah ada, tapi tak dipromosikan. Ekonomi ada, tapi tak menyejahterakan.

Maka, warganya dilatih secara tak langsung untuk pergi. Merantau menjadi kurikulum tak tertulis. Pulang kampung hanya saat lebaran atau apesnya, sebatas menjenguk orang tua sakit. Kota asal menjadi latar belakang, bukan tujuan hidup.

Pertanyaan “Ke Sragen mau cari apa?” akhirnya berbalik menjadi, “Kalau di Sragen, mau bertahan bagaimana?”

Lagi-lagi Sragen yang terus dilewati

Sragen bukan kota gagal. Ia hanya terlalu sering dilewati tanpa pernah benar-benar diajak bicara. Terlalu sering menjadi angka, bukan cerita. Terlalu sering jadi jalur, bukan tujuan.

Mungkin, suatu hari, Sragen akan menemukan suaranya sendiri. Semoga. Tapi sebelum itu terjadi, kebingungan ini sah-sah saja. Karena selama kebijakan hanya mempercepat orang pergi, selama promosi hanya ontran-ontran formalitas, dan selama upah tetap rendah, pertanyaan itu akan terus muncul dengan jujur, sederhana, dan menyakitkan, “Selain cuma lewat, memang ke Sragen mau cari apa? Dan mau bawa apa? Kok mbingungi!”

Penulis: Asrori Satria Aji Pamungkas
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Sragen, Kota yang Hidup Cuma Sampai Maghrib, Setelah Itu, Seakan Jadi Kota Mati.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version