Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Sebenarnya Pak Jokowi Tidak Perlu Buzzer

Muhammad Ikhdat Sakti Arief oleh Muhammad Ikhdat Sakti Arief
3 Oktober 2019
A A
buzzer pak jokowi

buzzer pak jokowi

Share on FacebookShare on Twitter

Aksi massa terjadi di beberapa wilayah. Buntut dari kerja anggota dewan yang kejar tayang sebelum masa jabatan berakhir. Berbagai elemen masyarakat turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi. Mahasiswa berada di barisan paling depan memimpin gerakan. Banyak hal yang menjadi tuntutan massa aksi. Salah satunya, menuntut Presiden Jokowi untuk mengeluarkan Perppu guna membatalkan RUU KPK yang sudah terlanjur disahkan oleh DPR meski mendapat banyak kritikan.

Sekarang ini, Presiden Jokowi sedang dikritik habis-habisan. Bahkan oleh orang-orang yang memilihnya di Pilpres yang lalu. Tapi ternyata masih ada orang-orang yang setia membelanya. Kita mengenal orang-orang tersebut sebagai ‘buzzer-buzzer’ istana.

ADVERTISEMENT

Kita sudah tidak asing dengan istilah buzzer. Mereka biasanya muncul saat pemilihan umum. Ada saja kandidat yang bertarung di pemilihan umum akan menyewa buzzer untuk menggiring opini publik di media sosial. Makanya ada istilah “perang buzzer”. Tidak usah jauh-jauh. Tengoklah Pemilu yang lalu.

Sekarang Pemilu sudah lewat. Tapi sepertinya ada beberapa buzzer yang belum ‘dibebas tugaskan’. Jasa mereka masih digunakan untuk terus membela semua kebijakan pemerintah.

Sekarang, tugas buzzer ini lumayan menantang. Mereka harus mencari pembenaran atas semua hal yang dilakukan Pemerintah. Mereka bertugas menggiring opini publik tentang apa yang terjadi. Sepertinya ada satu peraturan yang ditanamkan “Kakak Pembina” kepada buzzer-buzzer ini—Pak Jokowi tidak pernah salah.

Demonstrasi sedang terjadi dengan sangat massive. Buntut dari disahkannya RUU KPK—yang berpotensi melemahkan KPK dan juga RUU ngawur lainnya. Untuk membenarkan pengesahan RUU KPK ini, para buzzer membangun opini publik dengan memainkan isu “ada taliban” di tubuh KPK. Walaupun narasi ini memang hanya asumsi dan tidak (akan) pernah bisa dibuktikan.

Membangun isu “taliban” di tubuh KPK sepertinya tidak cukup efektif. Nyatanya aksi massa tetap saja terjadi di berbagai daerah. Tapi, buzzer-buzzer ini tidak menyerah. Mereka menggunakan cara-cara kotor yang lain. Sekarang mereka memainkan berbagai isu lain untuk mendiskreditkan gerakan mahasiswa.

Isu yang dibangun adalah kalau gerakan-gerakan ada yang menunggangi. Berbagai narasi dibangun. Para buzzer menuduh gerakan ini sebagai gerakan agar Pak Jokowi tidak jadi dilantik. Selain itu, gerakan ini juga dituduh gerakan makar karena dituduh bermaksud menurunkan Pak Jokowi. Padahal sudah sangat jelas, tidak ada kalimat “Jokowi Turun” dalam gerakan mahasiswa ini.

Baca Juga:

Derita Lulusan Cumlaude S1 Informatika, Berharap Lulus Bisa Jadi Top Hacker Malah Nyasar Bekerja Menjadi Buzzer

“Satu Desa Satu Gym” Bukan Sekadar Lelucon, Itu Ide Bagus untuk Kesehatan Warga Jawa Tengah!

Sama seperti isu “taliban”, isu ini juga hanyalah sekedar asumsi yang tidak bisa dibuktikan dengan data dan fakta. Nyatanya, gerakan ini memang lahir atas ketidak bijakan pemerintah dalam mengambil keputusan.

Buzzer-buzzer ini memang sangat pandai dalam memainkan opini ke publik. Beberapa dari mereka memang—seperti kata Tempo—adalah mantan wartawan. Jadi tidak begitu sulit bagi mereka untuk membuat tulisan yang memang susah untuk tidak dipercaya.

Tidak cukup sampai disitu, buzzer-buzzer ini juga membuat hoax. Seperti kasus Whatsapp Grup anak STM yang lalu. Diposting oleh salah satu akun yang diduga adalah buzzer. Chat Whatsapp yang seolah-olah dilakukan anak STM tersebut menunjukan kalau anak STM yang turun ke jalan itu dibayar.

Tapi, setelah di-cek menggunakan aplikasi Truecaller dan Getcontact, nomor-nomor tersebut diduga milik para anggota kepolisian. Entah benar atau tidak. Satu hal yang pasti, setelah ditemukannya fakta tersebut, buzzer yang memposting screen capture dari WAG STM itu kemudian menghapus portingan tersebut. Pertanyaannya, kenapa harus dihapus? Walaupun memang sekarang polisi sudah menetapkan siapa tersangka terkait WAG STM tersebut.

Ada beberapa alasan kenapa saya percaya kalau Pak Jokowi sebenarnya tidak perlu buzzer untuk membenarkan segala tindakan yang diambilnya.

Pertama, Pak Jokowi juga sudah tidak lagi punya beban untuk memenangi kontestasi pemilu. Pak Jokowi juga sudah pasti tidak akan mencalonkan di pemilu selanjutnya. Wong sudah akan menjabat untuk kedua kalinya. Penggiringan opini publik untuk membenarkan apapun yang dilakukan oleh Pak Jokowi tidak dibutuhkan lagi.

Kedua, Pak Jokowi sudah punya pendukung yang banyak. Pak Jokowi ‘kan memenagkan pemilu dengan 55 persen suara. Itu artinya lebih dari setengah rakyat Indonesia mendukung Pak Jokowi. Jadi, buzzer sudah tidak diperlukan lagi untuk membela Anda, Pak Jokowi. Biarkanlah rakyat yang menilai anda. Tentu saja dengan resiko, pendukung Anda tidak akan selamanya membela Anda. Ada saatnya Anda akan dikritik ketika membuat kebijakan yang tidak pro-rakyat. Tapi, bukankah seperti itu seharusnya seorang pendukung? Mendukung ketika benar, menegur ketika keliru. Bukankah itu esensi demokrasi yang sesungguhnya?

Menggunakan buzzer hanya akan menunjukan ketidak percayaan diri pemerintah, khususnya Pak Jokowi dalam memimpin negara ini. Pak Jokowi, sebegitu tidak percaya dirinya kah Anda sampai-sampai harus ada buzzer yang membenarkan semua tindakan Bapak?

Pak Jokowi, percaya saja, ada rakyat yang sepenuhnya mendukung Bapak selama Anda tidak salah jalan. Bahkan ketika banyak orang-orang besar yang tidak lagi mendukung Bapak hanya karena Anda akan mengambil keputusan yang lebih menguntungkan rakyat. (*)

BACA JUGA Jokowi dan Memori Orde Baru yang Masih Membekas atau tulisan Muhammad Ikhdat Sakti Arief lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 Oktober 2019 oleh

Tags: buzzerkakak pembinapak jokowiPemiluPolitik Indonesiapresiden
Muhammad Ikhdat Sakti Arief

Muhammad Ikhdat Sakti Arief

Nama saya Ikhdat, seorang pengangguran (semoga cepat dapat kerja) pecinta senja, penikmat kopi (biar dibilang anak indie) yang suka nulis.

ArtikelTerkait

air tawar alat politik pemilu pilkada janji palsu mojok

Alat Politik itu Bisa Apa saja, Termasuk Air Tawar

9 Oktober 2020
pembubaran fpi

Membubarkan Banser dan Pembubaran FPI: Serius?

26 Agustus 2019
giring presiden pemilu mojok

4 Langkah yang Bisa Ditempuh Giring agar Mulus Menjadi Capres

25 Agustus 2020
Glorifikasi Pemuda dalam Politik Indonesia: Anak Muda Memang Penting, tapi Anak Muda yang Gimana Dulu?

Glorifikasi Pemuda dalam Politik Indonesia: Anak Muda Memang Penting, tapi Anak Muda yang Gimana Dulu?

13 November 2023
sidang MK

Di Sidang MK Para Ahli Hukum Berkumpul dan Berdebat, Saat Itulah Saya Kebingungan Memahami Bahasa Level Tingginya

26 Juni 2019

Artikel Balasan: Gagasan Penambahan Masa Jabatan Presiden Jadi Tiga Periode Itu Salah dan Patut Diributkan

18 Juni 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Melawan serbuan semut di kamar, drama anak kos yang tampak sepele, tapi cukup bikin puyeng Mojok.co

Melawan serbuan semut di kamar, drama anak kos yang tampak sepele, tapi cukup bikin puyeng

16 Juli 2026
Konflik batin dosen nggak enakan hadapi mahasiswa pemalas: diberi nilai jelek kasihan, diluluskan kok malah ngelunjak Mojok.co

Konflik batin dosen nggak enakan hadapi mahasiswa pemalas: diberi nilai jelek kasihan, diluluskan kok malah ngelunjak

15 Juli 2026
Perpustakaan Kota Pekalongan berbenah, akhirnya ada ruang publik yang bikin betah Mojok

Perpustakaan Kota Pekalongan berbenah, akhirnya ada ruang publik yang bikin betah 

21 Juli 2026
13 Tabiat Mahasiswa KKN yang Dibenci Warga Desa, Jangan Dilakukan atau Kalian Jadi Musuh Bersama Mojok.co

Apa salahnya mahasiswa kkn di kota? Mereka sedang belajar, bukan cuma nyari enak

20 Juli 2026
Motor matic itu kutukan yang selalu rusak kalau saya punya uang (Unsplash)

Saya curiga, motor matic punya indra penciuman terhadap saldo rekening karena selalu rusak ketika saya punya uang

16 Juli 2026
Pengalaman Tinggal di Ngaglik Sleman Tak Melulu Enak seperti Kata Orang Mojok.co

Sleman semakin mahal, tetapi narasi kota mahasiswa murah tetap dipelihara

15 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.