Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Relasi Bunyi, Sebuah Usaha Merawat Interaksi Seni di Yogyakarta

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
3 Desember 2020
A A
Relasi Bunyi, Sebuah Usaha Merawat Interaksi Seni di Yogyakarta terminal mojok.co

Relasi Bunyi, Sebuah Usaha Merawat Interaksi Seni di Yogyakarta terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Merawat ruang berkesenian adalah salah satu upaya untuk melestarikan karya. Bagi para pelaku seni, hal ini adalah keharusan yang tak bisa ditinggalkan. Bagi saya pribadi, orang-orang yang menyukai seni apa pun bentuknya harus ikut andil dalam menjaga wadah atau ruang berkesenian. Relasi Bunyi, adalah salah satu contoh acara yang berusaha untuk menjaga wadah berkesenian.

Tak bisa dimungkiri, keistimewaan Jogja selain atmosfer menenangkan dan lampu kota yang membuatmu terbang dalam ketenangan, adalah melting pot kesenian. Orang dari kota mana pun akan meleburkan dirinya di dalam dunia kesenian Jogja, entah sebagai penikmat atau pelaku. Menurut saya, inilah keistimewaan yang paling istimewa di Jogja ini.

Relasi Bunyi adalah wadah kesenian yang digagas oleh Komunitas Sakatoya. Relasi Bunyi adalah suatu upaya yang dihadirkan untuk menambah ruang kesenian atau interaksi kesenian yang kadang jadi hal yang langka di Jogja. Sebentar, bagaimana bisa kota yang jadi melting pot seni dari banyak kota bisa kekurangan ruang kesenian? Akan saya jelaskan maksudnya.

Pelaku seni muncul dalam berbagai bentuk. Untuk musikus saja, ada banyak jenis musikus yang muncul di Jogja. Dari session player, musikus indie, musikus wedding, pengamen, komposer, dan lain-lain muncul di Jogja. Mereka membentuk sirkel-sirkel sendiri yang terkadang mempersempit gerak mereka. Hal itu memang tidak salah, toh pertemanan akan membentuk wadahnya sendiri, tapi jika kita bicara tempat untuk menyampaikan karya, segmentasi ini menjadikan kegiatan seni itu terpecah di banyak tempat. Interaksi antarseni yang tidak terfasilitasi akan menjadikan para pelaku seni kurang guyub.

Definisi dan realisasi guyub setiap orang beda-beda, saya tahu, kebutuhan guyub pun berbeda. Tapi, jika saya bisa berpendapat, kurangnya guyub akan membuat kesenian menjadi stuck di tempat yang sama. Terobosan dalam karya akan susah muncul jika pertukaran ide tidak terjadi sebagaimana mestinya.

Relasi Bunyi berusaha memberikan ruang untuk interaksi banyak bentuk seni dalam bentuk yang santai. Acara tersebut memberikan apa yang sering musikus—terlebih yang muncul dalam kampus yang memunculkan banyak seniman—idamkan, yaitu tempat manggung.

Saya sendiri merasakan bahwa kampus saya yang menjadikan seni sebagai napas kehidupan mahasiswa saja kurang menyediakan tempat untuk berkarya. Ketika keluar kampus jadi pilihan, saya tahu bahwa saya akan bersaing dengan banyak band yang punya kasus yang sama, namun ruang yang ditawarkan begitu sedikit. Ruang-ruang yang ada pun sudah tersegmentasi. Tentu saja ini bukan curhatan saya yang susah manggung, tapi hanyalah contoh bagaimana ruang kesenian untuk bersenang-senang kadang susah dicari.

Relasi Bunyi menangkap kegelisahan-kegelisahan yang ada. Komunitas Sakatoya bukanlah komunitas yang baru menggarap sedikit event kesenian, jadi ketika mereka menelurkan acara tersebut, saya yakin bahwa acara tersebut adalah anak yang lahir dari kegundahan orang-orang yang mampir di benak mereka.

Baca Juga:

Saya Semakin Muak dengan Orang yang Bilang Jogja itu Nggak Berubah Padahal Nyatanya Bullshit!

Bukannya Nggak Cinta Kabupaten Sendiri, Ini Alasan Warlok Malas Plesir ke Tempat Wisata di Bantul

Sekat-sekat yang dihilangkan dalam acara tersebut menjadikan acara tersebut adalah suatu acara yang tidak boleh dilewatkan dan harus diberi perhatian. Sekat terkadang memberikan kita rasa tumpul dalam apresiasi. Saya rasa tidak ada hal yang lebih celaka selain hidup di Jogja namun asing dalam apresiasi dan memahami seni karena terjebak dalam sekat?

Ruang yang ditawarkan bisa dimanfaatkan oleh banyak musikus atau pelaku seni lain untuk menunjukkan karya mereka yang selama ini masih dalam kandungan. Karya yang tak kunjung lahir akan membusuk dan menggerogoti si peracik karya hingga tak lagi ingin berkarya semata karena tak ada ruang. Jangan salahkan si pembuat karya yang lemah, catat ini dulu. Tidak semua punya kekuatan dalam berkarya yang sama, selagi ruang untuk berkesenian bisa dibuat dan selalu dijaga, kenapa harus mengutuk mentalitas?

Maka dari itu, Relasi Bunyi adalah acara yang patut untuk dilihat, didatangi, dan diapresiasi dengan tepuk tangan yang meriah. Dari sekian banyak orang yang datang ke Jogja dan terpukau akan kemungkinan menelurkan karya, jarang ada yang berpikir untuk merawat ruang dan memberikan wadah. Dan ketika ada sekelompok orang yang ingin menjaga marwah (cie) kesenian dengan memberikan tempat untuk karya lahir dan dinikmati oleh indra manusia, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah menjadi penonton untuk menjaga napas sekelompok orang tersebut.

Sebab, apresiasi—setidaknya bagi saya—adalah zat yang dibutuhkan bagi paru-paru pelaku seni agar otak mereka penuh dengan inspirasi.

BACA JUGA Panduan Memahami Bagaimana Hokage Dipilih dan artikel Rizky Prasetya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 1 Desember 2020 oleh

Tags: kesenianYogyakarta
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Founder Kelas Menulis Bahagia. Penulis di Como Indonesia.

ArtikelTerkait

Culture Shock

Culture Shock Anak Rantau di Jogja

29 Agustus 2019
Kata Siapa #YogyaTidakAman? Sembarangan!

Kata Siapa #YogyaTidakAman? Sembarangan!

29 Desember 2021
Jogja Hanya Cocok untuk Tempat Singgah, Kurang Nyaman Jadi Tempat Menetap Mojok.co

Jogja Hanya Cocok untuk Tempat Singgah, Kurang Nyaman Jadi Tempat Menetap

25 Oktober 2024
Daftar Dosa yang Kita Lakukan Saat Main GTA San Andreas TERMINAL mojok.co GTA MOD GTA 5 cheat

Ketika Game GTA: San Andreas Dibuat dalam Versi Yogyakarta

11 Juli 2020
ondel-ondel

Ondel-Ondel dan Riwayatnya Kini

12 September 2019
Depok, Kecamatan di Sleman yang Paling Red Flag di Mata Orang Bantul Mojok.co

Depok, Kecamatan di Sleman yang Paling Red Flag di Mata Orang Bantul

11 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Vespa Matic: Tampilannya Keren, tapi Payah di Jalan Nggak Rata dan Tanjakan Mojok.co

Vespa Matic, Motor Mahal yang Nggak Masuk Akal, Harga Setara Mobil Bekas, Fiturnya Minim!

21 Februari 2026
Saya Menemukan Ketenangan Bersama Muhammadiyah (Wikimedia Commons)

Saya Menemukan Ketenangan Bersama Muhammadiyah

24 Februari 2026
Manis Nastar Mengingatkan Saya akan Masa Lalu Pahit karena Cuma Bisa Menikmatinya di Rumah Tetangga Mojok.co

Manisnya Nastar Mengingatkan Saya akan Masa Lalu yang Pahit karena Cuma Bisa Menikmatinya di Rumah Saudara

26 Februari 2026
Pengalaman Bertahun-tahun Naik Honda Revo, Motor Paling Nggak Ribet dan Tahan Banting yang Pernah Ada Mojok.co

Pengalaman Bertahun-tahun Naik Honda Revo, Motor Paling Nggak Ribet dan Tahan Banting yang Pernah Ada

21 Februari 2026
6 Oleh oleh Khas Jogja Paling Red Flag- Cuma Bikin Sakit Hati! (Wikimedia Commons)

6 Oleh oleh Khas Jogja Paling Red Flag, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Sakit Hati

22 Februari 2026
Toyota Fortuner Mobil Mahal yang Terlihat Murahan karena Cara Berkendara Pengemudinya Mojok.co

Toyota Fortuner Mobil Mahal yang Jadi Terlihat Murahan karena Cara Berkendara Pengemudinya

23 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali
  • Anak Muda Jadi Ketua RT: Antara Kerja Kuli, Keikhlasan, dan Dewasa Sebelum Waktunya
  • Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur
  • Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman
  • Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga
  • Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.