Putusan Sidang Kode Etik Wakil Ketua KPK: Mengharap Rasa Malu dalam Drama yang Belum Berlalu

KPK penilapan duit bansos koruptor jaksa pinangki cinta laura pejabat boros buang-buang anggaran tersangka korupsi korupsi tidak bisa dibenarkan mojok

korupsi tidak bisa dibenarkan mojok

KPK lama-lama turun pamor akibat kinerja yang menurun. Tapi, memangnya selama ini kerja mereka sudah cukup baik?

“Apa seh yang ndak wajar, Kin?” tanya Pardi datar. Solikin yang umak-umik mecucu menyeret layar gawai terkesiap. Ia tak sadar sejak tadi meracau, menggeleng sambil mendesiskan kata-kata semacam: nggak wajar ini, benar-benar aneh, sungguh absurd.

“Ini lho, Mas, keputusan sidang Dewan Pengawas KPK. Masak kasus seberat ini cuma diganjar hukuman potong 40 persen gaji selama setahun. Kan ndak wajar. Harusnya bisa lebih berat hukumannya, Mas!” jelas Solikin bersungut.

“Mbok jangan gampang heran, jangan kagetan gitu, Kin. Berat atau ringan, wajar atau tidak itu kan pasti sudah dipertimbangkan oleh mereka, jajaran Dewan Pengawas KPK itu.” Pardi terdengar bestari kali ini.

“Lagian biasanya kalau baca berita begini kamu langsung baca peraturannya, terus kamu bacakan buat kita-kita, Kin. Ya nggak, Cak?” Pardi tersenyum meminta afirmasi. “Hmmmm..” Cak Narto yang sedang khusyuk memandangi papan catur hanya melenguh.

Mendengar itu Solikin kembali membenamkan dirinya ke dalam dunia virtual. Kali ini terlihat lebih khusyuk. Alisnya tampak naik turun, dahinya mengernyit sesekali. Suasana teras warung Yu Marmi kembali sunyi.

“Tapi, makin ke sini institusi satu itu malah kelihatan menurun pamornya ya, Cak. Kelihatan lebih banyak dramanya ketimbang kinerja dan prestasinya.” Kanapi memecah keheningan, semacam tak sabar menunggu Cak Narto menggeser bidak.

“Ya kerja lah, Pi. Wong baru saja mereka OTT Bupati Probolinggo gitu, kok.” Tukas Pardi yang sedang asyik melukis batang kreteknya dengan ampas kopi.

“Ooo… kalau banyak nangkap koruptor berarti menurutmu mereka sudah bekerja dan berprestasi gitu, Di?” Cak Narto bertanya setengah beretorika. Jemarinya dengan tangkas memungut kuda putih. Kanapi tersudut.

“Ha jelas, wong namanya aja Komisi Pemberantasan Korupsi, Cak. Banyak nangkap ya berarti banyak kerja. Berprestasi memberantasss.” Kanapi menjawab mantap, memakan benteng Cak Narto.

“Kalau begitu ya tidak akan habis kasus korupsi di sini…” pion Cak Narto mendekat ke petak pertahanan Kanapi, “…karena menurutku, Ndes, harusnya kinerja KPK itu dinilai dari pencegahannya saja, jangan dari banyaknya penindakannya. Nyatanya semenjak berdiri sampai sekarang, dengan menggunakan paradigma pemberantasan, kasus korupsi makin banyak to? Ndak habis-habis diberantas.”

Cak Narto tersenyum simpul. Di kepalanya sudah ada skenario menaklukan Kanapi di pertandingan catur babak keempat malam ini.

“Kalau begitu namanya diganti aja, Cak. Komisi Pencegahan Korupsi. Ha diberantas nggak habis-habis je. Hehehe.” Benteng Kanapi diarahkan lurus, mengancam menteri Cak Narto.

Suasana kembali hening. Deru mesin truk pengangkut jerami yang melintas di jalanan desa terdengar ritmis.

Brak!!!

“Ketemu, Mas Di…” Solikin menggebrak dipan, bidak catur nyaris berjatuhan dari papan, “…ini kalau di peraturannya, Sanksi Berat bagi pejabat selevel pimpinan KPK gitu, selain dipotong 40% gaji pokoknya selama 12 bulan, orangnya juga harus diminta untuk mengajukan pengunduran diri sebagai pimpinan KPK, Mas.”

“Lhaaa, kalau ini baru menarik, Kin…” Pardi menyela dengan girang, “…itu beneran bunyi pasalnya ‘diminta mengajukan pengunduran diri”, kan?”

“Iya, Mas” Solikin mencubit layar gawainya, membesarkan tulisan di sana, dan memampangnya di hadapan forum itu.

“Kalau gitu tinggal nunggu beliau itu mengundurkan diri tho, Kin? Semoga saja pengunduran diri beliau tidak lama-lama banget, ndak selama orang ini nggeser menterinya.” Kanapi mengangguk dengan mecucu ke arah Cak Narto yang terlihat tidak menghiraukan ejekan itu.

“Kalau aku jadi Bu Wakil Ketua itu, Kin…” Cak Narto menggeser menterinya satu petak, mengancam raja Kanapi, “…aku ya milih ndak mau mengundurkan diri. Wong diminta je. Itu kan semacam ‘diharap’ atau ‘diimbau’, masih memberikan peluang yang bersangkutan untuk tidak nuruti permintaan itu.” Ia terkekeh.

“Woooo, ya itu namanya rai gedheg, Cak, alias ra ndue isin, alias muka tebal, alias nggapleki!!” seperti tersulut, Pardi berkomentar lantang dari balik punggung Kanapi.

“Skakmat…” raja Kanapi dihimpit oleh kuda, benteng dan menteri Cak Narto, Ia lantas berdiri menarik pinggang, “…emangnya ada orang-orang di atas sana yang punya rasa malu, nDes? Lha wong pakek rompi tersangka saja masih dadah-dadah sambil ngumbar senyum begitu?. Sekarang aparat pemberantasnya malah bikin ulah begitu.”

“Rasa malu adalah barang langka bagi politisi kita, nDes!”

“Kalau langka berarti harus dilindungi dong, Cak?” Tukas Pardi.

“Iya…kayak raimu itu, langka, harus dilindungi!!”

Seisi teras terbahak, tapi Solikin kembali menggunting suasana riang itu.

“Tapi, Cak, vonisnya ini tetap tidak wajar, untuk tidak menyebut ndak adil, ya…” Solikin melemparkan korek ke arah Cak Narto yang tolah-toleh mencari, “…karena kalau untuk pelanggaran kode etik yang levelnya seberat itu, dengan hukuman sesepele ini, di masa depan kemungkinan kasus serupa akan terulang lagi sangat besar, Cak. Sebab, hukumannya tidak membuat jera para pelakunya. Dan itu mengkhawatirkan bagi masa depan pemberantasan korupsi di Indonesia, Cak.”

“Lha terus kamu mau apa kalau sudah diputuskan hukumannya seperti itu, Kin? Kita ini bisa apa, sih? Paling banter ngomel-ngomel begini, to?” tiba-tiba Cak Narto sudah berada di atas motornya.

“Kita bisa apa, Kin?” Cak Narto menyelipkan rokok di sudut bibir, menggenjot tuas starter. Mesin motor meraung. “Menggugat di pengadilan? Jelas ndak mungkin. Nulis opini di media? yaaa paling jadi angin lalu. Bikin mural kritik? Mau kamu diburu aparat?”

Solikin tercekat.

“Sudah lah, Kin. Ndak usah khawatir. Dramanya kan belum selesai. Tunggu saja. Paling bentar lagi kegaduhan semacam ini akan diganti dengan riak-riak berita receh lainnya. Dan lambat laun kita akan lupa.” Cak Narto memacu motornya dengan kretek masih terselip di sudut bibir.

Suasana malam kembali syahdu. Tapi tiba-tiba, “Woooo, Bedhesss… korekku dikantongi lagi sama Cak Narto”. Solikin memaki pelan.

***

Mendung berarak di jingga mega. Warnanya berpadu antara temaram rembulan dan pendar cahaya aneh yang sulit dijelaskan. Entah dari arah mana, lamat terdengar John Mayer melantunkan “Waiting On the World to Change”.

Me and all my friends

We’re all misunderstood

They say we stand for nothing and

There’s no way we ever could

Now we see everything that’s going wrong

With the world and those who lead it

We just feel like we don’t have the means

To rise above and beat it

So we keep waiting (waiting)

Waiting on the world to change

We keep on waiting (waiting)

Waiting on the world to change

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version