Saya gagal kerja di Bandung dan Jakarta karena terhalang restu orang tua, kadang sedih, tapi sudah bisa menerima takdir

Saya gagal kerja di Bandung dan Jakarta karena terhalang restu orang tua, kadang sedih, tapi sudah bisa menerima takdir

Saya gagal kerja di Bandung dan Jakarta karena terhalang restu orang tua, kadang sedih, tapi sudah bisa menerima takdir (Pixabay.com)

Impian saya untuk kerja di Bandung dan Jakarta harus pupus karena tidak mendapat restu dari orang tua. Tapi, jujur saja, tidak apa-apa

Bisa bekerja dan punya karier di kota-kota besar, terutama di ibu kota, mungkin masih jadi mimpi banyak orang. Apalagi bagi orang-orang yang berasal dari kota kecil. Di kota-kota besar, peluang kerja jelas lebih banyak, jenjang karier lebih beragam, dan relasi/jejaring yang lebih luas. Selain itu, pendapatan (UMK) di sana juga pastinya lebih besar dari kota asal.

Saya adalah salah satu orang yang pernah punya mimpi itu. Sejak kuliah saya sudah punya semacam angan-angan, bahwa setelah saya lulus nanti, saya akan merantau ke kota-kota besar (Jakarta, Bandung, dan mungkin Jogja), cari kerja di sana, dan membangun karier hingga sukses. Bahkan saya sudah punya incaran beberapa tempat kerja yang pengin banget saya masuki.

Seiring berjalannya waktu, angan-angan saya berubah menjadi sebuah mimpi yang lebih serius, mimpi yang membuat saya semakin berambisi untuk mewujudkannya. Berbagai cara sudah saya lakukan untuk memperkuat portofolio. Eh, ndilalah covid melanda di awal tahun 2020. Kuliah saya terhambat walau hanya satu semester, dan sepertinya mimpi saya juga ikut terhambat.

Namun, meski covid melanda dan saat itu saya (kita semua) nggak tahu kapan pandemi sialan ini bakal beres, saya nggak membiarkan mimpi-mimpi saya mati. Kuliah berhasil saya rampungkan di akhir tahun 2020. Mimpi untuk bisa kerja dan punya karier di kota besar tetap saya gantungkan tinggi. Upaya-upaya untuk mewujudkan mimpi itu juga tetap saya lakukan, meski di tengah ketidakpastian.

Sempat dapat tawaran kesempatan kerja di Bandung dan Jakarta

Sejak saya lulus kuliah akhir 2020 dan wisuda di 2021, saya sebenarnya masih belum berhasil mewujudkan mimpi saya. Tapi saya sudah melakukan berbagai macam usaha. Saya sudah mengirimkan lamaran-lamaran pekerjaan ke beberapa tempat kerja incaran, sambil menawarkan diri ke kawan-kawan yang sudah berkarier di kota-kota besar barangkali tempat kerja mereka membuka lowongan pekerjaan.

Momentum datang di pertengahan 2022. Sebuah media sepak bola di Bandung membuka lamaran pekerjaan untuk posisi penulis. Dengan kemampuan dan portofolio yang saya punya (tulisan saya sudah pernah dimuat di berbagai media), saya yakin bahwa saya bisa tembus dan bisa mewujudkan cita-cita saya. Lalu saya mengirim lamaran pekerjaan, lengkap dengan portofolio saya. Selang tiga hari, saya sudah mendapat balasan email undangan interview.

Di saat yang nyaris bersamaan, salah seorang kawan yang bekerja di sebuah agency di Jakarta, menawarkan satu posisi kosong di tempat kerjanya. Posisinya content writer, cocok banget buat saya. Dia merekomendasikan saya ke atasannya untuk jadi content writer di sana. Katanya, saya nggak perlu pusing. Tinggal kirim lamaran dan portofolio, ikut interview (formalitas saja), bakal langsung diterima.

Menerima dua peluang ini, saya merasa apa yang selama ini saya cita-citakan sudah ada di depan mata, Tinggal selangkah lagi, semua mimpi itu akan menjadi nyata. Maka saya langsung bilang ke Ibu tentang dua peluang ini.

Melepas semua peluang karena Ibu merasa berat melepas anaknya pergi jauh

Saya datang ke Ibu dengan penuh rasa percaya diri. Saya cukup yakin Ibu akan mengizinkan anak sulungnya untuk pergi dari rumah dan meniti karier di kota besar. Saya juga anak laki-laki, mau dilepas di mana pun pasti bisa hidup dan bertahan. Rasanya nggak ada yang perlu dikhawatirkan.

Ternyata saya salah. Saya salah besar. Ketika saya bilang bahwa ada dua peluang kerja di Bandung dan Jakarta, Ibu memang nggak langsung mengiyakan atau menolak. Ibu hanya bilang bahwa ia masih khawatir kalau melepas saya untuk pergi jauh. Ibu ternyata masih nggak tega, masih nggak sampai hati melihat saya hidup jauh darinya. Ibu masih berat, lah, untuk memberi restu.

Mendengar perkataan Ibu, saya nggak melawan atau membantah. Memang ada secuil perasaan kecewa dan sedih, tapi saya juga paham bagaimana kekhawatiran seorang Ibu ketika melepas anaknya pergi jauh. Kayaknya semua Ibu di dunia ini akan punya perasaan yang sama. Apalagi situasi saat itu memang bisa dibilang nggak memungkinkan bagi saya untuk meninggalkan rumah.

Kami cuma hidup bertiga: saya, Ibu, dan adek. Adek saya juga sudah kerja dan sibuk banget, baru ada di rumah malam hari. Apalagi kondisi kesehatan Ibu di tahun itu masih menurun. Ibu masih membutuhkan saya untuk menjaganya, mengantarnya untuk kontrol rutin ke rumah sakit tiap pekan. Rasanya nggak bijak juga kalau saya memaksa untuk pergi dan mengambil peluang kerja di Bandung dan Jakarta.

Akhirnya, saya mengambil keputusan untuk nggak menyambut dua peluang kerja di Bandung dan Jakarta.

Mengubah arah mimpi untuk bisa fokus ke keluarga

Setelah nggak mengambil dua peluang kerja di Bandung dan Jakarta, saya mengubah arah mimpi saya. Bahkan sejak saat itu sampai sekarang, saya sudah nggak pengin buat kerja dan berkarier di kota-kota besar yang jauh dari rumah. Saya melupakan Bandung, Jakarta, juga Jogja. Rasanya akan lebih bijak kalau saya cari kerja dan membangun karier di sini saja yang dekat dengan rumah, yang bisa pulang kapan pun. Ya, sembari menjaga Ibu, lah.

Untungnya Tuhan juga masih memberi saya jalan. Di sini, di kota tempat saya lahir dan besar, saya masih bisa kerja dan punya karier. Ya meskipun secara pendapatan masih di bawah pendapatan kalau saya ambil peluang kerja di Bandung dan Jakarta. Secara perjalanan karier juga nggak secepat di kota besar. Nggak apa-apa juga, yang penting Ibu bisa dekat dengan saya, dan saya bisa ada kalau Ibu butuh apa-apa.

Tapi kalau mengingat lagi momen-momen itu, ada perasaan sedihnya juga, sih, nggak ambil dua peluang emas itu. Ah, ya sudah, lah.

Penulis: Iqbal AR
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Keluh Kesah Pekerja di Bandung Punya Bos Banyak Drama, Dipecat H-2 Gajian Gara-gara Abaikan WA Bos yang Tak Masuk Akal

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version