Sales: Pekerjaan yang Tidak Pernah Dicita-Citakan, tapi Sulit untuk Ditinggalkan

Sales: Pekerjaan yang Tidak Pernah Dicita-Citakan, tapi Sulit untuk Ditinggalkan

Sales: Pekerjaan yang Tidak Pernah Dicita-Citakan, tapi Sulit untuk Ditinggalkan (Unsplash)

Semua bermula dari obrolan ringan di teras rumah di Minggu pagi. Waktu itu matahari belum terlalu galak, kopi masih hangat, dan hidup terasa cukup damai—setidaknya sebelum Senin datang. Istri saya, sambil menggulir layar ponselnya, tiba-tiba nyeletuk, “Dulu waktu sekolah ada nggak sih temanmu yang bercita-cita jadi sales?”

Saya berhenti menyeruput kopi. Otak saya bekerja keras mengingat masa lalu: upacara bendera, buku cita-cita, lomba tujuh belasan, dan pertanyaan klise guru, “Kalau besar mau jadi apa?”

Jawabannya selalu itu-itu saja. Dokter, insinyur, pilot, tentara, atau kalau agak kreatif: arsitek. Tidak pernah, atau sangat jarang, ada anak yang dengan penuh keyakinan berkata, “Bu Guru, cita-cita saya mau jadi sales, biar bisa kejar target bulanan.”

Sales, dalam imajinasi masa kecil kita, bukanlah profesi Impian. Ia tidak tampil gagah di poster, tidak sering jadi tokoh utama di buku pelajaran, dan hampir tidak pernah disebut dalam pidato motivasi saat kelulusan. Padahal anehnya, ketika dewasa, justru profesi inilah yang paling sering kita temui-dan diam-diam menopang hidup banyak orang.

Sales: profesi yang terlihat sederhana, tapi bikin mental sekuat baja

Tidak bisa dimungkiri, pekerjaan sales memang berat. Beratnya bukan cuma di kaki yang harus mondar-mandir, tapi juga di kepala dan mental. Target omzet menggantung seperti awan gelap di kalender setiap awal bulan. Atasan menagih angka, bukan alasan. Pasar tidak peduli niat baik, yang penting transaksi jadi.

Belum lagi faktor eksternal yang kadang terasa kejam. Daya beli turun, ekonomi sedang lesu, kompetitor banting harga, konsumen makin pintar dan makin cerewet. Di satu sisi sales dituntut optimis, di sisi lain realitas sering tidak ramah.

Sales adalah profesi yang mengajarkan satu hal pahit sejak dini: kerja keras tidak selalu berbanding lurus dengan hasil. Kamu bisa sudah presentasi rapi, baju licin, senyum maksimal, tapi klien bilang, “Kami pikir-pikir dulu ya.” Dan “pikir-pikir dulu”itu sering kali artinya tidak pernah jadi.

Selalu ada yang (masih) bertahan

Namun anehnya, di tengah tekanan yang tampak tidak manusiawi itu, selalu ada orang-orang yang bertahan. Bahkan bukan sekedar bertahan, tapi menikmatinya. Tantangan yang justru bikin ketagihan. Bagi orang luar, tekanan di dunia sales terlihat seperti siksaan. Tapi bagi seorang sales sendiri, justru di situlah letak kenikmatannya. Tantangan bukan beban, melainkan bahan bakar.

Ada sensasi tersendiri ketika target yang kelihatannya mustahil pelan-pelan didekati. Ada kepuasan yang sulit dijelaskan saat angka di laporan berubah warna dari merah ke hijau. Adrenalin naik ketika deal besar akhirnya ditandatangani, apalagi kalau terjadi di menit-menit terakhir bulan berjalan.

Sales adalah profesi yang memberi rasa “hidup.” Naik-turunnya terasa nyata. Hari ini bisa seperti pahlawan perusahaan, besok bisa merasa seperti beban divisi. Tapi justru dinamika itulah yang membuat betah. Hidup terasa terlalu datar kalau semua berjalan lurus dan bisa ditebak. Bagi sebagian, orang sales bukan sekedar pekerjaan, tapi arena pembuktian diri. Tempat ego, keberanian dan keuletan diuji secara harian.

Tidak mau keluar setelah pernah masuk

Ini bagian yang sering tidak disadari orang: sales itu kayak gampang dimasuki, tapi sulit untuk ditinggalkan. Banyak orang yang awalnya masuk jadi sales karena “sementara”, “coba-coba cari pengalaman kerja”, atau “sambil menunggu kesempatan lain”. Tapi entah bagaimana, tahun demi tahun berlalu, dan mereka masih di sana.

Salah satu alasannya tentu soal insentif. Hampir tidak ada profesi lain yang memberi penghasilan melonjak drastis dalam waktu singkat seperti sales. Gaji pokok yang sudah lumayan, ditambah bonus, komisi, dan fasilitas bisa membuat gaya hidup naik kelas.

Selain uang, ada pengalaman yang mahal nilainya. Sales bertemu banyak orang, dari berbagai latar belakang. Mereka belajar membaca karakter, bernegosiasi, mengelola emosi, dan tidak menelan penolakan tanpa drama berlebihan. Ini soft skill yang tidak diajarkan di bangku kuliah, tapi sangat berguna di kehidupan mana pun.

Sekali merasakan ritme hidup sales-dinamis, penuh interaksi, dan berbasis hasil- pekerjaan lain kadang terasa terlalu sepi. Terlalu sunyi. Terlalu birokratis.

Sales dan mesin ekonomi yang jarang disorot

Sering kali sales hanya dilihat sebagai ujung tombak perusahaan. Padahal perannya jauh lebih besar dari itu. Dari sisi ekonomi mikro, sales adalah tulang punggung keberlangsungan bisnis. Tanpa penjualan, strategi sehebat apa pun hanya akan jadi presentasi PowerPoint yang rapi tapi sia-sia.

Sales memastikan produk bergerak, stok berputar, gaji karyawan dibayar, dan roda perusahaan terus berjalan. Mereka adalah penghubung ide di ruang rapat dengan realitas pasar di lapangan.

Dari sisi makro, peran sales juga tidak kalah penting. Mereka ikut menggerakan pola konsumsi masyarakat. Sales memperkenalkan produk baru, membentuk preferensi, dan kadang menciptakan kebutuhan. Apa yang akhirnya kita beli, gunakan, dan konsumsi sehari-hari, sering kali melewati proses panjang yang ujungnya ada kerja sales.

Ironisnya, peran sebesar itu jarang mendapat panggung. Sales tetap dipandang sebagai pekerjaan “kelas dua”dalam hierarki cita-cita sosial. Padahal tanpa mereka, ekonomi akan jalan pincang.

Profesi yang tidak pernah jadi impian, tapi nyata menopang hidup

Mungkin memang begini takdir sales: tidak pernah jadi jawaban saat ditanya cita-cita, tapi sering jadi jawaban saat hidup butuh penghidupan. Ia tidak glamor di masa kecil, tapi sangat relevan ketika dewasa.

Sales mengajarkan satu pelajaran penting:hidup tidak selalu apa yang kita impikan, tapi tentang apa yang kita jalani dengan serius. Di balik target, tekanan, dan penolakan, ada profesionalisme dan daya tahan yang jarang dibicarakan.

Maka mungkin benar, sales adalah pekerjaan yang tidak pernah menjadi cita-cita. Tapi justru di sanalah letak kejujurannya. Ia tidak lahir dari mimpi anak kecil, melainkan dari keberanian menghadapi kedewasaan. Dan di dunia yang penuh ilusi kesuksesan instan, sales berdiri sebagai pengingat paling manusia: hidup tidak selalu apa yang kita impikan, tapi tentang apa yang mau kita jalani dengan sungguh-sungguh, di situlah letah keajaibannya.

Penulis: Bonifacius Herlambang
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kerja Jadi Sales: Gampang Masuknya, Susah Menjalaninya 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version