Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Sisi gelap tren gaya hidup minimalis: kami nggak belanja bukan karena aesthetic, tapi memang nggak ada duit

Novida Aristiyani oleh Novida Aristiyani
11 Agustus 2026
A A
Sisi gelap tren gaya hidup minimalis: kami nggak belanja bukan karena aesthetic, tapi memang nggak ada duit

Sisi gelap tren gaya hidup minimalis: kami nggak belanja bukan karena aesthetic, tapi memang nggak ada duit (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Belakangan ini, fyp TikTok dan reels Instagram saya dipenuhi oleh konten-konten aesthetic bertema “Gaya Hidup Minimalis”. Isinya visual kamar serba putih, lemari baju yang isinya cuma tiga potong kaos polos, dan meja kerja yang bersih tanpa kabel berserakan. Konon, gaya hidup ini bikin jiwa lebih tenang karena kita tidak diperbudak oleh barang-barang duniawi.

Melihat fenomena itu, saya cuma bisa tersenyum kecut sambil menatap isi dompet.

ADVERTISEMENT

Setelah saya renungkan dalam-dalam, ada salah paham yang besar di sini. Banyak orang mengira anak muda zaman sekarang mulai sadar lingkungan dan menganut paham minimalis. Padahal realitasnya jauh lebih tragis: kami terpaksa minimalis karena isi rekening kami yang minimalis!

Coba kita bedah satu per satu aturan gaya hidup minimalis ini, dan mari kita cocokkan dengan realitas kemiskinan struktural yang kami alami.

Ya karena punyanya itu doang…

First, soal isi lemari baju. Influencer gaya hidup minimalis bilang, “Saya cuma punya 5 baju utama untuk mengurangi fatigue saat memilih pakaian.” Keren, ya? Terkesan seperti Steve Jobs. Tapi kalau buat kami, isi lemari yang cuma itu-itu saja bukan karena pengen efisiensi waktu, tapi karena jemuran kemarin belum kering!

Kalau dipaksa beli baju baru, anggaran buat beli beras taruhannya. Jadi, mohon maaf, kami memakai baju yang sama tiga hari berturut-turut itu bukan karena konsep capsule wardrobe, tapi karena deterjen di kosan lagi habis.

Second, soal dekorasi ruangan. Kamar kaum gaya hidup minimalis minimalis sejati biasanya minim perabotan. Cuma ada kasur lantai, satu tanaman hias, dan satu meja kecil. Estetik sekali, bukan? Nah, kamar kostan saya juga persis seperti itu. Nggak ada lemari besar, nggak ada TV, nggak ada sofa empuk. Tapi itu terjadi bukan karena saya sedang melakukan decluttering atau membuang barang yang tidak memicu kebahagiaan (spark joy). Alasannya cuma satu: kamar kosan saya ukurannya 2×3 meter! Kalau saya nekat beli lemari dua pintu, saya tidurnya harus berdiri di pojokan.

Gaya hidup minimalis adalah sebuah kemewahan

Gaya hidup minimalis yang asli itu sebenarnya adalah sebuah kemewahan (privilese). Kenapa? Karena orang kaya punya pilihan untuk membeli sedikit barang berkualitas tinggi yang mahal. Mereka beli satu kaos polos seharga satu juta yang awet lima tahun. Sedangkan kami?

Baca Juga:

Susahnya Menerapkan Kehidupan Minimalis di Jawa

Sak Madya, Gaya Hidup Minimalis Versi Kearifan Lokal Masyarakat Jawa

Kami beli kaos tiga puluh ribuan di pasar malam yang kalau dicuci dua kali langsung melar mirip kain pel. Mau tidak mau, kami harus beli lagi. Jadi, kemiskinan justru membuat kami gagal jadi minimalis karena barang murah cenderung cepat rusak.

Jadi, untuk para influencer di luar sana, berhenti melabeli gaya hidup hemat terpaksa kami dengan istilah aesthetic yang muluk-muluk. Kami tidak sedang mengosongkan pikiran atau mencari kedamaian batin lewat ruangan yang sepi barang. Kami cuma sedang bertahan hidup di akhir bulan.

Bagi saya dan jutaan sobat miskin lainnya, gaya hidup minimalis bukanlah sebuah pilihan spiritual, melainkan sebuah adaptasi taktis terhadap tanggal tua. Jadi, kalau melihat barang-barang saya sedikit, tolong jangan puji saya bijaksana. Doakan saja semoga bulan depan saya bisa jadi kaum maksimalis—yang bisa belanja tanpa harus kalkulatoran di depan kasir.

Penulis: Novida Aristiyani
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sulitnya Menerapkan Gaya Hidup Minimalis

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2026 oleh

Tags: ciri gaya hidup minimalisgaya hidup minimalissteve jobs
Novida Aristiyani

Novida Aristiyani

Kreator tuli yang sedang berjuang keras untuk hidup bebas mandiri. Saat ini aktif berburu cuan lewat dunia digital dan internet.

ArtikelTerkait

Sak Madya, Gaya Hidup Minimalis Versi Kearifan Lokal Masyarakat Jawa terminal mojok.co

Sak Madya, Gaya Hidup Minimalis Versi Kearifan Lokal Masyarakat Jawa

22 September 2021
Susahnya Menerapkan Kehidupan Minimalis di Jawa

Susahnya Menerapkan Kehidupan Minimalis di Jawa

25 Juli 2023
Kalau Punya Gaya Hidup Minimalis Terasa Susah, Jangan-jangan Konsepmu Salah Kaprah terminl mojok.co

Kalau Punya Gaya Hidup Minimalis Terasa Susah, Jangan-jangan Konsepmu Salah Kaprah

7 Februari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Kuliner Madura selain Sate yang Layak Dikenal Lebih Banyak Orang Mojok.co

Jangan cuma mengingat stereotip negatifnya, nyatanya orang Madura itu jago banget masak

10 Agustus 2026
Nasib Stasiun Tegalluar, stasiun megah, tapi jauh dari peradaban, kalah ramai dari Padalarang

Nasib Stasiun Tegalluar, stasiun megah, tapi jauh dari peradaban, kalah ramai dari Padalarang

5 Agustus 2026
Anak terakhir perempuan sering dikira manja, padahal diam-diam menyimpan keresahan yang tak kalah besar tentang keluarga Mojok.co

Anak terakhir perempuan sering dikira manja, padahal diam-diam punya keresahan yang tak kalah besar tentang keluarga

5 Agustus 2026
Gudeg Sagan duta gudeg Jogja untuk lidah-lidah yang skeptis (Wikimedia Commons)

Gudeg Sagan adalah duta gudeg Jogja untuk lidah-lidah yang skeptis

11 Agustus 2026
Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

6 Agustus 2026
Sadar nggak, hampir tiap stasiun punya outlet Roti O, ternyata ini alasannya Mojok.co

Sadar nggak, hampir tiap stasiun kereta punya outlet Roti O, ternyata ini alasannya

5 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.