Selera Musik Berhenti Berkembang, Tanda Kita Terlalu Sibuk Menjadi Orang Dewasa?

Selera Musik Berhenti Berkembang, Tanda Kita Terlalu Sibuk Menjadi Orang Dewasa? Mojok

Selera Musik Berhenti Berkembang, Tanda Kita Terlalu Sibuk Menjadi Orang Dewasa? (unsplash.com)

Saya dan keluarga terbiasa mendengarkan playlist musik bapak ketika di dalam mobil. Saking seringnya diputar, saya sampai hafal beberapa lagu favorit bapak. Lagu-lagu yang sebenarnya bukan selera musik saya. Lagu yang saya anggap jadul. 

Bapak memang tidak pernah memperbarui playlist musiknya. Bukan karena malas, dia memang tidak mengenal lagu-lagu terbaru. Selera musik bapak seolah berhenti pada tahun tertentu. 

Saya kemudian bertanya-tanya, kenapa selera musik seseorang bisa berhenti pada tahun tertentu ya? Berdasar analisis ala kadarnya, saya menyimpulkan ada beberapa alasan kenapa selera musik kita berhenti. Alasan-alasan itu sedikit banyak berkaitan dengan perkembangan kita menjadi manusia dewasa

#1 Selera musik sarana nostalgia

Beberapa hal bisa membuat kita teringat akan masa lalu. Kita bisa bernostalgia melalui foto, barang, bau parfum, dan tentu saja musik. Kenangan yang terlalu dalam sering kali membuat kita terlarut. Apalagi kalau kenangannya indah, rasanya ingin mengunjungi memori itu berkali-kali.

Kenangan-kenangan membuat selera musik kita tidak berkembang. Lebih baik mendengarkan lagu-lagu lama sambil mengingat-ingat kenangan di baliknya, daripada mendengarkan lagu baru tapi tidak relate sama sekali. 

#2 Terlalu sibuk menjadi dewasa

Bertambahnya usia seringkali diikuti oleh deru kehidupan yang semakin padat. Beban pekerjaan, tanggung jawab keluarga, dan masalah-masalah sehari-hari bisa membuat kita lupa dengan perkembangan dunia musik. Ujung-ujungnya kita tidak lagi update dengan musik-musik terbaru. 

Kalaupun mau keluar dari hiruk-pikuk kehidupan dewasa ini, banyak yang lebih memilih mendengarkan lagu-lagu lama. Nostalgia yang terkandung dalam lagu-lagu lama lebih manjur memperbaiki mood berantakan. 

#3 Malas keluar dari zona nyaman

Penikmat musik sejenis bapak saya mungkin yang paling dibenci motivator. Mereka tidak mau keluar dari zona nyamannya. Lagu, genre, atau penyanyi yang sama yang diputar secara terus menerus membatasi seseorang mengulik musik lain. Akhirnya pengetahuan musiknya tidak berkembang. 

Mungkin, kita hanya perlu melepaskan diri dari kenyamanan masa lalu dan membuka diri terhadap musik-musik baru. Siapa tahu musik baru juga bisa menciptakan kenangan yang tidak kalah indah. Namun, sekali lagi, semua ini perkara selera musik saja sih. Namanya juga selera, pasti tidak bisa dipaksa. Lagi pula selera musik berhenti pada tahun tertentu juga tidak merugikan orang lain. 

Penulis: Diaz Robigo
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Penyusun Daftar Lagu di Mobil, Antara Dibenci dan Dipuji

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version