Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

Pustakawan, Profesi yang Sering Dianggap Remeh, padahal Kerjanya Enak dan Banyak Untungnya

Ferika Sandra oleh Ferika Sandra
7 Mei 2026
A A
Derita Jadi Pustakawan: Dianggap Bergaji Besar dan Kerjanya Menata Buku Aja

Derita Jadi Pustakawan: Dianggap Bergaji Besar dan Kerjanya Menata Buku Aja (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Menjadi pustakawan adalah salah satu plot twist paling tidak terduga dalam hidup saya. Waktu kecil, tidak pernah sekalipun saya menjawab pustakawan sebagai cita-cita saya. Tidak pernah. Pilihan saya waktu itu masih standar, dokter (biar bisa nyuntik orang), polisi (biar bisa menilang), atau artis (biar bisa masuk TV). Apalagi sekarang, di tengah kemajuan teknologi yang membuat banyak orang memilih kerja di dunia digital. Alasannya cukup beragam mulai dari fleksibilitas kerja hingga alasan ingin terbebas dari tekanan atasan.

Tapi semua itu seperti tidak menggerakan hati saya untuk beralih ke sana. Sampai akhirnya kini pustakawan menjadi pilihan saya, padahal kalau dipikir-pikir, menjadi pustakawan itu seperti menjalani hubungan yang penuh keluhan tapi tidak pernah benar-benar ingin diakhiri.

Saya sering ngedumel, sering merasa lelah, sering bertanya, “Kenapa, sih, hidup saya begini?” Tapi setiap kali ada kesempatan keluar, saya malah balik lagi jadi pustakawan. Setelah direnungkan, ternyata ada beberapa alasan kenapa saya masih betah jadi pustakawan.

Lowongannya jelas, tidak aneh-aneh

Di negara dengan lowongan kerja yang kadang ditulis seperti mencari menantu: “maksimal usia 23 tahun, pengalaman 5 tahun, menguasai 12 software, siap bekerja di bawah tekanan, dan bersedia tidak punya kehidupan pribadi”. Lowongan pustakawan adalah oase yang jujur.

Biasanya bunyinya sederhana saja: minimal D3/S1 Ilmu Perpustakaan. Sudah selesai dan tidak neko-neko. Tidak ada tambahan good looking, tidak ada berpenampilan menarik, tidak ada syarat wajib tinggi minimal sekian. Ini mungkin terdengar sepele, tapi bagi saya justru sangat melegakan.

Dunia kerja di luar sana seringkali tidak peduli kamu belajar apa. Lulusan perpustakaan bisa saja kalah saing dengan lulusan apa saja, bahkan dengan orang yang tidak tahu perbedaan antara sinopsis dengan blurb.

Tapi di lowongan pustakawan, untuk sekali saja, saya merasa: oh, ini wilayah saya. Saya jelas tahu kudu gimana.

BACA JUGA: Derita Jadi Pustakawan: Dianggap Bergaji Besar dan Kerjanya Menata Buku Aja

Baca Juga:

4 Alasan Saya Meninggalkan iPusnas dan Beralih Membeli Buku Fisik

Saya Lulusan Ilmu Perpustakaan, tapi Saya Nggak Mau Jadi Pustakawan Sekolah, Isinya Cuma Makan Hati!

Pustakawan bisa “belanja” buku jutaan rupiah, tanpa takut miskin

Ini mungkin privilege yang agak tidak etis tapi sah secara administratif: saya bisa “belanja” buku dengan uang jutaan rupiah, tanpa perlu takut saldo rekening menipis. Tentu bukan untuk saya bawa pulang. Saya masih punya moral. Tapi saya yang memilihnya. Setiap periode pengadaan, saya berubah menjadi versi paling bahagia dari diri saya sendiri.

Saya yang duduk berjam-jam menyisir katalog penerbit, marketplace buku, membaca blurbs, membandingkan harga, memastikan edisi terbaru, memastikan buku itu layak hidup di perpustakaan kami. Rasanya seperti jadi kurator, sekaligus anak kecil di toko mainan. Ada sensasi kuasa yang aneh, bahwasannya saya tidak membeli buku untuk dimiliki, tapi untuk dihadirkan.

Yang lebih membahagiakan lagi, beberapa buku itu dulunya cuma bisa saya masukkan wishlist pribadi. Buku-buku yang dulu cuma bisa saya lihat, sekarang bisa saya beli lewat anggaran perpustakaan. Bisa saya sentuh duluan dan saya baca secara gratis.

Secara tidak langsung, saya juga menjadi penentu takdir buku itu. Jika Tuhan menciptakan manusia, maka pustakawan menciptakan alamatnya melalui klasifikasi dan penataan rak.

Pustakawan diam-diam ikut menentukan cara orang menemukan ilmu

Ini mungkin terdengar berlebihan, tapi pustakawan adalah arsitek diam-diam dari pengetahuan. Orang datang ke perpustakaan dengan satu pertanyaan. Tapi bagaimana mereka menemukan jawabannya, itu tergantung bagaimana pustakawan mengaturnya.

Nomor klasifikasi bukan sekadar angka. Itu sistem yang menentukan buku mana yang akan berdampingan, dan buku mana yang akan hidup sendirian. Buku tentang filsafat bisa berdampingan dengan buku psikologi, lalu tanpa sadar, seseorang yang awalnya cuma mau cari buku motivasi, pulang membawa krisis eksistensial.

Dan itu semua terjadi karena pustakawan. Pustakawan mungkin tidak mengubah dunia secara langsung. Tapi pustakawan mengubah rak. Dan melalui rak itulah, pustakawan bisa “mengubah” manusia.

Bikin saya terlihat pintar, walaupun belum tentu juga

Mari jujur. Tidak semua waktu pustakawan dihabiskan untuk membaca buku berat sambil minum kopi hitam dan terlihat pintar. Sebagian besar waktu dihabiskan untuk hal-hal seperti memperbaiki data yang salah, mencari buku yang hilang (padahal tidak hilang, cuma salah taruh), atau sekadar mengingatkan peminjam yang pura-pura lupa. Tapi tetap saja, ada ilusi intelektual yang menyenangkan.

Berada di ruangan penuh buku membuat saya merasa lebih pintar, meskipun sebenarnya belum tentu. Minimal, kalau ada yang lewat, mereka akan berpikir: “Wah, serius sekali orang ini.” dan akan Tampak sangat kutu buku. Padahal saya cuma lagi benerin label.

Sepi peminat, jadi minim drama

Menjadi pustakawan bukan profesi yang ramai peminat. Tidak banyak orang bercita-cita menjadi pustakawan, dengan berbagai alasan klise, katanya membosankan, sampai bayaran yang dianggap tidak seberapa. Ironisnya, justru karena sepi peminat, profesi ini terasa cukup nyaman. Tidak banyak kompetitor, tidak banyak drama, dan tidak banyak orang yang tiba-tiba merasa paling ahli.

Profesi ini sepi. Dan di dunia yang terlalu berisik, sepi adalah kemewahan. Menjadi pustakawan itu seperti duduk di bangku paling belakang: tidak disorot, tidak diincar, tapi juga tidak diganggu. Sunyi, dan stabil secara mental.

Intinya…

Saya tidak akan berbohong. Pustakawan bukan profesi paling glamor. Profesi yang tidak membuat orang terkesan dan tidak membuat mantan menyesal juga. Bahkan kadang, tidak membuat orang paham saya ini sebenarnya kerjanya ngapain.

Tapi ada satu hal yang diam-diam saya sadari. Di tengah dunia yang sibuk menyuruh semua orang jadi sesuatu, perpustakaan tidak pernah menyuruh saya jadi siapa-siapa. Saya boleh biasa saja di sini, terkadang juga saya masih boleh lambat. Dan mungkin itu alasan paling jujur kenapa saya bertahan.

Bukan karena ini pekerjaan impian. Tapi karena di antara semua kemungkinan hidup yang melelahkan, menjadi pustakawan adalah salah satu tempat di mana saya masih bisa bernafas pelan-pelan. Sambil, tentu saja, tetap ngedumel dengan perlahan.

Penulis: Ferika Sandra
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Saya Lulusan Ilmu Perpustakaan, tapi Saya Nggak Mau Jadi Pustakawan Sekolah, Isinya Cuma Makan Hati!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 Mei 2026 oleh

Tags: gaji pustakawanIlmu PerpustakaanPerpustakaanpustakawan
Ferika Sandra

Ferika Sandra

Seorang pustakawan dari Kota Malang yang mencoba menulis untuk menertibkan pikiran. Gemar dengan isu-isu literasi dan kebudayaan.

ArtikelTerkait

Membangun Mal Baru di Margonda Depok Cuma Bikin "Penyakit", Mending Bikin Perpustakaan Mojok.co

Menambah Mal Baru di Margonda Depok Cuma Bikin “Penyakit”, Mending Membangun Perpustakaan

16 April 2024
Perpustakaan Harusnya Jadi Contoh Baik, Bukan Mendukung Buku Bajakan

Perpustakaan Harusnya Jadi Contoh Baik, Bukan Mendukung Buku Bajakan

12 Oktober 2024
Perpustakaan Kampus Harusnya Buka 24 Jam, Masa Kalah Sama Warkop? perpustakaan daerah

Perpustakaan Kampus Harusnya Buka 24 Jam, Masa Kalah Sama Warkop?

3 September 2025
3 Hal yang Bikin Saya Merasa Ngenes Saat Ikut Program Kampus Mengajar

3 Hal yang Bikin Saya Merasa Ngenes Saat Ikut Program Kampus Mengajar

10 Maret 2024
Ide Membangun 10 Ribu Perpustakaan Desa Bukti Perpusnas Gagal Paham dengan Kondisi Literasi di Desa Mojok.co

Ide Membangun 10 Ribu Perpustakaan Desa Bukti Perpusnas Gagal Paham dengan Kondisi Literasi di Desa

24 Februari 2024
Perpustakaan Batoe Api, Warung Pengetahuan Legendaris di Jatinangor terminal mojok

Perpustakaan Batoe Api, Warung Pengetahuan Legendaris di Jatinangor

17 Desember 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Karet Gas, Barang Paling Murah di Indomaret yang Jadi Penyelamat Banyak Orang Mojok.co

Karet Gas, Barang Paling Murah di Indomaret yang Jadi Penyelamat Banyak Orang

7 Mei 2026
Jalan Raya Kalimalang Dibenci Sekaligus Dicintai Pengendara yang Melintas kalimalang jakarta

Jalan Raya Kalimalang Jaktim Banyak Berubah, tapi Tetap Saja Tidak Aman untuk Pejalan Kaki!

8 Mei 2026
5 Keanehan Lokal Jogja yang Bikin Kaget Orang Semarang (Wikimedia Commons)

5 Keanehan Lokal Jogja yang Nggak Pernah Saya Temukan di Semarang tapi Malah Bikin Bahagia

5 Mei 2026
4 Kebiasaan yang Umum di Semarang, tapi Jadi Aneh di Jogja (Unsplash)

4 Kebiasaan yang Umum Dilakukan di Semarang, tapi Aneh saat Saya Lakukan di Jogja

3 Mei 2026
Jangan (Pernah) Percaya Kabar Kylian Mbappe (Akhirnya) Pindah ke Real Madrid, Pokoknya Jangan

Ketika 30 Juta Orang Ingin Kylian Mbappe Angkat Kaki dari Real Madrid

8 Mei 2026
Nasihat Penting untuk Gen Z yang Pengin Banget Jadi ASN

Daripada ASN Day, Kami para ASN Lebih Butuh Serikat Pekerja!

5 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Alumnus UNJ Jurusan Pendidikan Bahasa Perancis, Pilih Berkebun di Bogor sekaligus Ajak Warga Keluar dari Jurang Kemiskinan
  • JPPI Kritik Aturan Baru SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026: Nasib 2,3 Juta Guru Non-ASN Terancam di Ujung Tanduk
  • Sekolah Kemitraan di Jawa Tengah bikin Menangis Haru, Anak Miskin Bisa Sekolah Gratis dan Kejar Mimpi
  • Pertemanan Memuakkan: Tak Beri Utang Teman Dijauhi dan Dicap Jahat, Berteman Cuma Diperalat Jadi Dana Darurat
  • Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin
  • Menikah dengan Pasangan yang Keluarganya Terlilit Utang Bikin Serba Salah: Terlalu Cinta untuk Ditinggal, tapi Bikin Menderita Kalau Bertahan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.