Tumbuh besar di masa kejayaan bisnis multi-level marketing atau MLM, saya tidak asing dengan merek-merek seperti Tupperware, Paloma, hingga Sophie Martin. Sejauh yang saya tahu, Tupperware sudah bangkrut, status Paloma tutup permanen, sementara Sophie Martin masih berjaya dan berinovasi di Indonesia hingga hari ini.
Dahulu, ibu saya member ketiga merek itu. Rumah kami pun dipenuhi tumpukan katalog produk yang siap disodorkan kepada calon pembeli: para tetangga, orang tua teman di sekolah, juga guru-guru saya.
Waktu SD, saya pun sering sekali ikut Ibu mengambil barang di gudang. Ketika Ibu sibuk memilah-milih dagangan yang akan dibawa pulang, saya asyik menunggu di lobi sembari menghabiskan hot dog American Bakery.
Dari sekian banyak produk yang pernah saya intip dari balik katalog maupun etalase gudang, sebuah dompet menarik perhatian saya. Saya juga nggak menyangka bahwa dompet yang dibelikan Ibu pada 16 tahun yang lalu menjadi produk fesyen lokal paling awet yang masih saya gunakan sampai sekarang.
Berkat dompet Sophie Martin, saya sadar, memang yang good looking bakal kalah sama yang bikin nyaman
Seingat saya, Ibu membelikan dompet Sophie Martin sekitar 2010. Waktu itu saya masih kelas 2 SD. Dompet kulit sintetis dengan model lipat dua, motif hati warna pink, ditambah penutup magnet di bagian depan. Sederhana saja. Lupa dulu harganya berapa. Seingat saya sih di bawah Rp100.000.
Kalau dilihat sekarang, desain dompet Sophie Martin memang terasa jadul. Masih kurang gemoy apabila dibandingkan dengan model-model dompet warna pink yang tersebar di marketplace. Rada buluk pula bagian luarnya karena sering saya taruh sembarangan. Hilang pernah. Terendam pernah. Kehujanan apalagi. Jatuh di jalan juga sering.
Selera saya pun berubah. Dulu saya memang suka warna pink, tetapi beberapa tahun belakangan lebih suka warna hijau (bukan yang ada lorengnya). Oleh karena itu, beberapa kali saya tergoda untuk membeli dompet baru, terutama yang berwarna hijau.
Akan tetapi, akhir kisahnya selalu sama. Dompet baru hanya saya pakai sebentar, kemudian baru terasa bahwa unsur nyamannya sangat minim. Ada yang slot kartunya terlalu banyak, jadi berasa mubazir. Ada juga yang warna hijaunya cantik, dan harganya pun mahal bagi kaum mendang-mending seperti saya, tetapi rasanya kurang praktis.
Pokoknya, selalu saja ada kekurangan dan ketidakpuasan yang saya rasakan dari dompet-dompet lain sehingga ingin segera meninggalkan mereka, baik mayor maupun minor.
Pada akhirnya, saya kembali lagi ke dompet Sophie Martin yang sudah menemani saya sejak 2010. Ternyata betul kata orang-orang. Yang good looking bakal kalah sama yang bikin nyaman. Dompet lama pemenangnya.
Kompartemen dompet tidak kurang dan tidak berlebihan. Pas banget!
Salah satu alasan saya betah memakai dompet Sophie Martin selama bertahun-tahun ialah modelnya yang minimalis dan kompartemennya yang pas sekali. Sekarang kan banyak dompet yang menyediakan banyak ruang dengan belasan slot kartu. Masalahnya, saya pun tidak punya kartu sebanyak itu.
Bagi saya, selama masih ada tempat untuk menyimpan KTP, kartu ATM, dan beberapa kartu penting lainnya, itu sudah cukup. Rekening saya saja saldonya nol semua. Ngapain dibawa-bawa terus.
Dompet Sophie Martin saya mempunyai tujuh slot kartu dan dua ruang untuk menyimpan uang kertas. Dua ruangnya pun bisa dibagi lagi untuk menyimpan nominal besar (yang sudah tidak ada harga dirinya itu) dan nominal kecil di bawah Rp10.000. Soal uang koin, biasanya saya taruh di plastik kiloan saja.
Sementara untuk slot kartu, malah saya isi berbagai macam benda selain KTP dan kartu debit. Mulai dari SIM card cadangan, kartu anggota IAI, e-money, hingga polaroid Levi Ackerman yang sudah saya simpan sejak SMP.
Saking awetnya, saya malah jadi khawatir terhadap nasib perusahaan Sophie Martin
Nyaris dua dekade dompet Sophie Martin sudah menemani perjalanan hidup saya. Ia lihat momen saya berdagang dari SD, SMP, SMA, kuliah, dan nganggur pun masih dagang biar tetap punya penghasilan barang seuprit. Ia juga jadi saksi saya kena ghosting padahal sudah menunggu calon pembeli yang janjian COD selama dua jam di antah-berantah.
Terlepas dari segala momen yang sudah ia saksikan dan kesukaran yang ia hadapi di dunia ini karena kecerobohan saya, magnet dompet Sophie Martin masih berfungsi dengan sangat baik. Saya sampai memastikan ulang dengan cara membuka tutup magnetnya berkali-kali agar yakin bahwa diri ini nggak lagi tipu-tipu.
Jahitannya pun masih kuat dan rapi tanpa ada bagian yang mengelupas. Meskipun dari segi warna sudah agak memudar, tetapi untuk bahan jelas masih aduhai kokohnya. Semoga saja sih saya bisa merayakan usia 20 tahun dompet ini kalau Indonesia belum bubar 2030 nanti.
Namun, jujur. Saya jadi khawatir. Berkaca dari Tupperware yang dulu hampir setiap hari saya datangi gudangnya, apakah keawetan produk Sophie Martin juga bisa berdampak terhadap nasib perusahaan? Semoga sih nggak yah. Jangan sampai deh. Lokal punya ini.
Penulis: Siti Atika Azzahrah
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Suami-Suami Takut Tupperware (Hilang).
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
