Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Sisi Gelap Dosen Swasta yang Jarang Dibicarakan Orang

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
12 Januari 2026
A A
Sisi Gelap Dosen Swasta yang Jarang Dibicarakan Orang

Sisi Gelap Dosen Swasta yang Jarang Dibicarakan Orang (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Menjadi dosen di Indonesia sepertinya bukan lagi menjadi cita-cita yang menjanjikan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Hal itu dikarenakan nasib dan kesejahteraan dosen di negeri ini memang memprihatinkan. Anggapan itu saya yakini dan menguat setelah mendengar beberapa kisah rekan, senior, dan kenalan yang benar-benar merasakan beratnya menjadi seorang tenaga pendidik di perguruan tinggi, terlebih bila statusnya dosen di perguruan tinggi swasta.

Mereka hidup sebagai dosen tanpa jabatan yang mentereng. Mereka mengajar, membimbing, menilai, menulis, menyusun silabus, dan harus menerima menjalani karier dengan status kontrak yang diperpanjang setahun sekali. Inilah yang membuat mereka terjebak dalam ketidakjelasan status kepegawaian.

Status mereka yang kontrak ini memang datang dari SK Yayasan, sehingga kontrak tahunan menjadi penentu nasib mereka. Bahkan di awal masa karier, ada yang mengalami proses perpanjang yang baru ditawarkan di ujung semester. Tentu situasi itu bukan karena mereka punya kinerja yang buruk, tapi karena begitulah sistemnya berjalan.

Nasib baik kalau dosen tersebut sudah dikontrak berdasarkan SK yayasan. Kenalan saya yang lain, harus bekerja tanpa SK dengan status yang nggak jelas soal durasi kerja. Lebih parahnya lagi, dia bekerja dengan atas nama dosen lain. Sehingga penilaian kinerjanya tentu masuk ke dosen tetap di kampus tersebut.

Bila dibandingkan dengan dosen PNS, perbedaan paling nyata bukan tentang beban kerja atau kapasitas akademik. Keduanya sama-sama dirasakan baik dosen swasta maupun PNS. Yang terasa berbeda adalah mengenai kepastian karier itu sendiri, Mereka bekerja dituntut profesional, tapi di sisi lain mereka menjalani karier dengan rasa khawatir karena bisa diganti kapan saja.

Situasinya bisa lebih sulit

Di kampus swasta yang masih merintis, situasinya lebih sulit. Akademik tidak bisa serta merta berpegang pada idealisme ilmiah. Kampus tersebut harus berdamai dengan pasar. Sebab, bagi mereka mahasiswa adalah subjek pendidikan dan sumber pendapatan utama.

Akibatnya, dosen swasta harus berperan sebagai penjaga kepuasan. Artinya apa? Yah dosen jangan terlalu kaku, nilai jangan pelit, dan harus bisa menciptakan suasana kelas yang menyenangkan. Tujuannya supaya citra kampus jadi bagus dan menarik mahasiswa lebih banyak di tahun ajaran baru.

Cara ini menjadi salah satu yang dipilih karena menawarkan hasil instan untuk menggaet mahasiswa baru ketimbang melalui jalur peningkatan akademik yang prosesnya bisa panjang. Dan tentu membutuhkan banyak biaya.

Baca Juga:

Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot

Setelah Tahu Gaji HSE, Saya Langsung Mengubur Mimpi Saya Jadi Dosen. Peduli Setan pada Ilmu Pengetahuan, Dompet Tebal Adalah Kunci!

Dosen swasta berjuang sendirian

Tentu cerita dari kawan-senior saya bukan berarti menganggap semua kampus swasta seperti itu. Tentu masih ada (dan banyak) kampus swasta berkualitas yang punya idealisme tinggi dan tata kelola dengan standar akademik yang bagus. Tetapi kampus-kampus tersebut sangat sulit dijangkau. Mereka mematok standar yang begitu tinggi. Paling mudah ya lulus luar negeri atau sedang menempuh program PhD.

Akibatnya, kawan-kawan senior saya yang menjadi dosen mencoba peruntungan di kampus swasta kasta B dan C sebagai batu loncatan dan meneguk banyak-banyak pengalaman. Meski harus menerima tekanan dan dilema, antara menjaga kualitas atau menjaga keberlangsungan kampus.

Lalu tentang karier akademik mereka. Banyak yang mengira dosen swasta punya fasilitas serupa dengan dosen PNS. Kenyataannya mereka lebih sering berjuang sendirian.

Untuk naik jabatan fungsional dosen, tentu butuh riset dan publikasi, semuanya dikerjakan sendiri dengan dana pribadi. Syukur kalau mereka punya relasi sehingga diajak kolaborasi dengan guru besar di kampus lain yang ternama. Tapi kalau nggak punya, mereka harus siap menanggung biaya publikasi yang bisa mencapai puluhan juta.

Kalau ada insentif publikasi, itu tidak sebanding. Workshop pun ada, tapi terbatas. Ironisnya, ketika tuntutan akreditasi datang, kampus menuntut mereka bisa berkontribusi melalui semua itu. Padahal mereka tahu, proses menghasilkan publikasi dan riset itu nggak mudah. Dan mereka sukar untuk mengawal.

Bagi dosen swasta lulusan magister, mereka juga dituntut untuk melanjutkan studi doktoral. Memang bagus untuk meningkatkan kualitas sumber daya pendidiknya. Tai masalah, tuntutan itu tidak ada sama sekali dukungan materil. Subsidi atau bantuan sedikit pun tidak diberikan oleh kampus swasta.

Semua diartikan pengabdian

Soal jaringan pengaman sosial dosen swasta juga nggak kalah pelik. BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan ada, tapi sangat minim. Bagaimana dengan dana pensiun? Hampir tidak pernah disinggung karena status mereka yang kontrak tadi. Pada akhirnya, masa tua mereka nantinya ya jadi urusan personal. Tidak ada jaminan dan kepastian soal sampai usia berapa mereka akan mengajar. Tapi ya aneh juga sih sampai mikir ke sana, sekali lagi, mereka kan dikontrak.

Di sisi lain, akomodasi secara materil lainnya juga memprihatinkan. Ada yang digaji per semester. Tunjangan sering bersifat tidak pakem. Bisa ada tahun ini, bisa lenyap tahun depan. Uang makan, transport, atau insentif di luar pokok hadir sebagai kebijakan, bukan hak yang wajib ditunaikan. Bagaimana dengan jumlahnya? Kawan saya yang berprofesi sebagai dosen swasta nyengir ketika saya tanya soal itu. Katanya lebih sejahtera petugas MBG daripada dosen swasta.

Dari aspek beban kerja, dosen swasta tidak hanya menanggung tanggung jawab yang menumpuk, tapi menyebar ke mana-mana. Mengajar, administrasi, akreditasi, panitia acara, bahkan jadi adminnya medsos kampus. Semua ditafsirkan sebagai pengabdian, jarang diartikan sebagai pekerjaan tambahan.

Dosen swasta berhadapan dengan ketidakpastian

Pada akhirnya, menjadi dosen swasta adalah pilihan terpaksa yang terlihat begitu idealis di dalam sistem yang sangat tidak ideal. Mereka mengajarkan berpikir kritis, keadilan, dan keberanian akademik, sambil belajar berhati-hati dalam kehidupan profesional mereka.

Apabila dosen PNS berhadapan dengan birokrasi, dosen swasta berhadapan dengan ketidakpastian yang halus tapi terus-menerus. Tentu saja bukan karena mereka malas atau nggak kompeten. Tapi karena mereka menjalani karier di sistem yang menuntut stabilitas akademik, tanpa benar-benar memberikan stabilitas hidup.

Mungkin saya bisa simpulkan kalau sisi gelap dosen swasta adalah ketika mereka terus dituntut mengajar untuk mendukung masa depan. Sambil di sisi lain menjalani hidup yang masa depan mereka sendiri masih begitu kabur.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Saya Sempat Bercita-cita Jadi Dosen, tapi Setelah Lihat Gajinya, Saya Langsung Ganti Cita-cita.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 Januari 2026 oleh

Tags: Dosendosen kampusdosen kampus swastadosen swastaKampuskampus swastaperguruan tinggi swasta
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

Sistem Konversi Skripsi: Solusi Lulus Tepat Waktu, Bukan Ajang Memburu Waktu jasa bimbingan skripsi

Banyaknya Jasa Bimbingan Skripsi Adalah Teguran Keras agar Kampus dan Dosen Pembimbing Segera Muhasabah Diri

8 September 2023
5 Hal yang Lumrah di UNS, tapi Nggak Wajar di Kampus Lain Mojok.co

5 Hal yang Lumrah di UNS, tapi Nggak Wajar di Kampus Lain

3 September 2025
Fakta Pahit Jurusan Arkeologi yang Memikat tapi Sepi Peminat

Fakta Pahit Jurusan Arkeologi yang Memikat tapi Sepi Peminat

9 Januari 2023
kapan wisuda

Mahasiswa Tingkat Akhir dan Pertanyaan Kapan Wisuda

20 Mei 2019
pengangguran, kuliah online

Surat Permohonan Maaf untuk Bapak/Ibu Dosen dari Mahasiswa Tukang Rebahan pas Kuliah Online

8 Mei 2020
Jadilah Senior Ormawa yang Tidak Berlebihan, Kampus dan Mahasiswa Sudah Berubah Mojok.co

Jadilah Senior Ormawa yang Tidak Berlebihan, Kampus dan Mahasiswa Sudah Berubah

27 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Perlintasan Kereta Volvo Pasar Minggu Memakan Banyak Korban: Bukan Salah Setan!

Perlintasan Kereta Volvo Pasar Minggu Memakan Banyak Korban: Bukan Salah Setan!

27 Januari 2026
Kos LV di Jogja Isinya Maksiat, tapi Tetap Laku Diburu Mahasiswa (Unsplash) kos campur

Pindah dari Kos LV ke Kos Campur Ternyata Keputusan Buruk, Bukannya Tenang dari Desahan, Malah Tambah Sengsara

29 Januari 2026
Sisi Gelap Solo, Serba Murah Itu Kini Cuma Sebatas Dongeng (Shutterstock)

6 Kebiasaan Warga Solo yang Awalnya Saya Kira Aneh, tapi Lama-lama Saya Ikuti Juga

27 Januari 2026
Jalan Adi Sumarmo Ngabeyan Kartasura, Jalan Penghubung Bandara Adi Soemarmo yang Bikin Pengendara Waswas

Jalan Adi Sumarmo Ngabeyan Kartasura, Jalan Penghubung Bandara Adi Soemarmo yang Bikin Pengendara Waswas

28 Januari 2026
Pronosutan Kulon Progo, Tujuan Baru para Pelari dan Pencari Ketenangan

Pronosutan Kulon Progo, Tujuan Baru para Pelari dan Pencari Ketenangan

26 Januari 2026
Sudah Saatnya Soreang Punya Mal supaya Nggak Bergantung sama Mal di Kota Bandung

Sudah Saatnya Soreang Punya Mal supaya Nggak Bergantung sama Mal di Kota Bandung

30 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis
  • DLH Jakarta Khilaf usai Warga Rorotan Keluhkan Bau Sampah dan Bising Truk dari Proyek Strategis Sampah RDF
  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.