Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Rumah Saya Jadi Alamat Penerima Paket Tetangga Saya, dan Itu Menyebalkan

Muhammad Raihan Nurhakim oleh Muhammad Raihan Nurhakim
8 Juli 2022
A A
Rumah Saya Jadi Alamat Penerima Paket Tetangga Saya, dan Itu Menyebalkan

Rumah Saya Jadi Alamat Penerima Paket Tetangga Saya, dan Itu Menyebalkan (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Banyak orang jadiin rumah saya alamat penerima paket, dan itu nggak menyenangkan

Di sini saya ingin menceritakan sedikit pengalaman saya dengan persoalan alamat pengiriman paket. Kalau kemarin sudah ada keluh kesah dari sudut pandang kurir tentang pengiriman paket, khususnya paket COD, sekarang giliran saya sebagai orang yang rumahnya sering dikirimin paket punya orang lain yang bercerita.

Perlu pembaca ketahui, rumah saya (rumah orang tua saya maksudnya) berada di sebuah komplek yang cukup luas. Tapi, komplek yang luas tersebut tidak didukung dengan petunjuk jalan yang memadai. Sedikit sekali jalan yang ada papan namanya. Kalaupun ada, paling sudah cukup karatan sehingga agak susah dibaca dari kejauhan. Saya sendiri kadang masih suka nyasar ketika main ke daerah belakang komplek karena memang hampir tidak ada papan nama jalan yang bisa dijadikan pedoman.

Selain itu, komplek yang saya tinggali adalah komplek lama yang dibangun lebih dari 20 tahun yang lalu. Satu masalah yang hampir pasti ditemui di komplek lama adalah tata letak rumah dan jalannya tidak membentuk pola tertentu. Dalam kasus saya, Bentuk kompleknya itu bukan seperti persegi yang dibagi-bagi oleh garis vertikal dan horizontal, tetapi seperti tumpahan air di lantai yang coba dibuat batas-batasnya dengan jari.

Kalau kalian tidak paham bagaimana bentuk kompleknya, berarti sebenarnya kalian sudah paham, karena bentuknya memang tidak jelas. Anggap saja bentuknya seperti labirin Maze Runner, bedanya hanya tidak ada rintangan mematikan dan monster ganas yang mengganggu. Nyari alamat tetangga aja kadang susah, apalagi mikirin alamat pengiriman paket, ye kan?

Oke, lanjut. Kondisi seperti itulah yang menyebabkan kurir-kurir pemula atau bukan berasal dari daerah sekitar situ kesulitan untuk mencari alamat penerima paket yang lokasinya ada di komplek saya. Tentu, dalam hal ini kurir tidak bisa disalahkan seandainya mereka kesulitan mencari alamat tertentu. Tata letak rumah dan jalannya saja tidak jelas. Masa iya kurirnya harus dipaksa mengubah tata letaknya agar mudah mencari rumah penerima paket ? Kan nggak bisa juga.

Lagi pula, kalaupun setiap kurir diberkahi kemampuan sakti seperti itu, tetap saja akan sulit untuk menemukan alamat rumah di komplek ini. Penyebabnya adalah karena kebanyakan rumah di sini tidak menuliskan nomor dan bloknya di dinding rumah mereka. Saya kurang tahu alasan kenapa hal tersebut bisa terjadi. Padahal, setahu saya semua rumah di komplek itu pasti memiliki nomor dan bloknya masing-masing, meskipun itu di komplek tidak jelas seperti tempat saya tinggal.

Berdasarkan kondisi seperti itulah, mereka-mereka yang tidak menuliskan nomor dan bloknya, menggunakan rumah saya sebagai patokan dalam alamat penerima paket. Kenapa rumah saya yang dijadikan patokan?

Baca Juga:

Kuliah Jurusan Manajemen dan Administrasi Logistik Diremehkan karena Dikira Lulusannya Cuma Bisa Antar Paket

Di Mata Kurir, Metode Pembayaran COD Lebih Baik Dihapuskan

Begini, persis di depan rumah saya itu terpasang sebuah plang nama ibu saya. Kebetulan ibu saya memang bekerja di rumah. Jadi, untuk memudahkan orang mencari alamatnya, dibuatlah plang tersebut. Namun, sejak belanja online ini merajalela, plang tersebut dijadikan patokan alamat penerima paket bagi hampir semua orang di blok rumah saya yang berbelanja online. Hal ini kadang membuat saya kesal karena setiap kurir selalu berusaha bertanya ke orang di rumah saya terkait alamat yang akan dituju. Waktu datangnya pun kadang sangat mengganggu, entah itu di saat semua orang sedang tidur, bersantai, atau sedang ada tamu di rumah.

Bahkan, hal yang lebih menjengkelkannya lagi, mereka-mereka ini, sering menggunakan alamat rumah saya sebagai alamat penerima paket. Kalau hanya sekadar patokan, saya masih tidak terlalu memikirkannya, meskipun sebenarnya agak terganggu juga. Tapi, kalau sudah menggunakan alamat saya sebagai alamat penerima, itu sudah keterlaluan.

Sering sekali kurir datang dan membunyikan pagar rumah saya lalu mengatakan ada paket untuk alamat saya. Biasanya saya dan keluarga akan menanyakan orang rumah terlebih dahulu, apakah ada yang memesan sesuatu secara online atau tidak. Kalau ternyata tidak, tentu paket tersebut akan kami tolak. Tapi, sang kurir juga pasti akan mengatakan bahwa alamat yang tertera adalah alamat saya. Tak tanggung-tanggung, sang kurir juga biasanya langsung menunjukkan alamat yang tercantum dalam paket.

Setelah dilihat, tentu alamat yang tertera adalah alamat saya. Namun, nama pemesan paketnya adalah nama seseorang yang bahkan saya tidak kenal. Kadang, namanya pun terlihat seperti nama asal-asalan. Sejujurnya, saya juga merasa iba kepada kurirnya, mendapat pengiriman paket yang alamat dan kadang nama penerimanya pun tidak jelas. Tapi, mau bagaimana lagi, saya tidak bisa membantu karena nama yang dicantumkan pun tidak saya kenal.

Pada awalnya, saya merasa bahwa mereka menggunakan alamat saya secara sengaja, mungkin agar lebih mudah ditemukan oleh kurir. Namun, setelah beberapa kali mengalami kejadian semacam itu, saya berhasil merumuskan hipotesis untuk menjawab masalah tersebut.

Penyebab kenapa banyak sekali paket yang mengatasnamakan alamat saya adalah karena memang di dalam Google Maps rumah manapun yang dituju, beberapanya selalu menampilkan alamat saya. Hal ini pertama kali saya sadari saat ingin mengecek rute perjalanan rumah saya. Saat menentukan lokasi keberangkatan, saya iseng-iseng menggeser pin lokasinya, yang warna merah itu. Ternyata, setelah di geser ke beberapa tempat pun, tetap alamat saya yang muncul di kolom lokasi keberangkatanya.

Mungkin ini terjadi karena hanya alamat saya yang terpetakan oleh Google Maps, makanya jadi alamat penerima paket. Sedangkan alamat rumah lain, karena tidak menuliskan nomor dan bloknya di dinding depan rumah, tidak terpetakan. Atau, entahlah, saya juga tidak mengerti bagaimana sistem pemetaan Google Maps bekerja.

Padahal bisa kan alamatnya diketik dengan jelas, dan diberi catatan tambahan. Saya sih sebenarnya nggak masalah kalau rumah saya jadi patokan. Tapi, mbok ya jangan dijadikan kebiasaan. Kalau tiap hari ada kurir ya kita yang kerepotan. Masih harus menerima kurir, masih harus berurusan dengan klean-klean ini. Atau kalau nggak, kirim paket ke kantor aja. Lebih jelas, Gaes.

Itulah uneg-uneg saya terkait duka rumah dijadikan patokan alamat paket. Ini bisa jadi catatan buat siapa saja, entah orang yang mau beli rumah, pengembang, atau pemerintah yang mau mengembangkan daerah. Penataan perumahan yang jelas itu efek positifnya banyak, dan nggak sekadar perkara kerapian saja, tapi juga menyangkut kenyamanan hidup penghuninya.

Penulis: Muhammad Raihan Nurhakim
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Buat Penjual Online kayak Kami, Pembeli via COD Emang yang Paling Rese Sih

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 8 Juli 2022 oleh

Tags: alamatkomplek perumahanpaketpenerima
Muhammad Raihan Nurhakim

Muhammad Raihan Nurhakim

Mahasiswa hukum yang tidak ingin jadi pengacara, apalagi hakim.

ArtikelTerkait

Repotnya Warga Kecamatan Pasongsongan Sumenep ketika Belanja Online, Perlu "Pindah" Kecamatan Dulu Mojok.co

Repotnya Warga Pasongsongan Sumenep ketika Belanja Online, Perlu “Pindah” Kecamatan Dulu

12 Januari 2024
Lika-liku Kurir Paket: Paket Banyak, Sambat. Paket Dikit, Bingung

5 Dosa Pembeli kepada Kurir yang Perlu Kalian Ketahui

19 Mei 2023
4 Hal yang Bisa Dibanggakan Orang yang Tinggal di Kampung pada Penghuni Perumahan

4 Hal yang Bisa Dibanggakan Orang yang Tinggal di Kampung pada Penghuni Perumahan

17 Agustus 2023
Susah-susah Kuliah Jurusan Manajemen dan Administrasi Logistik Malah Diremehkan karena Dikira Cuma Bisa Antar Paket Mojok.co

Kuliah Jurusan Manajemen dan Administrasi Logistik Diremehkan karena Dikira Lulusannya Cuma Bisa Antar Paket

22 Agustus 2025
Di Mata Kurir, Metode Pembayaran COD Lebih Baik Dihapuskan Mojok.co kurir paket

Di Mata Kurir, Metode Pembayaran COD Lebih Baik Dihapuskan

7 Januari 2025
Sariwangi, Desa Elite di Bandung Barat dengan Kondisi Jalan Sulit

Sariwangi, Desa Elite di Bandung Barat dengan Kondisi Jalan Sulit

21 Juni 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Tips Berburu Diskon Pakai ShopeeFood Deals biar Tetap Kenyang Tanpa Merasa Ditipu

4 Tips Berburu Diskon Pakai ShopeeFood Deals biar Tetap Kenyang Tanpa Merasa Ditipu

27 Januari 2026
MU Menang, Dunia Penuh Setan dan Suram bagi Fans Liverpool (Unsplash)

Sejak MU Menang Terus, Dunia Jadi Penuh Setan, Lebih Kejam, dan Sangat Suram bagi Fans Liverpool

1 Februari 2026
Kopi Klotok Jogja Tidak Buka Cabang (Foto milik Hammam Izzudin)

Kopi Klotok Jogja Tidak Buka Cabang karena Fenomena Ndeso Itu Mewah Tidak Bisa Ditiru

26 Januari 2026
Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

31 Januari 2026
Pronosutan Kulon Progo, Tujuan Baru para Pelari dan Pencari Ketenangan

Pronosutan Kulon Progo, Tujuan Baru para Pelari dan Pencari Ketenangan

26 Januari 2026
3 Kebohongan tentang Lembang yang Perlu Diluruskan

3 Kebohongan tentang Lembang yang Perlu Diluruskan

27 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis
  • DLH Jakarta Khilaf usai Warga Rorotan Keluhkan Bau Sampah dan Bising Truk dari Proyek Strategis Sampah RDF
  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.