Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Rapid Test: Tes Cepat yang Logikanya Bikin Saya Malah Bingung

Yusrina Kartika oleh Yusrina Kartika
6 Juli 2020
A A
laporcovid-19 vaksinasi covid-19 vaksin nusantara indonesia lepas pandemi ppkm vaksin covid-19 corona obat vaksin covid-19 rapid test swab test covid-19 pandemi corona MOJOK.CO

vaksin corona obat vaksin covid-19 rapid test swab test covid-19 pandemi corona MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

Rapid test bikin kelulusan tertunda. Merana….

Sebagai mahasiswa kesehatan, saya cukup sadar betapa mengancamnya pandemi Covid-19 ini. Tapi, life must go on. Tidak ada gunanya menyalahkan pemerintah yang lambat bersiaga waktu dulu kasusnya baru muncul dua biji di Indonesia. Yah meskipun kesalnya masih tersisa di lubuk hati yang paling dalam sih, hehe.

Dan sekali lagi, life memang must go on. Tidak terkecuali buat mahasiswa tingkat akhir yang tinggal seuprit lagi harusnya bisa lulus, tapi terpaksa delayed gara-gara Covid-19. Terpaksa bayar UKT lagi deh. Rasanya tuh kayak lagi download film dan failed pas udah 99%. Nyesekkk.

Maka dari itu, begitu pemerintah menerapkan new normal, para mahasiswa tingkat akhir rasanya pengin buru-buru menuntaskan semua yang harus dituntaskan. Yang lagi di kampung pengin segera balik ke kota perantauannya, menyudahi liburan yang bikin nggak tenang ini. Biar nggak tertunda lagi, kalau pahit-pahitnya (amit-amit) ada gelombang kedua Covid-19 dan terpaksa PSBB lagi.

Tapi eh tetapi, tidak semudah itu….

Namanya juga new normal. Kenormalan baru. Adaptasi Kebiasaan Baru. PSBB transisi. Dan istilah-istilah sejenis yang didefinisikan sebagai kehidupan normal dengan beberapa modifikasi untuk menyesuaikan dengan kondisi pandemi Covid-19 ini.

Salah satu modifikasinya adalah peraturan perjalanan keluar kota. Buat memastikan bahwa mereka yang dibolehkan bepergian antar-kota hanya mereka yang sehat dan bebas Covid-19, dibuat persyaratan harus melampirkan bukti bebas Covid-19 berdasarkan hasil swab test dan/atau rapid test.

Sebagai keringanan, boleh juga diganti surat keterangan bebas gejala influenza dari Puskesmas bagi mereka yang di domisilinya tidak tersedia fasilitas swab test atau rapid test. Aturan ini lalu diberlakukan oleh maskapai-maskapai pesawat dan PT Kereta Api Indonesia sebagai penyedia jasa transportasi.

Baca Juga:

Depok Jawa Barat Lebih Terkenal daripada Daerah Bernama Depok Lain karena Hal-Hal Ajaibnya

Sultan Minta Atraksi Malioboro Dihentikan Demi Cegah Kerumunan di Tengah Lonjakan Covid-19

Dari sini aja sebetulnya udah kelihatan ada yang janggal. Masa iya, hasil swab test alias tes PCR yang harganya nggak cukup Rp1 juta itu dianggap setara sama surat keterangan dokter yang notabene sangat subjektif? Terus gimana dengan golongan Orang Tanpa Gejala (OTG), yang dari luar kelihatan sehat tapi bisa aja sebenarnya mereka udah terjangkit virus corona?

Semua serba dilematis bagi pemerintah. Kalau langsung dibebaskan, dikhawatirkan nanti membludak lagi jumlah kasusnya. Tapi nggak mungkin juga terus-terusan PSBB, keburu ekonomi negara mati. Gitu kan, ya? Ceritanya saya masih berpikiran positif waktu itu. Toh saya juga butuh untuk pergi keluar kota.

Siapa juga yang rela bayar UKT hanya untuk nganggur satu semester lagi. Jadi, saya berencana mematuhi peraturan itu. Karena swab test terlalu mahal bagi saya, dan surat keterangan bebas gejala flu dari dokter kurang kredibel menurut saya, saya mempertimbangkan opsi tengah-tengah: rapid test alias tes cepat.

Setelah berselancar di Mbah Google, ternyata rapid test masih terbilang mahal juga. Sekitar 3-4 kali harga tiket kereta yang biasa saya naiki (ada yang bisa tebak kereta apa itu?). Udah gitu jarang ada situs resmi rumah sakit atau laboratorium lainnya yang menyediakan info harga layanan rapid test. Hmm, agaknya saya mager (malas gerak) kalau harus survei untuk cari harga termurah. Mulai jengkel juga, nih.

Setelah beberapa minggu diberlakukan, di berita-berita mulai muncul tanggapan masyarakat tentang kewajiban melampirkan keterangan bebas Covid-19 ini. Yang paling disoroti adalah rapid test. Dia yang paling tinggi peminat, mungkin karena orang-orang berpikiran sama seperti saya: harganya nggak semahal swab test dan cuma butuh waktu singkat. Tapi lama-lama, kewajiban ini merepotkan juga buat orang yang sering bolak-balik keluar kota. Sementara semua surat bukti itu ada masa berlakunya.

Eh, respons pemerintah lebih lucu lagi: hasil swab test yang tadinya berlaku 7 hari, dan rapid test berlaku 3 hari, kini dua-duanya jadi berlaku 14 hari.

Terus logika saya baru mulai jalan. Kenapa ada masa berlakunya, padahal kita bisa terpapar virus Corona di mana aja? Jangankan dalam perjalanan; waktu kita lagi antre untuk rapid test saja bisa terpapar. Waktu lagi nunggu hasil swab test yang keluarnya bisa 2-3 hari kemudian, bisa aja kita terpapar. Kalau begitu, apa para penumpang itu masih bisa dijamin bebas Covid-19?

Belum lagi kualitas hasil rapid test dan swab test yang lumayan timpang. Begini, rapid test itu fungsinya mendeteksi antibodi IgG dan IgM yang dihasilkan tubuh kalau diserang virus corona. Masalahnya, antibodi-antibodi itu baru muncul berhari-hari setelah terinfeksi virus. Apalagi antibodi itu tidak spesifik untuk virus corona; bisa aja tubuh kita menghasilkan antibodi itu karena terinfeksi virus lain dan bukannya corona.

Beda dengan swab test yang tujuannya mengidentifikasi si virus corona itu sendiri. Kalau ada, ya hasilnya positif. Kalau nggak ada, berarti negatif. Makanya jangan heran kalau lihat berita ada orang yang positif Covid-19 setelah tes swab, padahal sebelumnya nonreaktif waktu rapid test.

Lagi-lagi, susah juga memang. Namanya juga penyakit jenis baru. Metode pemeriksaan paling akurat masih cara lama dan mahal. Sementara rapid test sebagai metode skriningnya juga kurang akurat. Khususnya untuk transportasi umum, kalau memang mau memanfaatkan rapid test untuk memastikan bahwa calon penumpangnya bebas Covid-19, harusnya tes dilakukan tepat sebelum keberangkatan dong.

Setidaknya hasilnya lebih aktual. Soal akurasinya yang masih memungkinkan ada orang positif Covid-19 yang lolos dari penyaringan, yah wallahu a’lam. Namanya juga berusaha, hehehe.

Konsekuensinya kalau cara begitu mau diterapkan adalah: para penyedia jasa transportasi umum harus menyediakan fasilitas rapid test itu. Orang jadi nggak usah repot-repot cari tempat rapid test segala kan.

Biar isu rapid test jadi ladang bisnisnya rumah sakit juga bisa ditepis. Eh, tapi nanti malah jadi ladang bisnis pengusaha transportasi ya? Boleh saja pemerintah bikin aturan lagi supaya harga rapid test jadi seragam. Meskipun saya nggak begitu paham kenapa harga rapid test bisa berbeda-beda dengan selisih yang lumayan jauh.

Akhir kata, yang bisa kita lakukan saat ini adalah melanjutkan hidup sambil terus berdoa. Doa saya untuk jangka panjang: semoga vaksin untuk Covid-19 segera ditemukan, supaya wabah ini bisa segera berakhir dan berlalu.

Doa saya untuk jangka menengah: semoga warga Indonesia semakin patuh menerapkan protokol kesehatan, yang konon lebih efektif ketimbang rapid-rapid-an. Atau paling tidak semoga ditemukan alat rapid test yang lebih akurat, sehingga nggak percuma-percuma banget gitu kalau terpaksa merogoh kocek sendiri untuk rapid test.

Doa saya untuk jangka pendek: karena menjadi kewajiban, semoga pemerintah mensubsidi (atau bahkan menggratiskan) rapid test. Atau sekalian sajalah itu aturan dihapuskan. Kasihanilah kami golongan mahasiswa rantau pas-pasan yang tak sampai hati minta ongkos lebih sama orang tua

BACA JUGA Rapid Test Sebagai Syarat Kembali ke Rantau: Pemerintah yang Minta, Rakyat yang Bayar dan tulisan-tulisan lainnya di Terminal Mojok.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 6 Juli 2020 oleh

Tags: covid-19pandemi coronarapid testswab test
Yusrina Kartika

Yusrina Kartika

Mahasiswi cupu yang ingin segera lulus seperti teman-teman.

ArtikelTerkait

Tradisi Kupatan sebagai Tanda Berakhirnya Hari Lebaran Masa Lalu Kelam Takbir Keliling di Desa Saya Sunah Idul Fitri Itu Nggak Cuma Pakai Baju Baru, loh! Hal-hal yang Dapat Kita Pelajari dari Langgengnya Serial “Para Pencari Tuhan” Dilema Mudik Tahun Ini yang Nggak Cuma Urusan Tradisi Sepi Job Akibat Pandemi, Pemuka Agama Disantuni Beragama di Tengah Pandemi: Jangan Egois Kita Mudah Tersinggung, karena Kita Mayoritas Ramadan Tahun Ini, Kita Sudah Belajar Apa? Sulitnya Memilih Mode Jilbab yang Bebas Stigma Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Kenapa Kita Sulit Menerima Perbedaan di Media Sosial? Masjid Nabawi: Contoh Masjid yang Ramah Perempuan Surat Cinta untuk Masjid yang Tidak Ramah Perempuan Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab Silaturahmi yang Nggak Bikin GR Tarawih di Rumah: Ibadah Sekaligus Muamalah Ramadan dan Pandemi = Peningkatan Kriminalitas? Memetik Pesan Kemanusiaan dari Serial Drama: The World of the Married Mungkinkah Ramadan Menjadi Momen yang Inklusif? Beratnya Menjalani Puasa Saat Istihadhah Menghitung Pengeluaran Kita Kalau Buka Puasa “Sederhana” di Mekkah Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Mengenang Serunya Mengisi Buku Catatan Ramadan Saat SD Belajar Berpuasa dari Pandemi Corona Perlu Diingat: Yang Lebih Arab, Bukan Berarti Lebih Alim Nonton Mukbang Saat Puasa, Bolehkah? Semoga Iklan Bumbu Dapur Edisi Ramadan Tahun Ini yang Masak Nggak Cuma Ibu

Ramadan dan Pandemi = Peningkatan Kriminalitas?

9 Mei 2020
Pemerintah yang Gagal Kendalikan Pandemi, kok, Malah Rakyatnya yang Disalahin? terminal mojok.co

Pemerintah yang Gagal Kendalikan Pandemi, kok, Malah Rakyatnya yang Disalahin?

8 Juli 2021

Saya Bersyukur Tidak Terlahir di Negara India

2 Mei 2021
Lebaran Tahun Ini: Meski Raga Tak Bersama, Silaturahmi Tetap Harus Terjaga Berlutut dan Pakai Bahasa Jawa Kromo Adalah The Real Sungkeman saat Lebaran Selain Hati, Alam Juga Harus Kembali Fitrah di Hari yang Fitri Nanti Starter Pack Kue dan Jajanan saat Lebaran di Meja Tamu Mengenang Keseruan Silaturahmi Lebaran demi Mendapat Selembar Uang Baru Pasta Gigi Siwak: Antara Sunnah Nabi Atau Komoditas Agama (Lagi) Dilema Perempuan Ketika Menentukan Target Khataman Alquran di Bulan Ramadan Suka Duka Menjalani Ramadan Tersepi yang Jatuh di Tahun Ini Melewati Ramadan dengan Jadi Anak Satu-satunya di Rumah Saat Pandemi Memang Berat Belajar Gaya Hidup Eco-Ramadan dan Menghitung Pengeluaran yang Dibutuhkan Anak-anak yang Rame di Masjid Saat Tarawih Itu Nggak Nakal, Cuma Lagi Perform Aja Fenomena Pindah-pindah Masjid Saat Buka Puasa dan Salat Tarawih Berjamaah 5 Aktivitas yang Bisa Jadi Ramadan Goals Kamu (Selain Tidur) Nanti Kita Cerita tentang Pesantren Kilat Hari Ini Sejak Kapan sih Istilah Ngabuburit Jadi Tren Ketika Ramadan? Kata Siapa Nggak Ada Pasar Ramadan Tahun Ini? Buat yang Ngotot Tarawih Rame-rame di Masjid, Apa Susahnya sih Salat di Rumah? Hukum Prank dalam Islam Sudah Sering Dijelaskan, Mungkin Mereka Lupa Buat Apa Sahur on the Road kalau Malah Nyusahin Orang? Bagi-bagi Takjil tapi Minim Plastik? Bisa Banget, kok! Nikah di Usia 12 Tahun demi Cegah Zina Itu Ramashok! Mending Puasa Aja! Mengenang Kembali Teror Komik Siksa Neraka yang Bikin Trauma Keluh Kesah Siklus Menstruasi “Buka Tutup” Ketika Ramadan Angsle: Menu Takjil yang Nggak Kalah Enak dari Kolak Nanjak Ambeng: Tradisi Buka Bersama ala Desa Pesisir Utara Lamongan

Suka Duka Menjalani Ramadan Tersepi yang Jatuh di Tahun Ini

16 Mei 2020
suasana kuliah kerja nyata kkn offline uns 2020 wabah corona mojok.co

Bagaimana KKN Mahasiswa UNS Tetap Offline di Masa Pandemi

8 September 2020
Dampak Ekonomi Corona

Dampak Ekonomi Pandemi Corona yang Bisa Bikin Perekonomian Negara Hancur Lebur

15 Maret 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ironi Pembangunan Banyuwangi: Sukses Meniru Bali dalam Pengelolaan Wisata, tapi Gagal Menangani Banjir di Pusat Kota

Ironi Pembangunan Banyuwangi: Sukses Meniru Bali dalam Pengelolaan Wisata, tapi Gagal Menangani Banjir di Pusat Kota

26 Februari 2026
Manis Nastar Mengingatkan Saya akan Masa Lalu Pahit karena Cuma Bisa Menikmatinya di Rumah Tetangga Mojok.co

Manisnya Nastar Mengingatkan Saya akan Masa Lalu yang Pahit karena Cuma Bisa Menikmatinya di Rumah Saudara

26 Februari 2026
Vespa Matic: Tampilannya Keren, tapi Payah di Jalan Nggak Rata dan Tanjakan Mojok.co

Vespa Matic, Motor Mahal yang Nggak Masuk Akal, Harga Setara Mobil Bekas, Fiturnya Minim!

21 Februari 2026
3 Olahan Topak yang Jarang Dapat Sorotan padahal Asli Madura dan Sulit Ditemukan di Daerah Lain Mojok.co

3 Olahan Topak yang Jarang Dapat Sorotan padahal Asli Madura dan Sulit Ditemukan di Daerah Lain

21 Februari 2026
Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang Mojok.co

Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang

23 Februari 2026
Perjalanan ke Pati Lewat Pantura Bikin Heran: Kudus Sudah Mulus, Demak Masih Penuh Lubang

Perjalanan ke Pati Lewat Pantura Bikin Heran: Kudus Sudah Mulus, Demak Masih Penuh Lubang

26 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Anak Muda Jadi Ketua RT: Antara Kerja Kuli, Keikhlasan, dan Dewasa Sebelum Waktunya
  • Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur
  • Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman
  • Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga
  • Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT
  • Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.