Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Saya Terlahir sebagai Anak Papua dan Saya Mensyukuri Banyak Hal

Diah Wahyuni oleh Diah Wahyuni
17 Januari 2021
A A
Saya Terlahir sebagai Anak Papua dan Saya Mensyukuri Banyak Hal terminal mojok.co

Saya Terlahir sebagai Anak Papua dan Saya Mensyukuri Banyak Hal terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Entah siapa yang memulai, tetapi setiap kali tebersit tentang anak Papua dalam otak kita, sering kali yang bermunculan dalam pikiran hanyalah stigma-stigma yang kurang menyenangkan. Dari membayangkan koteka, atau berempati atas keterbelakangan pembangunan, sampai pada gerakan separatismenya. Mungkin itu semua disebabkan karena selama ini yang mencuat di media hanyalah isu-isu miring yang terjadi di sana.

Tetapi satu hal yang pasti, eksotisme Papua dengan berbagai keunikan dan kekhasannya tidak pernah ditolak oleh siapa pun. Semua orang pasti setuju dengan berbagai pesona Papua dengan segala karakter uniknya.

Kendati demikian, selalu ada banyak hal yang bisa disyukuri. Layaknya koin yang memiliki dua sisi, akan selalu ada hal-hal positif yang sangat patut disyukuri sebagai anak Papua. Paling tidak ada empat hal ini yang sangat saya syukuri sebagai anak bangsa yang lahir dan besar di Papua.

Belajar kebhinekaan sejak lahir

Isu perselisihan yang akhir-akhir ini sering menjadi trending topic di media sering kali disebabkan oleh perbedaan suku, ras, ataupun agama. Seringnya, suatu kelompok merasa lebih superior dibanding kelompok lainnya, merasa paling benar. Bisa jadi hal tersebut muncul karena lingkungan tempat mereka dibesarkan yang sangat homogen.

Menjadi anak Papua berarti menjadi bagian dari diversitas suku, ras, dan agama yang beragam. Di Papua segala macam suku dan ras hidup berdampingan menjadi satu kelompok masyarakat dengan tentram.  Menjadi berbeda satu sama lain itu sudah biasa. Sejak lahir pun anak Papua sudah terbiasa menghadapi heterogenitas warna warni sosial masyarakat.

Dalam pergaulan sehari-hari pun sudah menjadi lumrah untuk menghadapi perbedaan budaya maupun agama. Perbedaan ini kemudian menjadi hal biasa dan membiaskan perselisihan. Ya, karena anak-anak di Papua memahami perbedaan yang sangat beragam dan menganggapnya lumrah. Perbedaan ini juga lantas mengajarkan diri untuk tidak merasa lebih dari yang lain. Berbeda itu biasa! Nggak beda, nggak asyik.

Tumbuh menjadi pribadi yang toleran

Tumbuh dalam masyarakat yang heterogen, menjadikan pikiran kita lebih terbuka dan hati kita lebih lapang. Beda status sosial, ekonomi, beda fisiologis tubuh dan keyakinan tidak menghalangi kita untuk hidup berdampingan dengan tentram dan damai.

Semenjak sekolah di tingkat SD saja, secara bergantian setiap murid memimpin doa pagi sebelum mulai kelas dengan keyakinannya masing-masing. Jika ada hajatan atau event tertentu, gotong royong antar warga sudah sangat lumrah tanpa mengharap upah atau balasan apa pun.

Baca Juga:

Culture Shock Orang Jakarta Ketika Pertama Kali ke Jayapura, Ternyata Nggak Terpelosok seperti dalam Bayangan

Unhas Makassar Si Jago Kandang: di Indonesia Timur, Ia Juara, di Luar Itu, Bukan Siapa-siapa

Alhasil, toleransi sudah menjadi budaya yang mendarah daging. Anak-anak yang besar di Papua sangat memahami bahwa keragaman adalah bagian dari hidup yang harus dihargai. Jika ingin dihormati, hormatilah orang lain. Value inilah yang senantiasa terpelihara dengan baik dalam komunitas masyarakat Papua.

Tidak ada disparitas ekonomi

Hal lain yang sangat saya nikmati sebagai anak Papua yaitu menikmati kebersamaan tanpa memandang status sosial ekonomi keluarga. Sejak sekolah di tingkat dasar, tidak ada yang namanya sekolah unggulan, semua sama. Di sekolah, kami terbiasa bergaul dengan siapa pun, dari anaknya pejabat daerah hingga bersahabat karib dengan rekan yang memiliki kondisi ekonomi pas-pasan.

Kesediaan fasilitas yang sufficient di wilayah tempat tinggal kami juga menyebabkan kesetaraan antara kaum sultan dan jelata semakin besar. Sebut saja restoran atau warung makan yang ada di tempat tinggal kami. Siapa pun dari tukang ojek hingga pejabat tinggi daerah sama-sama menikmati makan ditempat yang sama.

Tabir antara si kaya dan miskin sama sekali tak kasat mata. Kami di sini menikmati sekolah yang sama, jalan-jalan ke tempat rekreasi yang sama, menikmati makanan di warung yang sama. Setara! Rendahnya disparitas ekonomi ini menyebabkan si kaya tidak merasa tinggi diri dan sombong, pun si miskin tidak merasa minder dan rendah. Solidaritas yang tertanam juga semakin kuat akibat nihilnya gap ekonomi.

Menikmati alam yang mendunia

Banyak rekan-rekan saya di luar Papua jauh-jauh pergi ke Selandia Baru, Switzerland, Jepang, atau negara lain untuk menikmati pemandangan alam yang begitu memesona. Di Papua, semua itu hanya dalam jangkauan langkah kaki.

Nikmat seperti ini pun baru saya sadari setelah saya pergi merantau ke luar Papua. Saya baru sadar, pantai pasir putih yang bersih dan ditambah dengan keberadaan pohon-pohon rindang di sepanjang pesisir yang saya kunjungi tiap hari untuk bermain ternyata tiada bandingnya di daerah lain di luar Papua. Pun jika ada pantai untuk rekreasi di daerah lainnya, semuanya berbayar dan padat! Saat saya ke Bali atau ke Lombok yang digadang-gadang memiliki pantai yang sangat indah, ternyata keindahannya serupa dengan pantai tempat bermain saya dulu!

Saya ingat, ada bukit kecil di belakang sekolah kami yang penuh dengan pohon pohon rindang dan rumput hijau yang menyejukan. Dulu ini menjadi tempat kami bersantai sambil menikmati jambu yang dipetik secara cuma-cuma di halaman sekolah. Setelah saya perhatikan lagi, nuansanya persis seperti hutan pinus di film Twilight!

Belum lagi, jika rela mengunjungi beberapa danau dan air terjun ditengah hutan yang sedikit jauh dari pemukiman. Dengan hanya bermodal pancingan tradisional kita bisa pulang membawa oleh-oleh ikan air tawar yang menggiurkan dan mengenyangkan.

Jika ingin lebih kekinian, jangan lupa sambari jalan-jalan siapin kameranya, pilih angle yang mantap, dan jepret! Apalagi sekarang ada teknologi drone yang mampu meng-capture keindahan alam Papua secara menyeluruh. Ini juga senjata buat mengabadikan pesona alam di Papua.

Saya pernah ditunjukkan foto-foto hasil pelesiran ke luar negeri oleh teman saya saat mengunjungi New Zealand. Ia mengambil beberapa foto di lokasi tempat shooting film The Lord of The Ring yang sangat monumental itu. Saat melihat foto-foto tersebut, entah kenapa saya merasa sangat familier dengan pemandangan alamnya. Ternyata view-nya persis dengan wilayah perbukitan di Sentani, Jayapura!

Walau demikian banyak orang yang sering skeptis dan mendebat saya perkara hidup tentram di Papua. Mereka bilang, banyak kegaduhan di Papua, kondisi keamanannya sangat buruk, belum lagi isu-isu perselisihan beragama dan separatisme yang lebih banyak trending di media sosial. 

Saat berita separatisme terkait pembentukan negara West Papua menjadi trending di media, rekan-rekan saya di ibukota sudah panik dan menghubungi saya. Pada saat yang sama, kami di sini hidup damai tanpa huru hara. Masyarakat jelata seperti saya tetap beraktivitas normal seperti biasa. Peace.

Ya memang benar, Papua mungkin lekat dengan isu pembangunan yang sedikit terlambat dan butuh banyak perbaikan. Tetapi, di balik kekurangan yang ada, justru menciptakan masyarakat yang terbuka dan saling bergantung pada sesama. Solidaritas menjadi semakin erat. Toleransi juga tidak pernah menjadi masalah.

Ahhh bersyukur, besar di pelosok timur Indonesia membuat cara pandang terhadap kebhinekaan menjadi hal yang biasa. Semboyan bangsa, berbeda-beda namun tetap satu jua, tidak hanya kami dengar di bangku sekolah, tetapi lebih dari itu terinternalisasi ke dalam hidup sehari-hari.

BACA JUGA 4 Pertanyaan yang Sering Diterima Mahasiswa Papua di Jawa

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 17 Januari 2021 oleh

Tags: Indonesia Timurpapua
Diah Wahyuni

Diah Wahyuni

Statistisi

ArtikelTerkait

Stadion Papua Bangkit pertanyaan yang sering didapat mahasiswa papua di jawa mojok.co

Pemakaian Nama Gubernur sebagai Pengganti Nama Stadion Papua Bangkit Akan Mendapat Reaksi Berbeda Jika Hal Itu Dilakukan di Jakarta

29 Oktober 2020
Meme

Meme Ini Bikin Saya Nggak Habis Pikir

30 Agustus 2019
Bioskop di Indonesia Timur Jarang, Wajar kalau Film Kaka Boss Sepi Penonton

Bioskop di Indonesia Timur Jarang, Wajar kalau Film Kaka Boss Sepi Penonton

29 September 2024
merah putih

Merah Putih Tetap Berkibar di Papua

2 September 2019
Belajar Tidak Ketergantungan Nasi dari Masyarakat Indonesia Timur

Belajar Tidak Ketergantungan Nasi dari Masyarakat Indonesia Timur

17 Juli 2022
Begini Rasanya Jadi Orang Batak Keturunan Jawa Berwajah Timur terminal mojok

Begini Rasanya Jadi Orang Batak Keturunan Jawa Berwajah Timur

23 Maret 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jangan Salah! Lebih dari 95% Penduduk Indonesia Tidak Mendukung Kemerdekaan

Jangan Salah! Lebih dari 95% Penduduk Indonesia Tidak Mendukung Kemerdekaan

26 Februari 2026
Bakpia Kukus Tidak Layak Pakai Nama Bakpia Asli Jogja (Unsplash)

Bakpia Kukus Tidak Layak Menyandang Nama “Bakpia” karena Ia Bolu Kukus yang Mengaku sebagai Kuliner Asli Jogja

21 Februari 2026
Realitas Mahasiswa UNNES Gunungpati: Ganti Kampas Rem yang Mengacaukan Keuangan, Bukan Kebutuhan Kampus Mojok.co

Rajin Ganti Kampas Rem, Kebiasaan Baru yang (Terpaksa) Tumbuh Pas Jadi Mahasiswa UNNES Gunungpati

20 Februari 2026
Monumen Kapal Selam di Surabaya Sebenarnya Kaya Informasi, tapi Ogah kalau Harus ke Sana Lagi Mojok.co

Monumen Kapal Selam di Surabaya Sebenarnya Kaya Informasi, tapi Ogah kalau Harus ke Sana Lagi

24 Februari 2026
6 Dosa Penjual Jus Buah- Ancam Kesehatan Pembeli demi Cuan (Unsplash)

6 Dosa Penjual Jus Buah yang Sebetulnya Menipu dan Merugikan Kesehatan para Pembeli Semata demi Cuan

26 Februari 2026
Menghadapi Kultur Lawan Arah di Lebak Bulus Raya: kalau Ditegur Galak, tapi kalau Kena Tilang Langsung Pasang Wajah Melas

Menghadapi Kultur Lawan Arah di Lebak Bulus Raya: kalau Ditegur Galak, tapi kalau Kena Tilang Langsung Pasang Wajah Melas

25 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali
  • Anak Muda Jadi Ketua RT: Antara Kerja Kuli, Keikhlasan, dan Dewasa Sebelum Waktunya
  • Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur
  • Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman
  • Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga
  • Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.