Saya pernah (dan ini cukup memalukan) dikoreksi oleh sesama orang Purwokerto. Waktu itu saya menulis artikel di Terminal Mojok, dengan santainya menyebut Purwokerto sebagai “kota”. Tidak lama setelah tayang dan saya posting di media sosial, datanglah komentar yang mengingatkan bahwa Purwokerto itu bukan kota, melainkan kecamatan.
Sebagai orang yang lahir dan besar di wilayah yang sama, tentu saya langsung refleks: iya juga, ya. Kok bisa-bisanya saya, yang harusnya paham struktur administratif daerah sendiri, malah ikut-ikutan menyederhanakan? Dari situ saya sempat jadi agak rewel. Setiap ada orang luar yang menyebut “Kota Purwokerto”, saya langsung mengoreksi, “Eh, sebenarnya Purwokerto itu kecamatan, lho.”
Tapi lama-lama, saya capek juga.
Sejarah singkat yang sering dijadikan senjata
Kalau mau ditarik ke belakang, memang ada alasan kenapa banyak orang mengira Purwokerto itu kota. Secara historis, wilayah ini pernah menyandang status sebagai kota administratif. Tepatnya pada era 1980-an, ketika pemerintah membentuk Kota Administratif Purwokerto sebagai bagian dari Kabupaten Banyumas.
Status ini membuat Purwokerto punya semacam “rasa kota” secara struktural, meskipun tidak sepenuhnya otonom seperti kota pada umumnya. Ada wali kota administratif, ada pengelolaan yang lebih terpusat, dan tentu saja ada pengakuan tidak resmi dari masyarakat bahwa “ini kota, sih.”
Namun, seiring berjalannya waktu dan perubahan kebijakan otonomi daerah di Indonesia, status kota administratif ini dihapus. Purwokerto pun kembali ke habitat awalnya: sebuah kecamatan di dalam Kabupaten Banyumas.
BACA JUGA: 5 Hal Menyenangkan di Purwokerto yang Bikin Betah
Antara fakta administratif dan realitas sehari-hari
Masalahnya, hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan buku teks pemerintahan.
Dalam praktiknya, denyut nadi kehidupan Banyumas itu ada di Purwokerto. Mau cari mall? Adanya di sini. Bioskop besar? Juga di sini. Kampus-kampus, pusat pemerintahan, stasiun besar, sampai tempat nongkrong estetik, semuanya terkonsentrasi di Purwokerto.
Orang-orang dari kecamatan lain datang ke sini untuk bekerja, kuliah, atau sekadar “main ke kota”. Dan iya, mereka menyebutnya kota, bukan kecamatan.
Coba bayangkan kalau kita memaksakan akurasi penuh dalam percakapan sehari-hari.
“Eh, nanti sore ke kota, yuk.”
“Ke mana?”
“Ke Kecamatan Purwokerto, yang secara administratif berada di bawah Kabupaten Banyumas itu, lho.”
Niatnya mungkin benar, tapi rasanya seperti membaca catatan kaki di skripsi.
Di titik ini saya mulai sadar, bahwa ada perbedaan antara benar secara administratif dan relevan secara sosial. Dan sering kali, yang kedua itu lebih penting untuk menjaga kewarasan bersama.
Baca halaman selanjutnya
Jadi, kenapa harus ribut?
Saya tahu, menyebut Purwokerto sebagai kota itu salah, tidak akurat dan tidak sesuai dengan struktur pemerintahan. Tapi di luar itu semua, saya mulai bertanya: lalu kenapa? Apakah tiba-tiba batas wilayah bergeser? Atau apakah kita sebagai warga lokal jadi kehilangan identitas? Rasanya tidak.
Yang terjadi justru sebaliknya: komunikasi jadi lebih sederhana, lebih mudah dipahami, dan lebih cepat nyambung. Orang tidak perlu membuka Google Maps hanya untuk memastikan apakah mereka sedang berada di kota atau kecamatan.
Dan jujur saja, daripada saya capek menjelaskan hal yang sama berulang-ulang, yang ujungnya sering dibalas dengan “oh gitu ya, tapi yaudah sih”, lebih baik energi itu dipakai untuk hal lain yang lebih produktif.
Berdamai dengan “kesalahan” yang terlalu umum
Akhirnya saya sampai di satu titik: berdamai. Bukan berarti saya jadi tidak tahu atau tidak peduli. Saya tetap paham bahwa Purwokerto adalah kecamatan. Kalau ditanya dalam konteks serius atau formal, saya juga akan menjawab dengan benar.
Tapi untuk percakapan sehari-hari? Sudahlah. Kalau orang mau menyebutnya Kota Purwokerto, silakan. Saya bahkan mungkin akan ikut-ikutan. Bukan karena ikut salah, tapi karena memilih tidak memperpanjang sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan.
Kadang, menjadi benar itu melelahkan kalau tidak diiringi dengan kebijaksanaan memilih kapan harus bicara. Dan untuk urusan ini, saya rasa kita semua boleh sedikit lebih santai.
Jadi, ya, selamat datang di Kota Purwokerto, atau Kecamatan Purwokerto, kalau kamu lagi ingin akurat. Pilih saja sesuai kebutuhan. Tidak perlu diperdebatkan panjang-panjang.
Penulis: Wahyu Tri Utami
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
