Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Soal Sampah, Pemkot Pekalongan Harusnya yang Ngasih Solusi, Bukan Warga!

Muhammad Arsyad oleh Muhammad Arsyad
6 April 2025
A A
Soal Sampah, Pemkot Pekalongan Harusnya yang Ngasih Solusi, Bukan Warga!

Soal Sampah, Pemkot Pekalongan Harusnya yang Ngasih Solusi, Bukan Warga!

Share on FacebookShare on Twitter

Setelah membaca tulisan Mas Rizky Prasetya berjudul Semua (Memang) Salah Pemerintah, dan coba memahami lebih dalam lagi esensi kritik, saya mantap untuk bilang bahwa warga Kota Pekalongan sudah berkali-kali ditipu oleh Pemkotnya sendiri.

Ditipu bukan hanya saat Pilkada, tapi juga soal pengelolaan kota. Saya melihat Pemkot Pekalongan dalam mengatasi sebuah masalah, acap kali selalu melimpahkan solusinya ke warga. Tak terkecuali masalah sampah.

Padahal masalah itu juga sebetulnya sebagian ulah dari ketidakbecusan Pemkot Pekalongan itu sendiri. Mengajak, eh nggak ding, malah cenderung menyuruh warga untuk menyelesaikan masalah kota saja sudah keliru. Ini untuk menyelesaikan masalah yang disebabkan oleh Pemkot itu sendiri. Helowwww???

Masalah sampah Kota Pekalongan

Beberapa hari sebelum Idulfitri kemarin, Pemkot memberlakukan darurat sampah di Kota Pekalongan, menyusul TPA Degayu yang mendadak ditutup oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Tentu kabar ini mengejutkan. Semua orang bereaksi. Media sosial ramai. Warga bingung, mau buang ke mana sampahnya kalau TPA ditutup?

Dari pelbagai respons, banyak pula yang memberi solusi. Setelah Pemkot memberlakukan darurat sampah, beberapa teman saya aktif mengunggah cara-cara mengelola sampah di media sosialnya. Kolom komentar juga penuh orang-orang Pekalongan yang membagikan pengalaman mereka mengelola sampah.

Ya, banyaknya respons tadi datang dari warga. Pemkot? Yah, Pemkot cuma bisa bilang Kota Pekalongan darurat sampah usai TPA Degayu ditutup oleh KLHK. Solusi dari Pemkot baru muncul setelah warga terus rewel di media sosial. Tapi saya tidak yakin itu adalah solusi.

Melalui semacam surat edaran, Wali Kota Pekalongan meminta, sekali lagi meminta, warga Pekalongan untuk mengelola sampah secara mandiri. Ha kalau cuma pernyataan normatif semacam itu, Anda jadi guru TK saja, Pak, jangan wali kota.

Baca Juga:

Orang Pekalongan yang Pulang dari Merantau Sering Bikin Komentar yang Nyebelin, kayak Nggak Kenal Kotanya Sama Sekali!

Pekalongan (Masih) Darurat Sampah: Ketika Tumpukan Sampah di Pinggir Jalan Menyapa Saya Saat Pulang ke Kampung Halaman

Pernyataan yang seperti titah kerajaan itu, malah seakan mengerdilkan warga yang sudah bisa mengelola sampahnya secara mandiri. Ha mbok kira warga Pekalongan itu nggak tahu bahwa sampah itu mestinya dikelola secara mandiri? Mikir!

Masalah yang dibuat Pemkot Pekalongan

Lucunya, dari persoalan sampah, kalau dicermati dan dibaca informasinya dengan cara saksama dan dalam tempo singkat, yang menjadi pemicu masalah itu ya, Pemkot Pekalongan itu sendiri.

Saya coba jelaskan. Masalah sampah membesar setelah KLHK menutup TPA Degayu. Salah satu penyebab TPA Degayu ditutup karena menerapkan sistem open dumping, yakni pembuangan sampah secara terbuka. Sistem ini melanggar regulasi KLHK, yakni UU Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah.

Ini mungkin karena Pemkot Pekalongan tak pernah bertanya pada Google, apa kepanjangan dari TPA. Padahal kalau sekali saja pernah tanya ke Google, mereka akan mendapat jawaban bahwa TPA adalah Tempat Pemrosesan Akhir bukan Tempat Pembuangan Akhir.

Kalaupun ada yang menyebutkan yang kedua, Pemkot mestinya paham bahwa dalam pengelolaan sampah kota, fungsi TPA bukan pembuangan sampah akhir tapi pemrosesan sampah akhir.

Maka sistem yang mestinya dipakai adalah sanitary landfill, yakni pengelolaan sampah dengan cara membuang dan menumpuknya di lokasi cekung, lalu memadatkannya, kemudian ditimbun dengan tanah. Sehingga sampah bisa kembali ke lingkungan dengan aman.

Pemkot Pekalongan belakangan malah seakan baru sadar kalau selama ini sistem di TPA Degayu keliru. Belakangan, setelah TPA Degayu akan dicabut izin operasinya setelah sempat diberi kesempatan untuk tetap dibuka hingga 8 April, dari pihak DLH Kota Pekalongan baru akan mengubah sistem open dumping ke control landfill, sistem yang mirip dengan sanitary landfill.

Baca halaman selanjutnya

Ngapain pilih wali kota kalau begini?

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 6 April 2025 oleh

Tags: masalah sampahpekalonganpemkot pekalongan
Muhammad Arsyad

Muhammad Arsyad

Warga pesisir Kota Pekalongan, penggemar Manchester United meski jarang menonton pertandingan. Gemar membaca buku, dan bisa disapa di Instagram @moeharsyadd.

ArtikelTerkait

Tanggul di Pesisir Pekalongan Bukti Mitigasi Bencana yang Ngaco Terminal Mojok

Tanggul di Pesisir Pekalongan: Bukti Mitigasi Bencana yang Ngaco

6 November 2022
Es Barteh Pekalongan, Takjil Pelepas Dahaga yang Segernya Bikin Pedagang dan Petani Bahagia. #TakjilanTerminal12

Es Barteh Pekalongan, Takjil Pelepas Dahaga yang Segernya Bikin Pedagang dan Petani Bahagia. #TakjilanTerminal12

18 April 2021
Tak Melulu Soal Batik, Pekalongan Harusnya Juga Bangga Memiliki Hutan Hujan Tropis Petungkriyono yang Menakjubkan

Tak Melulu Soal Batik, Pekalongan Harusnya Juga Bangga Memiliki Hutan Hujan Tropis Petungkriyono yang Menakjubkan

17 November 2023
Sauto dan Lengko, Kuliner yang Jadi Sengketa Antara Tegal dan Daerah Tetangga

Sauto dan Lengko, Kuliner yang Jadi Sengketa Antara Tegal dan Daerah Tetangga

17 Februari 2023
Alun-Alun Pekalongan: Tempat Terbaik untuk Belanja Baju Lebaran, tapi Syarat dan Ketentuan Berlaku

Orang Pekalongan yang Pulang dari Merantau Sering Bikin Komentar yang Nyebelin, kayak Nggak Kenal Kotanya Sama Sekali!

9 Januari 2026
Kalau Mampir Pekalongan, Gasss Cobain Lima Kuliner Khas Ini!

Kalau Mampir Pekalongan, Gasss Cobain Lima Kuliner Khas Ini!

4 Desember 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Realitas Mahasiswa UNNES Gunungpati: Ganti Kampas Rem yang Mengacaukan Keuangan, Bukan Kebutuhan Kampus Mojok.co

Rajin Ganti Kampas Rem, Kebiasaan Baru yang (Terpaksa) Tumbuh Pas Jadi Mahasiswa UNNES Gunungpati

20 Februari 2026
4 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lazim dan Bikin Bingung Pendatang Mojok.co

4 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lazim dan Bikin Bingung Pendatang

20 Februari 2026
Turunan Muria: Jalur Tengkorak yang Semua Orang Tahu, tapi Seolah Dibiarkan Merenggut Korban

Turunan Muria: Jalur Tengkorak yang Semua Orang Tahu, tapi Seolah Dibiarkan Merenggut Korban

19 Februari 2026
Alas Purwo Banyuwangi Itu Nggak Semenyeramkan Itu kok, Kalian Aja yang Lebay alas roban

Alas Roban Terkenal Angker, tapi Alas Purwo Lebih Misterius dan Mencekam

19 Februari 2026
Ilustrasi Bus Bagong Berisi Keresahan, Jawaban dari Derita Penumpang (Unsplashj)

Di Jalur Ambulu-Surabaya, Bus Bagong Mengakhiri Penderitaan Era Bus Berkarat dan Menyedihkan: Ia Jawaban dari Setiap Keresahan

20 Februari 2026
5 Masjid Unik Jogja yang Patut Dikunjungi biar Nggak ke Masjid Jogokariyan Melulu Mojok.co

5 Masjid Unik Jogja yang Patut Dikunjungi biar Nggak ke Masjid Jogokariyan Melulu

15 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Omong Kosong Menua Tenang di Desa: Menjadi Ortu di Desa Tak Cuma Dituntut Warisan, Harus Pikul Beban Berlipat dan Bertubi-tubi Tanpa Henti
  • WNI Lebih Sejahtera Ekonomi dan Mental di Malaysia tapi Susah Lepas Paspor Indonesia, Sial!
  • 3 Dosa Indomaret yang Membuat Pembeli Kecewa Serta Tak Berdaya, tapi Tak Bisa Berbuat Apa-apa karena Terpaksa
  • Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang
  • Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa
  • Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.