Ada yang mengira, ketika sebuah cerpen atau puisi dimuat di koran, penulisnya sedang mendapatkan rezeki besar. Ada pula yang menganggap semakin sering seseorang menulis dan karyanya dimuat media, semakin tebal pula isi rekeningnya. Anggapan semacam itu beberapa kali saya temui dari teman-teman sendiri.
Padahal, di balik sebuah karya yang berhasil menembus meja redaksi, ada proses panjang: menulis, mengirim, menunggu berbulan-bulan, menerima penolakan, mengirim lagi, dan jika beruntung karya tersebut akhirnya dimuat. Itu pun belum tentu mendapatkan honor.
Dari pengalaman-pengalaman kecil semacam itulah saya kemudian sampai pada sebuah adagium, “Hidup-hidupilah sastra, jangan mencari hidup di sastra.”
Jika Muhammadiyah mempunyai semboyan “Hidup-Hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah”, dunia sastra bagi saya juga mempunyai semacam adagium serupa. Bukan karena saya tiba-tiba terinspirasi untuk membuatnya, melainkan karena berhadapan langsung dengan realitas kehidupan para penulis sastra.
Memang ada penulis di Indonesia yang mampu hidup dari karya sastra. Namun, jumlahnya tidak banyak. Mereka yang berhasil menjadikan sastra sebagai sumber penghidupan pun tentu melewati proses panjang yang tidak selalu terlihat oleh pembaca.
Chat dari teman perihal honor menulis
Dua tahun belakangan ini saya mulai memfokuskan diri menulis sastra, khususnya puisi dan cerpen. Karya-karya tersebut tidak saya biarkan mengendap begitu saja di laptop. Saya mengirimkannya ke berbagai media, baik daring maupun cetak, nasional maupun daerah.
Kegiatan tersebut saya lakukan di sela-sela rutinitas pekerjaan yang memang masih berhubungan dengan dunia menulis.
Untuk mengirimkan karya, saya menggunakan sistem rolling. Jika cerpen atau puisi ditolak media A, saya mengirimkannya ke media B. Jika kembali ditolak, saya kirim ke media C, begitu seterusnya. Bagi penulis yang terbiasa mengirimkan karya ke media, penolakan sebenarnya bukan sesuatu yang istimewa. Ia adalah bagian dari perjalanan.
Jika karya akhirnya dimuat, biasanya saya membagikannya di media sosial. Bukan semata-mata untuk pamer, melainkan berharap ada yang membaca. Syukur-syukur jika ada yang memberikan tanggapan atau masukan.
“Beres cair,” balas salah satu teman saya pada unggahan Instastory berkaitan dengan cerpen saya yang dimuat di koran lokal. Dan komentar semacam itu banyak saya terima.
Baru-baru ini ada seorang teman lama mengirimkan pesan melalui Instagram. Bukannya menanyakan kabar, ia malah menanyakan berapa banyak tabungan yang saya kumpulkan dari mengirimkan puisi dan cerpen.
Entah apa motifnya menanyakan demikian. Apakah sekedar basa-basi atau memang ada maksud tertentu, hanya dia dan Tuhan yang tahu. Agaknya dia mengira hari-hari saya hanya diisi dengan menulis karya sastra dan menerima honor.
Cerita lainnya datang dari seorang teman yang pernah meminjam uang kepada saya. Saya tidak bisa meminjamkan karena memang sedang tidak punya. Namun, responnya sungguh menyebalkan, membuat saya geleng-geleng kepala. Dia mengira saya punya banyak uang karena cerpen dan puisi saya baru saja nangkring di salah satu koran.
Tidak semua media yang memuat cerpen dan puisi itu ada honornya
Tidak semua media memberikan honor untuk cerpen dan puisi yang dimuat. Perihal ada atau tidaknya honor, sudah dicantumkan dalam syarat dan ketentuan pengiriman karya.
Sebagian media, terutama media lokal, memang tidak menyediakan honor. Meski demikian, ada pula media lokal yang memberikan honor, walaupun jumlahnya tentu tidak sebesar bayangan sebagian orang.
Begitu juga dengan media nasional. Ada media yang memberikan honor, tetapi ada pula yang tidak. Bahkan beberapa media yang dahulu memberikan honor kepada penulis sastra kini sudah tidak lagi menyediakannya.
Mengapa demikian? Saya sendiri tidak tahu persis.
Namun, dari sini kita bisa melihat bahwa menjadi penulis sastra bukan seperti bekerja di kantor yang setiap akhir bulan menerima gaji dengan nominal yang relatif pasti.
Tidak ada tanggal tertentu yang menjamin uang masuk ke rekening hanya karena kita telah menulis. Hari ini kita menulis. Besok mengirim. Kemudian menunggu. Bisa dimuat, bisa pula ditolak. Jika dimuat, belum tentu ada honor. Jika ada honor, jumlahnya pun tidak selalu besar. Karena itu, menganggap setiap karya yang dimuat sebagai pemasukan adalah sebuah kekeliruan.
Hidup dari menulis sastra penuh ketidakpastian
Jika ingin menggantungkan kehidupan sepenuhnya dari menulis cerpen dan puisi lalu mengirimkannya ke media, bersiaplah menghadapi ketidakpastian.
Bayangkan sebuah cerpen yang sudah selesai ditulis kemudian dikirim ke media. Karya tersebut belum tentu dimuat. Kalaupun dimuat, proses menunggunya bisa panjang.
Sementara kebutuhan hidup tidak mengenal sistem antrean redaksi. Perut tidak bisa menunggu sampai cerpen selesai dikurasi. Tagihan listrik tidak bisa dibayar dengan kalimat indah. Dan, kebutuhan sehari-hari tidak bisa ditunda hanya karena sebuah puisi sedang menunggu keputusan redaktur.
Persoalannya akan semakin rumit ketika seseorang sudah berkeluarga dan memiliki anak. Apakah istri dan anak akan kenyang hanya dijajali dengan diksi? Apakah uang sekolah anak bisa diganti dengan puisi dan cerpen? Tentu tidak.
Katakanlah kebutuhan hidup seseorang dalam satu bulan mencapai Rp3 juta. Sementara honor sebuah cerpen atau puisi, misalnya, Rp100.000. Secara matematis, diperlukan sekitar 30 karya berhonor dalam sebulan agar kebutuhan tersebut terpenuhi.
Akan tetapi, persoalannya tentu tidak sesederhana itu. Apakah 30 tulisan tersebut pasti dimuat? Belum tentu. Apakah semuanya memberikan honor? Belum tentu juga. Apalagi media nasional memiliki proses kurasi yang ketat. Jumlah penulis yang mengirimkan karya juga tidak sedikit, sementara rubrik sastra hanya terbit pada waktu-waktu tertentu.
Menulis buku pun bukan jaminan seseorang bisa hidup dari sastra. Pada penerbit mayor, misalnya, penulis umumnya mendapatkan royalti berdasarkan persentase tertentu dari penjualan buku. Artinya, agar penghasilan menjadi besar, bukunya juga harus terjual dalam jumlah besar.
Sementara jika menerbitkan buku secara mandiri (indie), persoalannya tidak jauh berbeda. Buku harus terjual setidaknya untuk mengembalikan modal, baru kemudian berharap memperoleh keuntungan. Belum lagi jika memiliki teman bermental gratisan. Bukannya membeli buku, malah berkata, “Boleh minta satu?”
Penulis memang bisa saja memberikan. Namun, kalau terlalu banyak yang meminta gratis, lama-lama penulis juga bisa bertanya dalam hati. Lalu saya makan apa?
Lalu, mengapa masih menulis sastra?
Jika menulis sastra tidak menjanjikan penghidupan yang pasti, lalu mengapa saya masih melakukannya? Jawaban saya sederhana: cinta. Ini soal hati, Dek. Hehehe.
Cinta memang sering kali sulit dijelaskan dengan kata-kata. Begitu pula alasan seseorang tetap menulis ketika hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan tenaga dan waktu yang dikeluarkan.
Ada kepuasan tersendiri setelah menyelesaikan sebuah cerpen atau puisi. Ada perasaan bahagia ketika tulisan tersebut akhirnya dimuat di media. Apalagi jika ada pembaca yang memberikan tanggapan atau mengatakan bahwa tulisan tersebut memberikan sesuatu bagi dirinya.
Bagi saya, menulis sastra juga merupakan salah satu cara memberikan manfaat kepada orang lain. Beberapa cerpen saya pernah dijadikan objek penelitian, baik untuk jurnal, skripsi, tesis. Ketika mengetahui bahwa tulisan yang saya buat ternyata dibaca secara serius dan digunakan sebagai bahan penelitian, ada kebahagiaan tersendiri.
Pada titik itu saya merasa bahwa tulisan saya tidak sia-sia. Mungkin saya tidak mendapatkan uang dari tulisan tersebut. Namun tulisan itu memberikan manfaat bagi orang lain. Dan bagi saya, di situlah salah satu bentuk kebermanfaatan sastra. Kalau kemudian dari tulisan tersebut saya mendapatkan honor tentu saya bersyukur. Tulisan mendapatkan apresiasi, tentu saya senang. Saya jadi dikenal orang karena tulisan pun saya nggak nolak. Namun, semua itu saya anggap sebagai bonus.
Sastra sebagai jalan, bukan semata-mata penghidupan
Menulis sastra dengan niat mencari penghidupan sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Seorang penulis tentu berhak mendapatkan penghasilan dari karya yang dibuatnya. Yang perlu dipikirkan adalah ketika seseorang menjadikan sastra sebagai satu-satunya sandaran ekonomi, sementara ekosistemnya sendiri penuh dengan ketidakpastian.
Tidak semua karya dimuat, sekalipun dimuat tidak semua mendapatkan honor. Tidak semua buku yang diterbitkan laku. Dan tidak semua apresiasi terhadap karya hadir dalam bentuk uang.
Karena itu, jika ada seseorang yang ingin terjun ke dunia sastra dengan tujuan utama mencari penghidupan, menurut saya, pikirkanlah baik-baik. Ketahui medan yang akan dihadapi. Jangan hanya melihat penulis yang sudah berhasil, tanpa melihat proses panjang yang mereka lalui. Namun jika sudah terlanjur basah, tidak ada salahnya mengubah cara pandang.
Pesan saya, jangan menjadikan honor sebagai satu-satunya alasan untuk menulis. Sebab pada akhirnya, ada karya yang mungkin tidak menghasilkan uang, tetapi menghasilkan manfaat. Ada tulisan yang tidak membuat rekening bertambah, tetapi membuat seseorang berpikir. Ada puisi yang tidak mampu membayar tagihan, tetapi mampu menemani seseorang melewati hari yang berat.
Penulis: Malik Ibnu Zaman
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
