Sisi Gelap Menjadi Mahasiswa Timur Tengah: Dianggap Manusia Suci, tapi Jatuhnya Menderita karena Cuma Jadi Simbol

Sisi Gelap Mahasiswa Timur Tengah- Stempel Suci yang Menyiksa (Unsplash)

Sisi Gelap Mahasiswa Timur Tengah- Stempel Suci yang Menyiksa (Unsplash)

Di lingkungan saya, mendapatkan status mahasiswa Timur Tengah rasanya seperti mendapat kenaikan status sosial. Terutama jika kamu belajar di negara yang memiliki kisah panjang dan sering menelurkan tokoh-tokoh terkenal serta berpengaruh. 

Maka otomatis, sekampung merasa bangga, orang tuamu bangga, dan mendapat perlakuan yang istimewa dari tetangga. Kebetulan, saya beruntung pernah mendapatkan kemewahan menjadi mahasiswa Timur Tengah. 

Ya, saya mengalami hal-hal di atas. Dan saya tidak pernah membayangkan bisa mengunjungi tanah masyhur sebagai “transit “ para nabi untuk menimba ilmu. 

Namun, keistimewaan ini bukan datang tanpa konsekuensi. Masyarakat menstigma siapa saja yang menjadi mahasiswa Timur Tengah punya standar tersendiri. Alih-alih memperhatikan apa yang kami pelajari, masyarakat langsung menilai “Sudah sealim apa?”

Identitas yang saya punya sekarang hanya dibatasi pada tujuan tempat saya belajar, bukan apa yang saya pelajari. Sejak saat itu, saya merasa berhenti menjadi individu dan berubah menjadi sebatas simbol. Dari situlah tulisan ini bermula; dari kelelahan menjadi simbol, padahal saya hanya pelajar biasa.

Baca juga Mengarungi Kehidupan Mahasiswa di Madinah Bersama Banaweer Made In China

Stigma melelahkan menyandang status mahasiswa Timur Tengah

Anggapan yang tersebar memang beralasan. Ia tak mungkin lahir dari ruang fana. Masalahnya, kadang anggapan ini terlalu menyederhanakan posisi mahasiswa Timur Tengah.

Misalnya seperti, anggapan bahwa mahasiswa Timur Tengah pasti bisa Bahasa Arab. anggapan ini, menurut saya, masih wajar. 

“Ketika belajar di Indonesia pasti menggunakan Bahasa Indonesia, ketika di daerah Arab pasti menggunakan Bahasa Arab.” Ungkapan ini tepat, dan saya tidak menyalahkan. 

Namun, yang perlu saya luruskan di sini adalah bahwa Bahasa Arab memiliki banyak dialek. Dan sialnya lagi, yang kita pelajari di Indonesia seringnya berbeda dengan yang terjadi di lapangan. Seperti yang saya alami ketika pertama kali menginjakkan kaki di Arab dan resmi berstatus mahasiswa Timur Tengah. 

Suatu ketika saya, ingin membeli suatu hal di semacam “toko kelontong” di sini. Setelah mengutarakan maksud, ternyata tidak ada yang memahami kalimat saya.

Sampai saya perlu menunjukkan gambar agar si penjaga toko bisa memahami maksud saya. Ini seakan menyadarkan saya bahwa, Bahasa Arab tidak sesederhana itu. Jangan beranggapan mentang-mentang kami mahasiswa Timur Tengah langsung bisa akrab dengan orang Arab random yang di jalan.

Menjalar ke gaya hidup

Stigma lain yang menempel ke mahasiswa Timur Tengah adalah gaya hidup. Banyak yang menganggap kami terlalu kaku atau konservatif seperti di beberapa novel populer karangan El-Shirazy. Padahal, yang terjadi mungkin sebaliknya. 

Kami hanya pemuda biasa yang juga suka bersenang-senang layaknya pemuda pada umumnya. Manusia ajaib yang hidupnya seperti yang terdeskripsikan memang ada wujudnya, namun sisanya juga menjalani masa muda seperti biasa. 

Mahasiswa Timur Tengah dari Indonesia juga nongkrong di kafe, nonton pertunjukan musik, dan kegemaran pemuda lainnya. Mungkin masih ada yang beranggapan bahwa orang-orang seperti kami tidak sepantasnya melakukan hal demikian, dan kami paham kenapa anggapan tersebut muncul. 

Kami cuma bisa mengatakan kami hanya pemuda pada umumnya yang juga perlu melepas penat. Selama tidak melewati norma tertentu, kami tidak merasa melakukan kesalahan apa-apa.

Mahasiswa Timur Tengah kalau lulus pasti jadi pendakwah

Stigma yang ini paling bikin saya greget, yaitu mahasiswa Timur Tengah, kalau lulus, pasti paham agama dan nanti jadi pendakwah. Ini fatal menurut saya. 

Memang, nabi pernah tinggal di tempat kami belajar. Berdiri juga lembaga pendidikan agama yang tersohor. Namun, bukan berarti siapa saja yang belajar di sini otomatis punya ilmu agama yang mumpuni. 

Sebagian dari mahasiswa Timur Tengah juga mempelajari ilmu pasti seperti di tempat lainnya di penjuru dunia ini. Bagaimana bisa seseorang yang bidang studinya terfokus di ilmu akuntansi atau teknik sipil bisa menguasai hukum waris atau perdebatan mengenai tata cara ibadah. Ini absurd.

Baca juga Culture Shock Orang Jawa ketika Pertama Kali ke Mekkah dan Madinah

Mahasiswa Timur Tengah mendapat stempel “manusia suci”

Sayangnya, berbagai anggapan ini tidak berhenti di pikiran saja. Kami, mahasiswa Timur Tengah, harus memikulnya dan semua ini menjadi beban. Jujur, saya lelah kerap ditanya tentang hukum ini dan itu, sedangkan saya bahkan tidak menguasainya. 

Belum stempel “manusia suci “ yang juga ikut menempel di jidat mahasiswa Timur Tengah. Sementara kami juga manusia biasa yang kerap lalai dan lelah. 

Orang lain mungkin boleh salah sebagai individu, tetapi kami salah sebagai simbol. Yang diuji bukan lagi apa yang kami pelajari, melainkan seberapa sempurna sikap kami. Seolah, tempat kami belajar adalah pabrik kesalehan instan, bukan tempat berpikir.

Sebenarnya saya paham. Anggapan yang kadung tersebar itu tidak lahir dari ketiadaan. Masyarakat mengamini itu karena mereka membutuhkan sosok rujukan, terutama soal agama, dan mahasiswa Timur Tengah dianggap paling pantas mengisi peran itu. 

Pada intinya, mahasiswa Timur Tengah juga manusia biasa. Kami memang belajar di tanah nabi, tapi jangan berharap kami menjadi bak nabi. 

Memang ada yang belajar agama, ada juga yang belajar bahasa, bahkan ada pula yang sekadar belajar bertahan hidup. Maka wajar jika tak semua siap menjadi figur rujukan, terlebih simbol kesalehan. 

Barangkali yang perlu diluruskan bukan hanya anggapan tentang kami. Kita juga perlu menyudahi kebiasaan menaruh beban berlebihan kepada orang-orang yang hanya belajar dan mencari jati diri.

Penulis: Muhammad Iqbal Fawwazi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Jadi Mahasiswa Indonesia di Arab Saudi Berarti Siap Ditanya Harga Kurma sampai Letak Istana Dajjal

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version