Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Media Sosial

Skandal Kim Seon Ho dan Sadisnya Cancel Culture di Korea Selatan

Maria Monasias Nataliani oleh Maria Monasias Nataliani
21 Oktober 2021
A A
Skandal Kim Seon Ho dan Kenyataan Cancel Culture dalam Budaya Populer Korea Selatan terminal mojok

Skandal Kim Seon Ho dan Kenyataan Cancel Culture dalam Budaya Populer Korea Selatan terminal mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Sepertinya kini kita nggak asing lagi dengan istilah cancel culture. Mengutip Mbak Ajeng Rizka dalam tulisannya, cancel culture adalah budaya “membuang” seseorang dari citra baiknya di mata publik. Mengacu pada cancel culture pula, Reynold Siburian dalam artikelnya juga menjelaskan bahwa ketika figur publik melakukan kesalahan yang nggak sesuai sama maunya netizen, maka sudah sepantasnyalah netizen menjatuhkan publik figur itu.

Cancel culture biasanya menargetkan tokoh, brand, perusahaan, ataupun kelompok populer maupun berpengaruh. Mari kita tengok ke Korea Selatan. Baru-baru ini, aktor yang berada pada puncak popularitasnya, Kim Seon Ho, terjerat skandal aborsi. Yang terbaru, Kim Seon Ho telah mengakui bahwa aktor K yang dimaksud adalah memang benar dirinya. Hal ini diawali dari seorang perempuan berinisial A yang secara anonim menuliskan pengalaman pemaksaan aborsi yang dilakukan aktor berinisial “K” di situs Nate Pann.

ADVERTISEMENT

Sebelum ada pengakuan resmi, opini netizen sudah tergiring pada nama Kim Seon Ho setelah salah satu media lokal Korsel menyertakan foto blur yang diduga sosok Kim Seon Ho. Juga setelahnya salah seorang reporter-slash-YouTuber bernama Lee Jin Ho terang-terangan mengatakan aktor K adalah Kim Seon Ho.

Meski Kim Seon Ho maupun agensinya pada saat itu belum memberikan pernyataan resmi, bola panas telah bergulir. Netizen ramai berkomentar. Berita pembatalan brand ternama dengan Kim Seon Ho mulai beredar.

Semuanya terjadi begitu cepat. Respons terhadap skandal Kim Seon Ho ini hanyalah satu dari banyaknya cancel culture yang terjadi di Korea Selatan.

#1 Banyak selebriti menjadi target cancel culture

Seolah sudah jadi rahasia publik, menjadi selebriti di Korea Selatan sama sekali nggak mudah. Banyak selebriti dengan dosa-dosa masa lalu tersandung cancel culture oleh netizen. Makanya, nggak salah kalau muncul anggapan bahwa seleb Hallyu mesti punya masa lalu yang bersih tanpa cela.

Sebelum Kim Seon Ho, sudah tampil duluan nama-nama yang terpaksa membiarkan kariernya terkubur, misalnya Park Hye Soo dan Kim Ji Soo yang tersandung dugaan bullying. Kita juga pastinya nggak lupa sama masalahnya Seo Ye Ji yang posesif dan kasar. Lalu ada Seungri yang terkena skandal Burning Sun yang sempat menggemparkan kala itu.

Sesukses apa pun si seleb, cancel culture dapat dengan mudah membalikkan keadaan. Mulai dari terempas perannya di drakor yang sedang on-going, pembatalan kerja sama oleh brand, hingga keputusan mundur dari dunia entertainment Korea. Mau karier bangkit lagi? Kalau kata netizen, sih, pikir-pikir dulu.

Baca Juga:

Pengalaman membangun rumah di desa, mahal di mental karena ada saja konfliknya 

3 lomba agustusan yang sebaiknya ditiadakan karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya

Status mereka sebagai selebriti tentu bakal menarik perhatian publik. Seorang profesor sosiologi bernama Song Jae Ryong menjelaskan bahwa rakyat Korsel punya kecenderungan untuk lebih memahami dan menghargai orang lain yang punya persamaan dengan mereka. Selebriti yang tentu masuk pada kelompok yang “berbeda” membuat kebanyakan penduduk menjadi sulit memaklumi jika mereka melanggar moral atau etika tertentu.

#2 Penghakiman anonim bernama media sosial

Keberadaan media sosial juga jadi faktor yang mempercepat penyebaran rumor dan skandal. Selain itu, penilaian dan kepercayaan publik Korsel tergolong penting untuk kemajuan produk dan brand. Maka ketika tersebar rumor dan skandal, banyak brand mengambil tindakan cepat untuk berjarak dengan seleb yang bermasalah. Intinya, mereka nggak ingin terseret dalam opini negatif netizen.

Menurut kritikus budaya Korea, netizen cenderung merasa bahwa hancurnya karier seleb yang bermasalah adalah wajar. Bahkan keberhasilan opini mereka yang dapat menurunkan si seleb dari sebuah program TV nggak jarang menimbulkan kepuasan.

#3 Faktor budaya setempat

Berbeda dengan Amerika yang cenderung menganut paham individualisme, kehidupan rakyat Korea Selatan sangat dipengaruhi oleh filosofi Konfusianisme. Prinsip ini mengedepankan seseorang untuk berperilaku baik, bersikap adil, pokoknya hidupnya dipenuhi kebajikan.

ADVERTISEMENT

Selain berakar dari ajaran Konfusianisme, penduduk Korea Selatan juga mengenal istilah “kibun”, sebuah konsep meresapi tiap aspek kehidupan Korea yang tergambar dari wajah, suasana hati, pikiran, dan perasaan. Dengan konsep ini, penduduk mengharapkan semua orang termasuk selebritis patuh pada norma sosial. Jadi kalau ada seleb terkena skandal, sudah selayaknya dia menerima konsekuensi, termasuk sanksi sosial.

Sebuah narasi tentang kesempurnaan seorang selebritis memang nggak akan pernah ada habisnya. Meski skandal yang dijadikan alasan untuk terjadinya cancel culture dapat dijadikan pelajaran berharga, nggak jarang kita masih saja menyamaratakan seluruh skandal atau masalah yang ada. Kita tahu, nggak ada yang harus memaklumi perbuatan kriminal atau kesalahan serius di masa lalu seseorang, namun kita juga tahu kalau cancel culture yang kian kasar dan serampangan punya kemungkinan juga jadi pedang bermata dua yang memengaruhi kehidupan sosial kita di masa mendatang.

Sumber Gambar: YouTube The Swoon

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 November 2025 oleh

Tags: cancel cultureKim Seon-hoKorea Selatanpilihan redaksiskandal artis
Maria Monasias Nataliani

Maria Monasias Nataliani

Part-time writer. Full-time doctor. Menggemari Haruki Murakami, Park Chan Wook, dan iced-Americano.

ArtikelTerkait

3 Resep Rahasia Kesuksesan Yakult Bertahan di Pasar Indonesia Terminal Mojok.co

3 Resep Rahasia Kesuksesan Yakult Bertahan di Pasar Indonesia

24 Mei 2022
8 Nama Desa di Banyuwangi yang Unik dan Nyeleneh Mojok.co

8 Nama Desa di Banyuwangi yang Unik dan Nyeleneh

22 Februari 2025
3 Hal Ini Seharusnya Ada di Bukittinggi, Hidup Pasti Akan Lebih Nyaman Mojok.co

3 Hal Ini Seharusnya Ada di Bukittinggi, Hidup Pasti Akan Lebih Nyaman

6 Januari 2024
Sebagai Orang Magelang, Saya Menuntut Adanya Malioboro di Kota Ini Terminal Mojok.co

Sebagai Orang Magelang, Saya Menuntut Adanya Malioboro di Kota Ini

16 Mei 2022
Pengalaman Naik Bus Bukittinggi-Jakarta Buktikan Hanya 3 Kriteria Ini yang Cocok Jadi Penumpangnya terminal mojok

Pengalaman Naik Bus Bukittinggi-Jakarta Buktikan Hanya 3 Kriteria Ini yang Cocok Jadi Penumpangnya

28 Oktober 2021
Alun-alun Purwokerto Jadi Semakin Cantik Setelah Renovasi, tapi Tetap Problematik

Alun-alun Purwokerto Jadi Semakin Cantik Setelah Renovasi, tapi Tetap Problematik

2 April 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 jurusan kuliah S2 yang sebaiknya diambil di Indonesia saja Mojok.co

5 jurusan kuliah S2 yang sebaiknya diambil di Indonesia aja, nggak usah jauh-jauh ke luar negeri

10 Agustus 2026
Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Malah Paling Jarang Srawung Mojok.co

Ra srawung rabimu suwung adalah jokes tongkrongan yang sudah tidak relevan dan sebaiknya tidak usah disampaikan

16 Agustus 2026
Kalimat “pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar” itu omong kosong, saya sudah membuktikannya Mojok.co

Kalimat “pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar” itu omong kosong, saya sudah membuktikannya

15 Agustus 2026
Bulan Agustus kebanyakan agenda, pekerja jadi kewalahan bagi waktu antara kerja dan kegiatan agustusan Terminal

Bulan Agustus kebanyakan agenda, pekerja jadi kewalahan bagi waktu antara kerja dan kegiatan agustusan

15 Agustus 2026
Jatinom, tempat rahasia yang bikin kamu jatuh cinta berkali-kali (Mojok.co/Audina Safira)

Jatinom, sebuah tempat rahasia yang akan membuatmu jatuh cinta berkali-kali sama Klaten

14 Agustus 2026
Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju langsung dicap nakal (Unsplash)

Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju sedikit saja langsung dicap nakal

15 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.