“Aduh geus macet deui wae”
Kalimat itu terucap hampir setiap hari ketika saya menyusuri jalanan Kota Bandung. Kota yang katanya dijuluki Kota Kembang dan selalu di romantisasi, tapi jalanannya sama sekali nggak romantis. Setiap pagi saya ikut memenuhi jalanan Bandung dengan sepeda motor. Setiap sore saya ikut mengantre di lampu merah yang panjangnya semakin nggak masuk akal. Ya memang boleh dikatakan saya juga bagian dari kemacetan yang setiap hari saya keluhkan sih.
Bandung dan kemacetan akhir-akhir ini jadi hal yang bikin banyak warga frustasi. Saya juga membencinya, tetapi setiap hari saya ikut menyumbang. Hampir setiap pagi saya berangkat dengan harapan bisa sampai kampus atau tempat tujuan dalam waktu yang wajar. Namun harapan itu sering kali kandas bahkan sebelum saya melewati dua persimpangan pertama.
Jalanan yang nggak terlalu lebar sudah dipenuhi mobil, motor, angkot, kendaraan logistik, dan sesekali wisatawan yang kebingungan mencari jalan menuju tempat nongkrong yang sedang viral. Kondisi ini sampai membuat ada ungkapan “kolot di jalan” (tua di jalan). Sebab begitu lamanya waktu yang dihabiskan di jalanan kota bahkan untuk jarak kurang dari 10 kilometer.
Saya sering heran dengan Bandung. Jalanannya kecil, tikungannya banyak, tapi jumlah kendaraannya seperti sedang berlomba menyaingi Jakarta. Kadang di tengah kemacetan Gunug Batu-perempatan Pasteur saya sambil bertanya-tanya, ini sebenarnya saya sedang di Bandung atau sedang antre sembako?
Memang tidak baik-baik saja
Pertanyaan itu muncul bukan tanpa alasan. Saya tinggal di Cimahi dan sehari-hari harus menuju kawasan UPI. Jaraknya sebenarnya tidak sampai membuat saya perlu menyiapkan bekal perjalanan seperti orang yang mudik. Namun dalam kondisi tertentu, perjalanan sekitar 9 kilometer bisa menghabiskan waktu hampir satu jam.
Pernah suatu pagi saya berangkat dengan perhitungan yang menurut saya sudah aman. Hasilnya? Saya tetap hampir terlambat masuk kelas. Motor yang seharusnya memberi kebebasan justru berubah menjadi kursi tunggu berjalan di bawah terik matahari Bandung yang belakangan terasa makin galak.
Saat itu saya mulai berpikir, mungkin masalahnya bukan lagi soal jumlah kendaraan. Mungkin memang sistem mobilitas kota ini yang sedang tidak baik-baik saja.
BACA JUGA: Jalan Dipatiukur, Titik Kumpul Permasalahan Kota Bandung, Semuanya Ada!
Jalanan Bandung kurang memadai?
Berbeda dengan Jakarta yang masih memiliki banyak koridor jalan besar untuk menampung mobilitas warganya, sebagian ruas jalan di Bandung sebenarnya nggak dirancang untuk menanggung ledakan kendaraan seperti sekarang. Banyak jalan utama terasa seperti jalan lingkungan yang dipaksa bekerja di luar kapasitasnya.
Masalahnya, jumlah kendaraan terus bertambah sementara ruang jalan nggak mungkin diperluas tanpa batas. Bandung nggak punya kemewahan geografis untuk terus mengandalkan kendaraan pribadi sebagai tulang punggung mobilitas.
Situasinya semakin menarik setiap akhir pekan. Ketika warga Bandung yang hendak beraktivitas bertemu dengan rombongan wisatawan yang ingin berlibur, jalanan kota berubah menjadi ruang tunggu raksasa tanpa nomor antrean. Semua orang bergerak pelan, semua orang mengeluh. Tetapi lucunya, minggu berikutnya semuanya terulang lagi bagai siklus tanpa akhir.
Kita butuh transum yang memadai
Saya tidak pernah membayangkan akan iri kepada Jakarta dalam urusan transportasi. Kota yang dulu sering dijadikan simbol kemacetan itu justru membuat saya merasa seperti sedang melihat masa depan yang gagal diwujudkan Bandung. Beberapa kali mencoba MRT, KRL, dan TransJakarta, saya merasakan sesuatu yang jarang saya rasakan ketika bepergian di Bandung, kepastian.
Saya tahu kendaraan berikutnya akan datang. Saya tahu harus transit di mana. Juga, saya tahu berapa lama perjalanan saya akan berlangsung. Bagi warga Jakarta, mungkin itu terdengar biasa saja. Tetapi bagi saya yang terbiasa mengandalkan motor hampir ke mana-mana, kepastian semacam itu terasa mewah.
Sebagai pengendara motor, saya tentu menikmati kemudahan yang diberikan kendaraan pribadi. Namun ada kalanya saya berharap nggak perlu menggunakannya setiap hari.
Saya ingin suatu saat bisa pergi dari satu ujung Bandung ke ujung lainnya tanpa harus ikut menambah panjang barisan kendaraan di lampu merah. Saya ingin transportasi publik yang terhubung, mudah diakses, dan cukup nyaman sehingga warga nggak merasa sedang dihukum ketika memilih meninggalkan kendaraannya di rumah.
Sebab kalau semua orang terus dipaksa mengandalkan kendaraan pribadi, Bandung akan semakin sesak. Dan pada titik tertentu, bahkan motor yang selama ini dianggap solusi akan ikut menjadi bagian dari masalah yang nggak lagi bisa ditampung oleh jalan-jalan kota ini.
Penulis: Naufal Dlorif Efendi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 5 Hal yang Bikin Kota Bandung Macet
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
