Informasi
ADVERTISEMENT

Sandwich Aoka, Harga (Terlalu) Murah, Rasanya Sama Sekali Nggak Bercanda

Sandwich Aoka, Harga (Terlalu) Murah, Rasanya Sama Sekali Nggak Bercanda

Sandwich Aoka memang enak

Pada dasarnya, Sandwich Aoka ini benar-benar memanjakan lidah para konsumen. Bayangkan saja, hanya dengan dua ribu, kita bisa menikmati sandwich dengan roti empuk dan selai yang berlimpah. Pasti jarang dong kita temukan baik roti maupun sandwich dengan harga serupa yang menawarkan kualitas yang sama. Biasanya, jajanan roti dan sandwich yang ada di warung-warung rotinya tidak seempuk dan selainya tidak selumer apa yang ada di sandwich Aoka.

Untuk penunda lapar, roti Aoka juga cukup mengenyangkan. Apalagi di jam nanggung sekitar jam sembilanan. Cocok banget lah pokoknya untuk dimakan diam-diam di kelas.

Bikin kita mikir

Selain bikin kenyang, kehebatan dari sandwich ini menurut saya dapat menaikkan kecerdasan emosi dari para pembeli. Khususnya untuk varian rasa vanila dan stroberi yang warna kemasannya tidak sesuai.

Saya juga pernah menjadi korban ketika pertama kali saya membeli varian rasa tersebut. Karena varian rasa vanila kemasannya warna ungu yang saya kira rasa anggur dan stroberi yang warna kemasannya hijau yang saya kira rasa pandan. Dari situ membuat saya harus beristighfar karena bungkusnya telah mengecoh saya.

Usulan untuk manajemen Aoka

Saya ingin usul untuk manajemen Aoka, agar menghadirkan sandwich Aoka di Indomaret dan Alfamart (eh, apa udah? Ah mbuh). Apalagi di rest area, yang jelas dibutuhkan oleh pengendara yang menggilas jalan.

Saya rasa, hegemoni sandwich Aoka ini memang tak perlu dipertanyakan lagi. Rasa enak, harga (kelewat) murah, bikin roti ini akan jadi top of mind, bahkan bisa jadi untuk beberapa tahun ke depan. 

Penulis: Fajar Novianto Alfitroh
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Roti Gulung Aoka: Harga Sama, Kenyang Lebih Lama

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 November 2023 oleh .

Fajar Novianto Alfitroh

Seorang mahasiswa di Jogja yang sedang mencoba mengakrabkan diri dengan ritme kotanya yang tenang. Di sela tumpukan buku dan tugas yang tak ada habisnya.

Exit mobile version