Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

Soal Dermawan, Kita Juga Tumpul ke Atas, Tajam ke Bawah

Intan Kirana oleh Intan Kirana
1 Juli 2019
A A
dermawan

dermawan

Share on FacebookShare on Twitter

Orang-orang selalu bilang bahwa hukum itu tumpul ke atas, tajam ke bawah. Namun sadarkah kalian semua bahwa perkara dermawan, kita ini juga tumpul ke atas dan tajam ke bawah? Ah, sungguh sebuah fakta yang akan membuat kalian merasa tak terima, bukan?

Jadi begini. Seberapa sering sih, kita itu merasa kesal sama pengemis? Sama pengamen? Bahkan ada banyak orang yang mengkampanyekan “jangan beri uang ke pengemis”. Alasannya banyak. Yang paling sering diucapkan adalah yang satu ini: menciptakan mental pemalas.

Iya, kampanye tersebut tidak sepenuhnya salah, kok. Nyatanya memang banyak pengemis yang menipu. Menampakkan wajah atau penampilan yang penuh derita, tetapi sebenarnya itu adalah kedok mereka supaya mendapatkan belas kasihan dari kita, utamanya orang yang memang dermawan. Menyebalkan? Iya, jelas.

Namun, sadarkah kalian bahwa pengemis itu bukan cuma mereka? Begini, lho. Tentu kalian ingat bukan, dengan permintaan-permintaan para calon legislatif dan calon pemimpin setiap berapa tahun sekali itu? Ingat tidak, bagaimana mereka berakting? Ingat juga tidak, cara mereka mengemis?

Yang pertama, mari bahas dulu soal cara berakting untuk menyentuh hati para dermawan yang dilakukan oleh orang-orang atas ini. Bandingkan sama pengemis di jalan. Banyak, kan, pengemis di jalan yang pura-pura lumpuh atau kena penyakit?

Rerus, coba tanyakan pada diri kalian sendiri. Berapa banyak, calon legislatif atau pemimpin yang pura-pura sederhana, pura-pura alim, pura-pura kayak rakyat kecil? Hmm, ya memang sih kepura-puraan mereka lebih profesional. Kalau mau dibandingkan, sama kayak ayam Kentaki Fried Chicken di gerobak (iya, Kentaki), dengan Kentucky Fried Chicken alias KFC yang asli. Beda bahan pembuat, lemak jenuhnya sama.

Terus, bahas lagi yuk soal cara mereka mengemis. Bagaimana mereka memohon-mohon pada kalian untuk menyisihkan waktu buat memilih mereka. Nggak bisa memilih karena masalah administrasi? Ayo diurus, please, kalian warga negara yang baik, kan?

Kemudian, banyak orang yang merasa bersalah kalau tidak menuruti permintaan mereka. Merasa kalau mereka tidak sempurna dalam memberikan yang terbaik. Sementara calon-calon ini? Ya sedang menggodok cara mengemis yang baru.

Baca Juga:

Makam Sunan Drajat Lamongan, Wisata Religi yang Tergerus Sakralitasnya Gara-gara Banyak Pungutan dan Pengemis Nakal

Alun-alun Kidul Jogja Penuh Pengemis dan Pengamen yang Kadang Agresif, Masalah yang Menggerogoti Pariwisata Jogja

Jadi, buat apa kita masih berkampanye untuk tidak memberi uang pada pengemis, kalau kita saja masih mati-matian membela para figur politik yang juga berperilaku sama? Mengapa kita tidak bisa adil sejak awal? Ataukah, kita tidak sadar bahwa kita tengah dibohongi?

Ah ya, kita mungkin tidak sadar bahwa kita dibohongi, atau bahkan, kita merasa bahwa kebohongan para petinggi adalah hal yang wajar. “Mereka politikus, dan cara ini merupakan cara politis. Jangan naif, deh, wajar kok!”. Lha, kenapa kalian tak bisa menerapkan hal yang sama saat sedang memberi kepada pengemis?

Mengapa kita tak bisa ikhlas saat memberi pada mereka, layaknya keikhlasan yang kita miliki saat berada di dalam bilik suara? Mengapa kita harus merasa tahu akan dikemanakan uang itu, dibuat ngelem atau untuk sekolah betulan? Memangnya, suara yang kita beri itu benar-benar dipakai sebaik mungkin?

Nyatanya, banyak figur politik yang bohong setelah mendapatkan banyak suara. Ya tidur saat rapat. Ya nilep anggaran. Ya bohong soal janji. Yang ketiga ini paling menyebalkan. Ini tarafnya sudah melebihi para pengemis yang pura-pura buntung di kaki. Cuma, karena figur-figur ini klimis, pintar bicara, dan punya relasi kuasa, kita tidak sadar saja sih, kalau kita diporotin.

Padahal sih, menurut saya, masih lebih baik orang yang pura-pura untuk bertahan hidup, daripada pura-pura untuk mempertahankan kekuasaan di suatu negeri. Yang kedua ini jelas menyebalkan, rakus, kemaruk, kurang ajar, drakula…apa lagi ya? Saya tidak tahu harus berkata apa lagi, ya karena sudah habis suara saya dipakai di bilik suara.

Akhir kata, saya tidak mau bilang bahwa kita sebaiknya golput, skeptis, sampai tidak mau memberikan suara di pemilu-pemilu mendatang atau mendukung pemerintah, tidak. Saya hanya berpikir, bukankah sejatinya kita bisa adil kepada semua orang saat menjadi dermawan? Misalnya, dengan tidak ngefans berlebihan terhadap figur politik tertentu, dan tidak mudah marah saat sedang makan dan diganggu pengamen.

Sungguh, orasi politik di televisi itu sama mengganggunya kok, sama pengamen yang menyanyikan lagu Armada dengan nada fals, lirik tidak utuh, dan ngawur pula penempatannya.

Terakhir diperbarui pada 20 Januari 2022 oleh

Tags: dermawanmasalah sosialpengemis
Intan Kirana

Intan Kirana

Seorang manusia yang ingin berpikir secara biasa-biasa saja agar lebih bahagia.

ArtikelTerkait

Pengalaman Buruk Bertemu Pengemis di Jalanan: Nggak Dikasih Uang, Kendaraan Saya Digores Paku

Pengalaman Buruk Bertemu Pengemis di Jalanan: Nggak Dikasih Uang, Kendaraan Saya Digores Paku

12 September 2023
Makam Sunan Drajat Lamongan, Wisata Religi yang Tergerus Sakralitasnya Gara-gara Banyak Pungutan dan Pengemis Nakal

Makam Sunan Drajat Lamongan, Wisata Religi yang Tergerus Sakralitasnya Gara-gara Banyak Pungutan dan Pengemis Nakal

29 September 2024

Sebaiknya Baim Wong Pensiun daripada Terlihat Goblok Memahami Apa Itu Kerja

12 Oktober 2021
Pengemis di Jepang: Sudah Jatuh Tertimpa Pidana

Pengemis di Jepang: Sudah Jatuh Tertimpa Pidana

9 Juni 2022
Masih Muda malah Pilih Jadi Pengemis

Masih Muda Malah Pilih Jadi Pengemis, Terlalu

11 Maret 2020
ojek pangkalan

Masih Ada Larangan Ojol Membawa Penumpang ke Pemukiman Oleh Ojek Pangkalan: Rezeki Nggak Akan Tertukar, Bang.

12 September 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi

6 Februari 2026
Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat Mojok.co

Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat

2 Februari 2026
Di Sumenep, Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

Di Sumenep Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

4 Februari 2026
5 Profesi yang Kelihatan Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu (Unsplash)

5 Profesi yang Kelihatannya Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu

4 Februari 2026
5 Bentuk Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang  MOjok.co

5 Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang 

2 Februari 2026
Banting Setir dari Jurusan Manajemen Jadi Guru PAUD, Dianggap Aneh dan Nggak Punya Masa Depan Mojok.co jurusan pgpaud

Jurusan PGPAUD, Jurusan yang Sering Dikira Tidak Punya Masa Depan

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.