Purworejo, kota yang menyambutmu bukan dengan gapura selamat datang, tapi dengan jalan berlubang

Jalan Nasional Purworejo vs Kulon Progo Ketimpangannya Begitu Terasa: Dalam Hitungan Meter, Dunia Begitu Berbeda

Jalan Nasional Purworejo vs Kulon Progo Ketimpangannya Begitu Terasa: Dalam Hitungan Meter, Dunia Begitu Berbeda

Beberapa waktu lalu saya pernah menulis tentang kontrasnya kondisi jalan nasional di perbatasan Purworejo dan Kulon Progo. Waktu itu perhatian saya tertuju pada perbedaan kualitas jalan di dua wilayah yang bertetangga. Setelah beberapa kali kembali melewati jalur yang sama, saya justru sampai pada pemikiran lain. Persoalannya bukan lagi soal membandingkan Purworejo dengan Kulon Progo, melainkan tentang kesan pertama yang diterima setiap orang ketika memasuki Purworejo.

Banyak daerah membangun tugu perbatasan sebagai penanda wilayah. Ada yang membuat gapura besar, memasang tulisan “Selamat Datang”, atau menghadirkan ikon yang menjadi kebanggaan daerahnya. Penanda seperti itu memang tidak mengubah apa pun, tetapi setidaknya memberi kesan bahwa setiap pendatang disambut sejak pertama kali memasuki wilayah tersebut.

Purworejo seolah memiliki penanda perbatasannya sendiri. Bukan tugu, bukan gapura, melainkan perubahan kondisi jalan yang langsung terasa begitu roda kendaraan melintas. Kalau berangkat dari arah Yogyakarta, saya hampir tidak pernah memperhatikan batas administrasi kabupaten. Motor yang mulai berguncang, kecepatan yang otomatis berkurang, dan mata yang sibuk mencari bagian jalan yang lebih rata sudah cukup menjadi isyarat bahwa Purworejo sudah di depan mata.

Purworejo sudah dinilai bahkan sebelum perjalanan berhenti

Pengalaman seperti itu tentu tidak hanya saya rasakan. Banyak pengendara yang rutin melewati jalur nasional Yogyakarta–Purworejo barangkali punya cerita yang sama. Sebelum sempat melihat papan nama wilayah, mereka sudah lebih dulu menyesuaikan cara berkendara agar terhindar dari lubang atau jalan yang bergelombang.

Padahal, jalan adalah hal pertama yang ditemui siapa pun sebelum mengenal sebuah daerah lebih jauh. Wisatawan belum sempat mampir menikmati kuliner khas Purworejo, belum mengunjungi tempat wisatanya, bahkan belum berinteraksi dengan warganya. Tapi kesan pertama sudah terbentuk dari aspal yang bikin mereka berguncang.

Saya memahami bahwa ruas jalan nasional yang menghubungkan Purworejo dan Yogyakarta bukan sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Purworejo. Statusnya sebagai jalan nasional membuat pemeliharaan berada di bawah kewenangan pemerintah pusat melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional. Namun, bagi pengguna jalan, pembagian kewenangan itu bukan hal pertama yang terlintas di kepala. Mereka hanya ingin perjalanan berlangsung nyaman dan aman.

Yang penting jalan yang nyaman saja sudah cukup

Jalan bukan sekadar infrastruktur yang menghubungkan satu kota dengan kota lain, juga menjadi wajah pertama yang dilihat pendatang. Jalan yang mulus memberi kesan bahwa sebuah daerah memperhatikan kenyamanan orang yang datang. Sebaliknya, jalan yang rusak sering kali menjadi cerita pertama yang dibawa pulang.

Purworejo sebenarnya tidak kekurangan alasan untuk membuat orang datang. Alamnya indah, kulinernya punya ciri khas, dan banyak sudut kotanya yang menyimpan cerita. Rasanya sayang jika semua itu harus didahului oleh pengalaman menghindari lubang di jalan nasional.

Saya tidak berharap Purworejo memiliki tugu perbatasan yang megah atau gapura yang ramai dijadikan tempat swafoto. Jalan yang nyaman dilalui sudah lebih dari cukup. Sebab, sebelum pendatang membaca tulisan “Selamat Datang di Purworejo”, mereka sudah lebih dulu merasakan bagaimana daerah ini menyambut mereka lewat jalan yang dilaluinya.

Penulis: Riko Prihandoyo
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jalan alternatif Jogja-Purworejo tidak boleh dianggap remeh, tanjakan dan turunan yang panjang bisa merenggut nyawa

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version