Informasi
ADVERTISEMENT

Sebagai warga Pemalang, saya capek melihat berita buruk tentang kota ini

Sebagai warga Pemalang, saya capek melihat berita buruk tentang kota ini

Sebagai warga Pemalang, saya pribadi sudah lama punya kegelisahan ini. Kabupaten tempat kelahiran saya ini dari dulu selalu muncul di headline TV, dan kini media sosial, dengan sesuatu yang berbau tragedi atau berita memalukan.

Mungkin saya belum hidup cukup lama untuk bisa menyebut semuanya. Namun, beberapa peristiwa masih cukup saya ingat. Ada tragedi petasan Pemalang pada 2012 yang videonya tersebar ke mana-mana. Ada kasus korupsi kepala daerah yang kembali mencuat beberapa tahun setelah kasus serupa sebelumnya. Belum lama ini, nama Pemalang juga kembali muncul setelah seorang siswa SD menjadi korban kekerasan di lingkungan sekolah dan meninggal dunia.

ADVERTISEMENT

Tiap kali nama Pemalang muncul dalam pemberitaan semacam itu, sampai-sampai reaksi saya bukan lagi penasaran, melainkan, “Waduh, ada apa lagi nih?” Saya tidak tahu apakah warga Pemalang lain merasakan hal yang sama. Saya pun tidak punya niat untuk mengatasnamakan mereka. Bisa jadi perasaan ini cuma milik saya sendiri.

Tapi rasanya memang aneh ketika nama daerah tempat kita lahir dan tumbuh tiba-tiba muncul di layar ponsel, lalu hal pertama yang kita pikirkan adalah selalu kejadian buruk.

Pemalang yang saya kenal tidak seperti yang muncul di berita

Sebetulnya, Pemalang yang saya kenal sehari-hari pasti bukan Pemalang yang ada di headline berita. Kota ini bagi saya ya rumah, sekolah, jalan yang selalu saya lewati berkali-kali, warung tempat beli jajan, orang-orang yang saya kenal, dan segala rutinitas yang tidak menarik untuk diberitakan.

Tidak ada wartawan yang datang untuk memberitakan bahwa pagi tadi orang-orang berangkat kerja seperti biasa. Tidak ada breaking news karena pedagang membuka warung tepat waktu. Tidak ada headline karena anak-anak sekolah pulang dengan selamat.

Hal-hal seperti itu terlalu biasa untuk menjadi berita. Sebaliknya, sebuah tragedi, kasus korupsi, atau peristiwa yang membuat banyak orang terkejut memang jauh lebih layak masuk headline. Saya memahami itu. Media juga tidak salah hanya karena memberitakan sesuatu yang memang terjadi.

Hanya saja, sebagai orang yang berasal dari daerah tersebut, ada perasaan aneh ketika Pemalang yang saya kenal dalam keseharian seolah berbeda dengan Pemalang yang sering saya temui melalui layar. Di satu sisi sebagai tempat hidup, di sisi lain seolah jadi tempat yang banyak masalah.

Bukanya malu, cuma kadang capek menjelaskan

Saya tidak pernah sampai merasa harus menyembunyikan asal daerah ketika ditanya orang. Kalau ada yang bertanya saya dari mana, ya saya jawab Pemalang. Selesai. Toh, saya tidak merasa perlu bertanggung jawab atas semua kejadian yang dilakukan orang lain hanya karena kebetulan mereka terjadi di tempat yang sama dengan tempat saya lahir.

Kalau ada pejabat yang korupsi, saya bukan pejabatnya. Kalau ada tragedi, saya bukan pelakunya. Kalau ada persoalan di sekolah, saya juga tidak tiba-tiba menjadi orang yang harus bertanggung jawab atas seluruh sistem pendidikan di kabupaten tersebut.

ADVERTISEMENT

Tapi tetap saja, ada sedikit rasa tidak enak ketika nama daerah sendiri muncul karena hal-hal semacam itu. Ini salah satu hal aneh dari identitas daerah. Kita tidak selalu memilih apa yang dilakukan orang-orang yang tinggal satu daerah dengan kita, tapi ketika nama daerahnya disebut, kita ikut merasa memiliki hubungan dengannya.

Saya tidak malu menjadi orang Pemalang. Saya cuma kadang berharap ketika menyebut “Pemalang”, yang muncul di kepala orang lain tidak melulu berita buruk.

Saya ingin suatu hari nama Pemalang muncul karena sesuatu yang sederhana

Mungkin sebenarnya saya tidak berharap yang terlalu muluk-muluk. Saya tidak berharap Pemalang tiba-tiba menjadi daerah paling maju se-Jawa Tengah. Tidak pula berharap semua masalah di kabupaten ini hilang begitu saja. Namanya daerah, pasti ada saja persoalannya.

Saya cuma ingin suatu hari ketika nama Pemalang muncul di layar ponsel, reaksi pertama saya bukan lagi, “Ada apa lagi?” Saya ingin membacanya karena ada sesuatu yang membuat saya bisa tersenyum sebagai orang yang berasal dari sana.

Entah ada sekolah yang membuat prestasi, anak muda yang menghasilkan karya, warga yang melakukan sesuatu yang menarik, atau kabar baik lain yang mungkin selama ini terlalu biasa untuk dianggap penting.

Sebab Pemalang yang saya kenal sebenarnya tidak cuma berisi tragedi dan pejabat bermasalah. Ada banyak kehidupan yang berjalan biasa-biasa saja di sana. Orang-orang yang bangun pagi, bekerja, sekolah, berdagang, mengurus keluarga, dan menjalani hari seperti warga di tempat lain.

Kehidupan semacam itu tidak akan pernah menjadi headline. Dan tidak apa-apa. Saya hanya berharap, sesekali nama kabupaten ini muncul di layar karena sesuatu yang membuat saya berpikir, “Wah, ternyata kabupaten saya punya kabar seperti ini juga.”

Penulis: Hilmi Iskandar
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 3 Hal tentang Pemalang yang Wajib Diketahui Jika Ingin Berkunjung

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Oktober 2026 oleh .

Hilmi Iskandar

Mahasiswa di Jogja yang sedang overthinking bagaimana agar cerpennya bisa nongol di Harian Kompas.