Informasi
ADVERTISEMENT

Awalnya khawatir meninggalkan Jakarta untuk hidup di Pasuruan, lama-lama malah nyaman dan bersyukur sudah pindah

Awalnya khawatir meninggalkan Jakarta untuk hidup di Pasuruan, lama-lama malah nyaman dan bersyukur memutuskan pindah Mojok

Pindah dari Jakarta ke Pasuruan ternyata nggak seburuk dalam bayangan.

Pindah tempat tinggal bukanlah perkara sepele, bahkan bagi seseorang yang hidupnya sudah terbiasa berpindah-pindah daerah sekalipun. Selalu ada babak melelahkan yang harus diulang. Mulai dari merapikan kardus, berkenalan lagi dengan tetangga sekitar, hingga mencari spot-spot penunjang hidup. Maksud saya, spot-spot penjual sarapan enak, bakul sayur murah, warung kelontong terdekat, dan masih banyak lagi. 

Urusan pindah tempat tinggal, apalagi sampai beda daerah ini makin runyam saat anak-anak sudah masuk masa sekolah. Mau tidak mau, harus mengurus kepindahan sekolah mereka juga. Ya, memang sih, ada opsi tidak perlu memboyong serta keluarga ke daerah tujuan. Tapi, jauh dari keluarga itu berat. Tidak semua orang mampu. Itu sebabnya beberapa orang memilih untuk membawa serta keluarga mereka.

Itulah yang dialami teman saya, Lia. Sudah satu tahun ini dia tinggal di Pasuruan. Tadinya, Lia dan keluarganya tinggal di Jakarta. Tapi, berhubung suaminya pindah kerja ke Pasuruan, jadilah Lia dan anaknya ikut pindah juga.

Meninggalkan Jakarta adalah keputusan terbaik

Sebagai seseorang yang sudah puluhan tahun tinggal di Jakarta, pindah ke daerah yang selama ini cuma pernah dia dengar namanya saja, tentu bikin deg-degan. Terlebih, kota yang harus dia tinggalkan adalah Jakarta, sebuah kota metropolitan yang serba ada. Lalu tiba-tiba pindah ke pasuruan? Berat. Sungguh berat. Satu-satunya hal yang Lia tahu soal Pasuruan hanyalah silat. Selebihnya, dia benar-benar buta tentangnya.

Namun, apa yang terjadi kemudian?

Justru di tempat yang jauh dari ingar bingar inilah Lia merasa kualitas hidupnya membaik. Tak ada lagi kemacetan parah, drama berdesakan di gerbang KRL, ataupun polusi udara yang membuat langit jadi suram. Yang ada hanyalah udara yang segar, lengkap dengan view Gunung Arjuna

Alhasil, waktu jadi terasa berjalan begitu lambat dan tidak memburu di Pasuruan. Mungkin, inilah esensi slow living yang sesungguhnya.

Soal kebutuhan harian pun Lia bisa bernafas dengan tenang karena harga-harga di Pasuruan lebih ramah di kantong ketimbang Jakarta. Meski tidak ada mall besar di Pasuruan, bukan berarti Lia dan keluarga tidak bisa refreshing. Untuk urusan hiburan, pilihannya bisa ke kawasan sejuk Pandaan atau Prigen, atau mampir ke Trawas. Kalaupun sewaktu-waktu rindu mal megah, dia tinggal berkendara sebentar ke Sidoarjo, Malang, atau sekalian ke Surabaya.

Mau dipikir berulang kali pun, pindah dari Jakarta ke Pasuruan adalah keputusan yang terbaik yang tidak pernah Lia dan keluarganya sesali. Kalau toh ada yang masih jadi PR besar tentang kehidupannya di Pasuruan saat ini, itu adalah tentang bahasa.

Ada dua bahasa di Pasuruan

Berbeda dengan Jakarta, di Pasuruan bahasa yang digunakan sehari-hari secara umum adalah bahasa Jawa dan bahasa Madura. Bahasa Jawa Dialek Arekan jadi bahasa utama yang dominan digunakan di sebagian besar wilayah kabupaten dan Kota Pasuruan. Dialeknya mirip dengan yang digunakan di Surabaya, Malang, Sidoarjo, dan Mojokerto, yang terkenal lebih egaliter, lugas, dan kasual (sering disebut bahasa “bengisan” atau “anuan” khas Jawa Timuran).

Sedangkan bahasa Madura, digunakan cukup luas oleh sebagian besar masyarakat Pasuruan, terutama di wilayah pesisir utara, beberapa kecamatan di bagian timur yang berbatasan dengan Probolinggo, atau kantong-kantong permukiman tertentu. Di beberapa daerah, terjadi percampuran atau penggunaan dua bahasa ini secara bergantian (bilingual).

Nah, kebetulan, desa yang Lia tinggali saat ini mayoritas warganya sulit berbahasa Indonesia. Mereka hanya berbahasa Jawa saja. Bahkan, informasi di grup sekolah pun seringkali disampaikan dengan menggunakan bahasa daerah. Ini tentu jadi PR besar saat awal Lia tinggal di Pasuruan. Komunikasinya dengan tetangga sekitar jadi terbatas. Beberapa kali Lia mencoba untuk mengobrol dengan menggunakan bahasa Jawa, tapi endingnya malah jadi belibet antara lidah dan isi otak.

Soal anggapan miring

Selain bahasa, hal lain yang pernah membuat Lia waswas untuk tinggal di Pasuruan adalah stigma negatif tentang tempat ini. Yaitu, Pasuruan dikenal sebagai sarangnya begal. Reputasi Pasuruan sebagai salah satu daerah yang cukup rawan aksi begal motor memang sudah lama melekat. Terutama, di beberapa titik jalur penghubung antarkecamatan yang sepi atau minim penerangan.

Isu ini sering jadi bahan obrolan atau peringatan bagi pendatang atau orang luar, termasuk Lia dan keluarga yang selama ini kerja di Jakarta. Hayo lho, siapa yang nggak ketar-ketir coba?

Akan tetapi, setelah benar-benar menetap dan menjalani hari-hari di sana selama setahun, ketakutan itu perlahan lebur oleh realitas. Puji syukur, sejauh ini tidak pernah ada kejadian buruk yang menimpanya dan keluarga. Yang ada ya itu tadi, hidup jadi lebih tenang, tidak memburu dan tidak diburu. Sungguh, itu adalah suatu kemewahan yang sangat disyukuri. 

Ternyata, pindah dari kota megapolitan ke daerah itu tidak menakutkan seperti apa yang pernah dibayangkan. Semua baik-baik-baik saja, semua berjalan jauh lebih lapang dari apa yang pernah dipikirkan.

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA 3 hal yang membuat saya bersyukur pernah meninggalkan Semarang dan memilih merantau di Jogja.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 September 2026 oleh .

Dyan Arfiana Ayu Puspita

Alumnus Universitas Terbuka yang bekerja sebagai guru SMK di Tegal. Menulis, teater, dan public speaking adalah dunianya.

Exit mobile version