Review Honda PCX 150 Setelah Setahun Pemakaian

honda pcx 150 review mojok

honda pcx 150 review mojok

Sudah setahun lebih saya menggunakan Honda PCX 150. Motor yang sering dianggap sebagai jet darat ini saya beli di tahun 2019 akhir, menggantikan Honda BeAt yang sudah menemani saya selama tiga tahun, setelah CBR saya dimaling. Bajingan.

Selama setahun ini, saya hampir tak pernah menggunakan motor lain dalam keseharian saya. Dan motor ini hanya rusak sekali, itupun karena kebodohan saya lupa mematikan motor alias akinya tekor. Overall, motor ini adalah motor ternyaman yang pernah saya punya.

Namun, perubahan itu pasti. Setelah setahun motor ini saya gunakan, tidak mungkin ada yang tidak berubah, entah dari pengalaman berkendara atau hal lain yang berhubungan dengan motor. Maka, di sini saya akan memberikan review Honda PCX 150 setelah satu tahun penggunaan.

Review ini bisa kalian baca jika kalian kepengin beli Honda PCX 150 bekas. Lho, kenapa bekas? Soalnya udah ada varian baru dari seri ini, yaitu PCX 160. Ya aneh lah kalian ke dealer beli motor seri lawas kalau udah ada updatenya. Lagian yang varian ini di-update total, bukan ganti striping doang.

Sebelum mulai, saya mau kasih peringatan dulu. Di sini, saya nggak akan gunakan bahasa reviewer yang canggih, ini pure saya beri pengalaman berkendara. Kenapa? Ya nggak apa-apa, daripada saya bingung dan kalian ikutan bingung.

Yang pertama ingin saya review adalah perkara kenyamanan. Jujur saja, Honda PCX 150 motor paling nyaman yang pernah saya gunakan. Oleh karena bisa selonjor dan jok yang tebal, otomatis mengendarai motor ini jauh dari perasaan pegal dan capek. Peredam kejutnya pun lumayan dalam meredam getaran di jalan, apalagi di kecepatan tinggi.

Setahun kemudian, motor ini tetap nyaman digunakan. Tidak ada perubahan yang signifikan. Mungkin yang berubah adalah saya mulai merasakan getaran di stangnya. Bisa jadi itu gara-gara shock depan. Pokoknya, saya nggak kerasa capek saat mudik dari Jogja ke Wonogiri lewat jalur Bayat yang aspalnya konsisten. Konsisten remuk, maksudnya.

Yang kedua, adalah perkara mesin. Jujur saja, setelah satu tahun pemakaian, saya mulai merasakan mesin agak meronta ketika diajak berakselerasi. Raungannya mulai terdengar. Tapi, saya jamin bagi kalian yang nggak peka, raungan mesin itu nggak terdengar di kuping kalian. Namun, raungan itu bukan berarti motor ini mulai pelan atau ngos-ngosan. Tenaganya tetap sama aja kok.

Yang ketiga, adalah kaki-kaki. Well, sama seperti yang pertama, belum ada perubahan yang terasa selama setahun ini. Mungkin belum teruji saja, sebab saya jarang lewat jalanan yang ngeri. Tapi, apa ya tega motornya dibawa ke jalan yang remuk.

Yang terakhir, adalah bahan bakar. Selama setahun belakangan, saya merasa motor ini nggak makin boros. Cuma, dasarnya motor ini emang nggak bisa dibilang irit juga. Saya pikir kayaknya motor ini adalah motor Honda yang paling boros. Rasanya sih, lebih irit CBR150R ketimbang Honda PCX 150. Tapi, wajar lah.

Overall, setelah setahun, Honda PCX 150 masih amat nyaman digunakan. Saya awalnya skeptis sama motor ini, kuat nggak nih melibas jalur Klaten yang banyak lubangnya. Eh, ternyata kuat juga. Yang bikin nggak kuat cuma cicilannya. Kalau situ ambil DP 0 persen sih, tapi keknya nggak ada deh ya.

Tapi, saya akan beri beberapa hal untuk diperhatikan ketika mau beli PCX bekas. Sebenarnya hal ini nggak muncul karena penggunaan selama setahun, tapi tetep ada kaitannya. Makanya, harus saya tulis.

Kalian pasti pernah denger, kalau Honda PCX150 punya penyakit “nggredek” ketika putaran rendah. Maksudnya gini, motor terasa tersendat-sendat waktu pelan, dan kerasa banget di ban depan. Pokoknya kek gitu. Nah, setelah setahun, penyakit itu makin kerasa. Berkali-kali servis, penyakit itu motor tetap kambuh.

Selain itu, saya sarankan jangan gunakan Pertalite sebagai bahan bakar utama. Gunakan Pertamax. Kenapa? Karena motor ini punya performa yang amat berbeda ketika pakai bahan bakar yang berbeda. Pertalite bikin potensi motor Anda nggak muncul, rasanya berat gitu. Sebaliknya dengan Pertamax, lebih kerasa ganas tarikannya, serasa motor baru.

Yang terakhir, perhatikan aki. Logikanya, Honda PCX akinya lebih boros karena pakai keyless system. Jika kalian mau beli, pastikan dulu kualitas akinya gimana. Sebaiknya pertimbangkan untuk ganti aki kalau mau beli PCX bekas. Nggak sedikit orang mengeluh perkara aki PCX mereka tekor, jadi, siap-siap ganti aja.

Apakah Honda PCX 150 worth untuk dibeli setelah sekian lama? Jelas, apalagi buat kalian yang berkendara jarak jauh tiap harinya. Tapi, kalau tinggi badan kalian mepet dan nggak suka motor berbodi besar, sebaiknya cari motor lain saja karena ya susah pakai motor ini kalau tinggi badannya nggak nyampai. Jangan dipaksa, bahaya lho.

Sumber gambar: Akun YouTube History.

BACA JUGA Honda PCX? Motor Premium yang Susah Putar Balik Itu? dan artikel Rizky Prasetya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
Exit mobile version