Laper malah ilang begitu lihat tempat makan terdekat rumah saya bikin spanduk pake AI. Ada yang ngerasa gitu juga nggak?

Spanduk tempat makan terdekat bikin pakai AI itu malah norak (Wikimedia Commons)

Spanduk tempat makan terdekat bikin pakai AI itu malah norak (Wikimedia Commons)

Bulan lalu saya wisata ke Tawangmangu. Begitu lapar, tentu saja cari tempat makan terdekat. Saya lihat-lihat itu tempat makan bikin spanduk pakai AI.

Jujur saja, saya merasa rada aneh begitu melihat spanduk pakai AI. Tapi, teman saya sudah kadung memilih tempat makan terdekat ini karena sepi. Katanya, biar nyaman sekalian buat istirahat.

Saya akhirnya setuju saja karena itu memang tempat makan terdekat dan kami sudah lapar. Begitu duduk, saya malah sibuk mikir, bukannya pesen. 

“Kenapa ya saya kok tiba-tiba malas ke tempat makan terdekat itu karena cuma lihat spanduk pakai AI?”

Rasa nggak suka yang muncul tiba-tiba sama tempat makan terdekat kami wisata di Tawangmangu

Sebelumnya saya mau kasih penegasan ya. Bahwa ini selera saya saja. Tidak ada maksud apa-apa sama tempat makan terdekat dari kami wisata itu.

Entah kenapa, muncul rasa kok kurang niat aja mempromosikan warung. Padahal, banyak calon konsumen yang menilai tempat makan dari beberapa aspek. Salah satunya tampilan depan, yaitu spanduk atau banner.

Sebelum mencicipi makanan, pelanggan akan menggunakan hal-hal yang terlihat sebagai “petunjuk” kualitas. Kalau saya sih begitu.

Mulai menjamur

Kalau saya amati sih udah banyak tempat makan terdekat rumah saya yang pakai AI untuk bikin spanduk. Mulai dari jualan makanan pinggir jalan yang cuma buka pagi sampai warung es teh jumbo

Coba deh kamu amati juga. Mungkin akan nemu banyak kayak saya.

Nah, iseng, saya tanya ke beberapa kenalan. Risih nggak sih kalau tempat makan terdekat kamu pakai AI untuk bikin spanduk?

Banyak yang menjawab biasa saja. Mungkin karena nggak punya modal untuk pesan desain. Atau, menghemat waktu saja. 

Namun, ada juga yang ternyata kurang respect dengan warung model demikian. Kalau saya sih bukannya nggak respect atau nggak suka. Cuma risih aja dan nggak tau kenapa malah mengurangi selera makan. Kenapa ya?

Lebih respect sama tempat makan terdekat yang pakai desain desain Majapahit daripada desain AI

Dulu, saya sering melihat tempat makan terdekat rumah saya pakai spanduk yang rada norak gitu. Orang menyebutnya spanduk Majapahit.

Tapi, kalau buat saya, spanduk yang katanya norak itu nggak ngasih dampak ke selera makan. Ya biasa saja. Tapi, beda kalau tempat makan terdekat rumah saya bikin spanduk pakai AI.

Makanya, banyak kenalan saya yang katanya malah lebih banner norak yang disebut desain Majapahit itu.

Pasalnya, walaupun terkesan norak, bagaimanapun ia adalah hasil karya manusia. Spanduk hasil karya desainer, atau bahkan tulisan tangan, terasa lebih autentik ketimbang AI yang terasa impersonal.

Sebetulnya ini menandakan bahwa orang-orang masih memiliki penghargaan yang tinggi terhadap karya. Terlebih karya yang melibatkan sentuhan manusia. Bukan yang hanya tinggal memasukan prompt. Itu kalau saya, ya.

Kurang sedap di mata

Entah mengapa saya merasa kalau desain spanduk dari AI itu kurang enak dilihat. Rasa-rasanya bikin perih mata. Terlebih kalau desainnya buat spanduk tempat makan terdekat rumah saya.

Bukannya saya menolak perkembangan zaman, tetapi ada sesuatu yang terasa janggal. Warna desain AI sering terlalu mencolok. Font-nya aneh. Komposisinya berantakan. Terlalu banyak elemen yang bikin desain jadi terasa sesak.

Tempat makan terdekat rumah saya jadi tidak memiliki ciri khas

Saat makan di suatu tempat yang asing biasanya orang membutuhkan penanda. Agar suatu saat dapat kembali makan di tempat tersebut. 

Beberapa petunjuk yang sering menjadi tanda adalah titik Google Maps, bangunan mencolok, plang nama jalan, atau spanduk.

Bagi sebagian orang yang menandai tempat makan terdekat dan direkomendasikan dengan spanduk, jelas harus ada ciri khas. Misalnya, pakai font unik, warna spanduk yang nggak bikin mata capek, atau kata-kata yang nyeleneh.

Sedangkan kalau mendesain pakai AI itu sangat tidak terdapat ciri khasnya. Spanduk dari AI terlihat template, sehingga orang sulit untuk mengingatnya. 

Dan lucunya, ciri khas desain AI justru terletak pada kenyataan bahwa ia sangat mudah dikenali sebagai hasil buatan AI. Beberapa tempat makan terdekat di rumah saya begitu.

Terlihat kurang meyakinkan

Saya merasa kalau tempat makan terdekat yang berspanduk AI itu kurang meyakinkan. Maksudnya, warung tersebut kurang menarik minat saya untuk mampir. 

Bagaimana tidak, bikin spanduk saja tidak niat. Lantas bagaimana warung tersebut bisa menyediakan makanan yang enak?

Tentu ini hanya dugaan dan perasaan saya saja. Saya yakin kemampuan memasak nggak ada hubungannya dengan kemampuan membuat prompt.

Namun, kembali lagi. Ada hal-hal yang menurut saya jangan kamu kerjakan pakai AI karena gampang ketahuan dan nggak ada ciri khas. Salah satunya spanduk tempat makan. 

Mending kayak spanduk pecel lele, deh. Nggak masalah orang menganggapnya norak desain Majapahit. Tapi, itu buatan yang ikonik dan menjadi wahana marketing yang baik.

Penulis: Muhammad Ubaidillah Hanan

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Cak Ubaid, Pelukis Spanduk Pecel Lele yang Bertahan di Tengah Gempuran Printing

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version