Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Personality

Sederhananya Mengatakan Maaf

Maria Monasias Nataliani oleh Maria Monasias Nataliani
3 Mei 2019
A A
anak kecil meminta maaf

sederhana maaf

Share on FacebookShare on Twitter

Saya sedang berada di dalam gereja saat kejadian ini berlangsung. Saya duduk di tepi bangku kayu panjang. Nomor dua dari belakang. Di sebelah kiri saya, berjarak satu setengah meter untuk jalur berjalan para umat. Di sebelah kanan saya, sebuah keluarga duduk.

Keluarga itu terdiri dari ayah, ibu, seorang anak perempuan kira-kira kelas tiga SD dan anak laki-laki usia playgroup. Dilihat sekilas, keluarga ini cukup berada. Saya tidak terlibat dalam sebuah percakapan dengan keluarga ini, sebelumnya. Dan setelah komuni kudus berlangsung, si ibu membawa anak laki-lakinya keluar karena rewel. Saya bersebelahan dengan gadis kecil bergaun bunga-bunga.

Ketika pemberkatan anak berlangsung dan Romo menginstruksikan pada anak-anak untuk maju, gadis kecil itu terlihat sumringah. Ia langsung berdiri, dan mendekat ke arah saya untuk mencapai jalur berjalan untuknya berjalan ke depan. Namun selama tiga detik, ia melihat tidak ada anak-anak yang maju. Gadis kecil itu pun ragu. Ia berhenti sebelum melewati saya, lalu menengok pada ayahnya. Sang ayah membujuknya untuk maju. Saya ikut tersenyum melihatnya.

Lalu gadis kecil itu melihat anak-anak lain berhamburan ke depan altar dan ia melewati saya dengan cepat. Hingga tak sengaja, gadis kecil itu menyenggol buku dan lembaran misa saya sampai terjatuh ke lantai.

Gadis kecil itu tahu. Tapi ia sudah terlanjur berada di jalur tempat orang berjalan maju ke depan. Ia meninggalkan buku yang terjatuh itu.

Saya kontan memungutnya dan sang ayah mengucapkan kata ‘maaf’ dengan lirih, namun telinga saya masih bisa menangkap suaranya. Saya tersenyum ringan dan kembali pada gaya duduk saya, menyilangkan kaki sambil menikmati pemandangan wajah anak-anak yang maju ke depan altar.

Lalu datanglah gadis kecil itu kembali setelah diberkati oleh Romo. Ia duduk di samping saya, tapi mengambil jarak yang lebih lebar dari sebelumnya.

Am I too scary for her? Haha. I don’t think so.

Baca Juga:

Ungkapan Maaf, Tolong, dan Terima Kasih yang Mulai Ditinggalkan dari Peradaban Kita

Fenomena Sejak Ada Kata Baper, Kata Maaf Semakin Susah Diucapkan

Saat dibacakannya pengumuman gereja, saya mendengar lamat-lamat sang ayah menyuruh gadis kecil itu minta maaf.

Minta maaf?

Saya mencoba memasang kuping saya lagi. Saya yakin saya tidak salah dengar.

Saya melirik sekilas ke arah kanan saya. Gurat senyum terurai dari sudut bibir saya ketika menemukan sepasang mata sipit gadis itu memandang saya sekilas, lalu memeluk kembali sang ayah. Gadis itu berkompromi selama beberapa saat dengan sang ayah. Gadis itu mencuri pandang ke arah saya, namun tak berani berkata.

Tepat sebelum sesi pengumuman berakhir, sang ayah mengawali, “Maaf kak.”

Sang ayah mendorong lembut puterinya untuk mendekat ke arah saya. Saya menangkap kesulitan yang dialami gadis itu. Lalu saya putuskan untuk melemaskan pundak saya dan menyapa gadis itu lebih santai.

Gadis kecil itu akhirnya berkata, “Maaf ya, Kak. Tadi jatuhin buku kakak.”

Saya mengangkat senyum lebar. Separuh jiwa saya terkejut karena saya tak menyadari gadis kecil itu akan meminta maaf. Dan separuh jiwa saya merenungkan banyak hal dalam satu waktu. Sebelum gadis itu bertarung lebih lama dengan rasa kikuknya, saya cepat-cepat menjawab, “Oh, nggak papa dek. Hehe.”

Spontan gadis kecil itu tersenyum, lalu merangsek ke pelukan ayahnya.

Saya cukup salut dengan pola didik semacam ini. Dengan orang asing sekali pun, anak-anak perlu diajarkan menghormati kepunyaan orang lain. Layaknya menghargai barang kepunyaan sendiri. Saya mengapresiasi sikap sang ayah yang bilang ‘maaf’ duluan ketika buku saya jatuh. Lalu bilang ‘maaf’ untuk kedua kalinya, supaya sang puteri berani melakukan hal serupa.

He gives her real value. He did it and showed it to her daughter. Cara itu cukup ampuh mengolah gejolak rasa bersalah di hati gadis kecil itu menjadi sebuah permintaan maaf yang tulus.

Saya pun mulai merenungi kejadian itu sepanjang pulang dari gereja. Berkaca dan menelisik bagaimana diri saya.

Sometimes, egocentricity wins over me. Arogansi menyelimuti diri. Sehingga sulit untuk bilang maaf saat diri ini salah. Terkadang sulit mengakui diri saat diri ini menyakiti liyan, sengaja maupun tidak.

Kejadian di gereja kali ini mengingatkan saya untuk terus rendah hati. Untuk tak takut mengakui kesalahan. Untuk tak mencari-cari alasan hanya demi memenangkan ego sendiri. Untuk memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Tentu susah, saya akui. Tapi manusia diberi waktu untuk terus belajar. Dan saya tahu, belajar bukanlah melulu teori. Melainkan juga mengolah rasa dan membentuk sikap.

Terimakasih, dek.

Terakhir diperbarui pada 27 September 2021 oleh

Tags: Maaf
Maria Monasias Nataliani

Maria Monasias Nataliani

Part-time writer. Full-time doctor. Menggemari Haruki Murakami, Park Chan Wook, dan iced-Americano.

ArtikelTerkait

baper

Fenomena Sejak Ada Kata Baper, Kata Maaf Semakin Susah Diucapkan

14 Juli 2019
tolong

Ungkapan Maaf, Tolong, dan Terima Kasih yang Mulai Ditinggalkan dari Peradaban Kita

20 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mudik ke Jogja Itu Bukan Liburan tapi Kunjungan Kerja (Unsplash)

Mudik ke Jogja Itu Bukan Liburan tapi Kunjungan Kerja karena Semua Menjadi Budak Validasi, Bikin Saya Rindu Mudik ke Lamongan

24 Februari 2026
Menghadapi Kultur Lawan Arah di Lebak Bulus Raya: kalau Ditegur Galak, tapi kalau Kena Tilang Langsung Pasang Wajah Melas

Menghadapi Kultur Lawan Arah di Lebak Bulus Raya: kalau Ditegur Galak, tapi kalau Kena Tilang Langsung Pasang Wajah Melas

25 Februari 2026
9 Kasta Tertinggi Takjil yang Paling Sering Diperebutkan Pembeli Mojok.co

9 Kasta Tertinggi Takjil yang Paling Sering Diperebutkan Pembeli

22 Februari 2026
5 Barang Private Label Indomaret yang Ternyata Lebih Unggul Dibanding Merek-merek yang Sudah Besar Mojok.co

5 Produk Private Label Indomaret yang Ternyata Lebih Unggul Dibanding Merek yang Sudah Besar

25 Februari 2026
Mari Mengenal Salah Satu ‘Keajaiban’ dalam Hidup: Compounding

Mari Mengenal Salah Satu ‘Keajaiban’ dalam Hidup: Compounding

25 Februari 2026
Makanan di Jawa Memang Terkenal Manis, tapi Kenapa Sambelnya Ikutan Manis?

Makanan di Jawa Memang Terkenal Manis, tapi Kenapa Sambelnya Ikutan Manis?

20 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Anak Muda Jadi Ketua RT: Antara Kerja Kuli, Keikhlasan, dan Dewasa Sebelum Waktunya
  • Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur
  • Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman
  • Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga
  • Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT
  • Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.