Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Saya Tidak Ingin Menjadi Guru walaupun Memilih Jurusan PAI, Bebannya Tidak Sepadan dengan yang Didapat!

Achmad Adzimil Burhan Al-Hanif oleh Achmad Adzimil Burhan Al-Hanif
11 Januari 2026
A A
3 Pertanyaan yang Dibenci Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Mojok.co jurusan PAI

3 Pertanyaan yang Dibenci Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya sekarang sedang terjebak (eh, maksud saya, sedang menimba ilmu) di salah satu kampus Islam yang adem ayem di kota tahu, Kediri, Jawa Timur. Jurusan yang saya ambil? Tentu saja Pendidikan Agama Islam, biasa disingkat PAI. Saat ini masih semester satu, masih wangi-wanginya idealisme maba, tapi masalahnya sudah muncul. Begitu melangkahkan kaki di kampus, semua orang, dari dosen sampai petugas keamanan parkir, sudah memberi cap bahwa saya ini calon guru.

Padahal, baru juga nyentuh mata kuliah pertama, panggilan jiwa untuk jadi ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ itu sudah hilang entah ke mana. Ironis memang.

Lantas, kenapa saya memilih jurusan PAI kalau memang nggak punya passion buat ngajar? Ada dua alasan klise yang mendasarinya. Pertama, PAI itu ‘generalis’ banget. Dibanding jurusan lain di kampus ini yang lebih spesifik, seperti Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir atau Pendidikan Bahasa Arab, PAI terasa seperti buffet ilmu, maksudnya semua aspek agama ada. Saya bisa belajar Fikih, Tafsir, Hadis, bahkan sampai Metodologi.

Kedua, ini yang paling nggak bisa ditolak: restu orang tua. Mereka bilang, “Ambil PAI saja, insyaallah gampang cari kerja dan ilmunya berkah.” Jadi, begitulah. Keputusan ini 50% adalah pilihan logis seorang generalis, 50% lagi adalah ketaatan kepada restu yang selalu dianggap kunci sukses.

Alasan generalis-spesialis tadi bukan sekadar ngeles akademis belaka. Saya memang punya DNA generalis. Saya nggak betah kalau harus fokus mendalami satu ayat atau satu hadis sampai berhari-hari kayak akademisi sejati. Sebetulnya, saya ini tipe yang suka tahu banyak hal sedikit-sedikit, daripada tahu satu hal luar biasa dalamnya.

Kalau saya dipaksa jadi guru PAI—yang seringnya hanya diberi jatah mengajar Fikih atau Aqidah secara spesifik—saya akan merasa terkekang. Ilmu agama yang seharusnya luas justru terasa membatasi eksplorasi saya. Saya lebih cocok jadi general manager ilmu, bukan field specialist yang harus berhadapan dengan papan tulis setiap pagi.

Kenapa saya menolak jadi guru PAI?

Intinya, penolakan saya menjadi guru PAI adalah rasionalisasi yang holistik, bukan sekadar malas ngajar. Pertama, gaji guru PAI itu nggak sebanding sama tuntutan multiskill mereka: harus jadi dai, konselor, babysitter, dan admin. Kedua, sistem Kemenag yang memecah PAI jadi mapel-mapel terpisah itu bikin ribet. Di kuliah belajar semua, di sekolah malah cuma ngajar satu.

Ketiga, urusan Akhlak dan Adab itu sejatinya ranah orang tua di rumah, guru agama cuma nambahi sedikit teori. Dan terakhir, PAI di sekolah sering cuma formalitas belaka, nggak didukung ekosistem masyarakat untuk implementasinya. Mending menyebarkan ilmu dari platform yang lebih suportif.

Baca Juga:

Realitas Pahit Lulusan Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI), Prodi Laris yang Susah Cari Pekerjaan

3 Pertanyaan yang Membuat Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Muak

Alasan pertama ini paling realistis dan menyakitkan, yaitu masalah gaji dan tuntutan multiskill. Coba bayangkan, guru PAI hari ini dituntut jadi da’i profesional, konselor remaja, admin serba bisa, sekaligus penjaga gerbang akhlak (supaya murid nggak mabok TikTok). Tapi, imbalannya? Seringkali stagnan, apalagi di sekolah swasta atau honorer.

Secara teori, ini bisa disebut kasus kesenjangan ekspektasi dalam psikologi kerja, di mana usaha (multiskill) tidak sebanding dengan hasil (gaji dan pengakuan). Orang rela jadi superhero kalau ada reward yang sepadan. Tapi kalau reward-nya cuma “pahala” dan gaji bulanan yang tipis, mending superhero-nya dipakai buat ngurusin startup syariah yang gajinya lebih logis.

Keribetan internal

Selanjutnya adalah keribetan internal yang cuma anak jurusan PAI yang paham. Di kampus ini, saya belajar PAI itu general; Fikih, Hadis, Tafsir, Tarikh, semuanya digabung dalam satu paket ilmu yang utuh. Begitu lulus, sistem Kemenag malah memecah PAI menjadi mapel-mapel kecil (Al-Qur’an Hadis sendiri, Fikih sendiri, SKI sendiri). Saya yang generalis ini dipaksa jadi spesialis dadakan untuk satu mata pelajaran saja.

Padahal, pemrosesan kurikulum yang ideal harusnya punya sinkronisasi vertikal, dalam artian kurikulum kampus harusnya selaras dengan kebutuhan lapangan. Tapi yang terjadi? Birokrasi kurikulum kita kayaknya lebih fokus mecahin mata pelajaran daripada nyambungin ilmunya. Ibaratnya, kami dilatih jadi chef masakan Padang, tapi di restoran malah cuma disuruh motong bawang doang.

Alasan ketiga adalah soal pembagian tugas yang tidak adil. Ekspektasi masyarakat kita itu gila; kalau anak nakal, yang disalahkan pasti guru PAI di sekolah. Padahal, ilmu agama dan akhlak itu fondasinya harus dibangun sejak di rumah, oleh orang tua. Guru PAI di sekolah formal itu hanya perlu ‘menambahi’ lapisan teoritis, bukan membangun fondasi adab dari nol. Adab dasar seperti menghormati orang tua, nggak nyolong sendal di masjid itu harusnya sudah clear di level keluarga.

Kalau guru PAI harus mulai dari nol lagi, artinya kami nggak cuma jadi guru, tapi juga substitusi orang tua yang absen. Ini namanya pengalihan tanggung jawab etika sosial yang sangat curang.

Kekecewaan sebagai mahasiswa jurusan PAI

Yang keempat adalah inti kekecewaan saya sebagai mahasiswa jurusan PAI. Pelajaran PAI di sekolah-sekolah kita seringkali hanya dianggap formalitas belaka, sekadar checklist untuk memenuhi syarat kurikulum negara. Nilai PAI harus bagus, tapi implementasinya di kantin, di toilet, atau di parkiran, nihil. Ekosistem sekolah dan masyarakat belum sepenuhnya mendukung output pelajaran agama itu. Kami capek-capek belajar dalil, menghafal metodologi dakwah, tapi di kelas hanya dianggap ‘istirahat’ sebelum pelajaran lain yang lebih krusial. Rasa nggak berguna ini yang menusuk. Sebagai calon sarjana, buat apa saya capek-capek mengajar kalau pada akhirnya ilmu yang saya sampaikan cuma jadi angka di rapor, dan bukan ruh dalam kehidupan murid.

Jadi, begitulah ribetnya. Guru PAI itu pahlawan, tapi saya takut pahlawan tanpa tanda jasa ini pada akhirnya cuma jadi side character bergaji UMR di timeline kehidupan yang serba digital.

Menolak takdir guru PAI bukan berarti menolak ilmu. Ini adalah jihad melawan ekspektasi yang tidak realistis. Saya memilih menggunakan ilmu jurusan PAI saya sebagai general manager etika di luar ruang kelas, tempat reward dan impact lebih masuk akal. Saya bangga menjadi Sarjana PAI yang ‘takut’ mengajar, karena ini adalah bentuk ketaatan pada passion dan profesionalitas. Biarlah guru PAI yang lain jadi pahlawan tanpa tanda jasa, tapi saya akan lebih memilih menjadi sidekick bergaji logis.

Penulis: Achmad ‘Adzimil Burhan Al-Hanif
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 3 Pertanyaan yang Membuat Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Muak

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 Januari 2026 oleh

Tags: gaji guru PAIguru pendidikan agama islamjurusan PAIJurusan Pendidikan Agama Islam
Achmad Adzimil Burhan Al-Hanif

Achmad Adzimil Burhan Al-Hanif

Mahasiswa jurusan PAI di salah satu kampus Islam di Kediri.

ArtikelTerkait

Realitas Pahit Lulusan Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI), Prodi Laris yang Susah Cari Pekerjaan

Realitas Pahit Lulusan Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI), Prodi Laris yang Susah Cari Pekerjaan

11 November 2025
3 Pertanyaan yang Dibenci Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Mojok.co jurusan PAI

3 Pertanyaan yang Membuat Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Muak

9 November 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

4 April 2026
Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026
Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal Mojok.co

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

5 April 2026
TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk Mojok.co

TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk 

6 April 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
8 Camilan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Jangan Dijadikan Oleh-Oleh Mojok.co

8 Camilan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Jangan Dijadikan Oleh-Oleh

31 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial
  • WFH 1 Hari dalam Seminggu Cuma Bikin Pekerja Boncos dan Nggak Produktif, Lalu Di Mana Efisiensi Pemakaian Energinya?
  • Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi
  • Gagal Kuliah Kedokteran karena Bodoh dan Miskin, Malah Dapat Telepon Misterius dari Unair di Detik Terakhir Pendaftaran
  • Nugas di Kafe Dianggap Buang-buat Duit, padahal Bikin Mahasiswa Jogja Lebih Tenang dan Produktif
  • Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.