Pensiun dan slow living di Grobogan sepertinya ide yang menarik. Amat menarik, malah
Belakangan, orang lagi getol bicara soal slow living dan tempat tinggal kala pensiun. Standar tujuannya biasanya tak jauh-jauh dari Salatiga atau Magelang. Kota-kota sejuk di lereng gunung tersebut memang sudah lama jadi primadona bagi siapa saja yang sudah jenuh dengan hiruk-pikuk kota besar.
Namun, sebagai orang Semarang yang kerap bertandang ke kedua kota tadi, saya punya pilihan berbeda, yakni Grobogan. Anehnya, meski wilayahnya bertetangga dengan Kota Atlas, saya justru baru belakangan ini menginjakkan kaki di Grobogan.
Siapa sangka, pertemuan pertama itu malah berujung jatuh cinta. Alih-alih melirik Salatiga atau Magelang, kepala saya malah langsung dipenuhi lamunan liar tentang menghabiskan masa senja dan menikmati slow living dengan tenang di kabupaten ini.
Vibes di Grobogan kontras dengan kebisingan di Semarang
Semarang memang melatih saya untuk selalu bergerak serba cepat. Tapi di waktu yang sama, Kota Lumpia juga menguras energi saya habis-habisan secara konstan. Begitu melipir ke Grobogan, kontrasnya langsung telak.
Suasananya begitu senyap. Bahkan saat jam delapan malam tiba, jalanan sudah sepi dari lalu-lalang kendaraan. Pusat perbelanjaannya pun baru ada satu. Itu pula masih tahap pembangunan.
Kebebasan dari polusi suara klakson dan kemacetan jalanan itu seakan bekerja secara ajaib menurunkan hormon kortisol yang selama ini menumpuk di kepala. Suasana Grobogan memberi ruang bagi pikiran saya untuk jeda sejenak dan menyelamatkan kualitas tidur yang sering berantakan di fase-fase sibuk usia produktif. Di tempat ini, hidup saya kembali terasa punya sela yang manusiawi.
Kemewahan bernama ketenangan finansial
Salah satu momok paling menyeramkan saat membayangkan hari tua di kota besar seperti Semarang, tentu saja urusan keuangan. Tanpa pendapatan rutin seperti saat produktif, orang hanya mengandalkan tabungan yang terbatas. Di sisi lain, inflasi kian menggerus.
Sementara, di Grobogan, orang bisa membeli bahan pangan segar langsung dari petani lokal. Bukan cuma itu, kultur masyarakatnya yang jauh dari pamer membuat mereka otomatis kebal dari virus konsumerisme atau ajang validasi status sosial.
Di Kabupaten yang hanya dianggap lalu ini, standar hidup kembali disederhanakan ke hal-hal esensial yang membuat batin adem. Harapannya, kelak di masa tua, saya bisa menikmati hari-hari dengan tenang. Merdeka secara finansial dan bebas dari teror tagihan bulanan yang mencekik.
Grobogan adalah jarak aman ke fasilitas di kota besar
Konon, hubungan yang sehat itu butuh jarak alias boundaries. Dan sepertinya, prinsip ini juga berlaku buat hubungan saya dengan suatu kota. Memutuskan pindah dan menetap di Grobogan nanti mungkin justru bakal bikin rasa sayang saya ke Semarang jauh lebih meluber.
Di sisi lain, saya juga paham kalau memilih tempat slow living yang terlalu terisolasi di pelosok sering kali malah memicu kecemasan baru bila sewaktu-waktu butuh fasilitas standar kota besar. Untungnya, Grobogan punya letak geografis yang pas dan strategis.
Jaraknya cukup aman buat merengkuh kedamaian pedesaan, tapi tetap memungkinkan akses kota yang terjangkau. Mau meluncur ke Semarang atau Solo, waktu tempuhnya cuma berkisar 1,5 sampai 2 jam saja. Rentang jarak yang ideal itu setidaknya bisa memberi rasa tenang tanpa membuat saya merasa tersingkir dari peradaban.
Meski Grobogan terkenal susah air saat kemarau dan rawan banjir kala hujan, tekad saya untuk menetap di sana tetap bulat. Mencintai tempat seperti ini berarti saya harus membuang jauh-jauh bayangan romantis tentang sesuatu yang selalu sempurna tanpa cacat. Grobogan mengingatkan saya bahwa hubungan dengan alam bukan lagi soal memanfaatkan, tapi berdamai.
Segala kerepotan itu justru menjadi alarm bahwa tak ada tempat di dunia ini yang sepenuhnya ramah tanpa usaha. Toh, segala kepayahan tersebut terbayar lunas oleh ketenangan mental yang mustahil dibeli di tengah kota. Kesimpulannya, semua ini tentang cinta yang menerima sepaket baik dan buruknya tempat, bukan ambisi untuk mengeruk potensinya semata.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Kabupaten Grobogan, Daerah yang Sama Sekali Nggak Terkenal, padahal Lumbung Pangan Nasional
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
