Purwokerto (Tampaknya) Belum Ramah untuk Pejalan Kaki, Trotoar Masih Dikuasai Kapitalis-kapitalis Kecil

Purwokerto (Tampaknya) Belum Ramah untuk Pejalan Kaki, Trotoar Masih Dikuasai Kapitalis-kapitalis Kecil

Purwokerto (Tampaknya) Belum Ramah untuk Pejalan Kaki, Trotoar Masih Dikuasai Kapitalis-kapitalis Kecil

Kota Purwokerto kini memiliki predikat sebagai kota ternyaman selain Yogyakarta. Predikat ini disampaikan oleh seorang komika kawakan Pandji Pragiwaksono yang mengatakan bahwa Purwokerto nggak istimewa, tapi nyaman.

Namun tampaknya predikat ini belum ditopang dengan fasilitas yang memadai, terkhusus untuk para pelancong yang ingin menikmati kota Purwokerto dengan berjalan kaki. Padahal jika dibandingkan dengan daerah di sekitarnya, memang tampak bahwa Purwokerto merupakan kota paling maju.

Dengan sapaan Kota seribu curug bukankah sebaiknya Purwokerto mengembangkan akses yang baik bagi para pelancongnya, misalnya dengan meningkatkan fasilitas seperti kendaraan umum dan trotoar. Dengan pengembangan tersebut, pelancong dari berbagai daerah akan semakin tertarik dengan Kota Purwokerto.

Sebagai pendatang saya merasa betul bahwa kota ini tidak ramah bagi pejalan kaki. Sebab, jarang sekali ditemukan trotoar di pinggir jalan. Jika pun ada, pasti sudah dimanfaatkan untuk para kapitalis kecil.

Trotoar di Purwokerto tidak berjalan seperti semestinya

Ketenangan Purwokerto tidak berjalan baik bagi para pejalan kaki yang tidak bisa berjalan secara bebas di trotoar. Beberapa trotoar yang ada di Purwokerto dijadikan tempat ladang duit bagi para pelaku parkir liar dan tidak jarang juga dijadikan lahan untuk orang berjualan. Dengan merambahnya street coffee yang menggunakan kursi dan meja pendek di trotoar menjadikan para pejalan kaki harus menunduk untuk lewat atau bahkan berjalan memutar, terutama Ketika malam hari.

Apabila terdapat trotoar yang dapat digunakan dengan baik, namun tidak dibarengi dengan pohon sebagai peneduh disiang hari. Belum lagi dengan guilding blocks (ubin kuning) yang kerap kali hilang dan terputus entah kemana, bahkan ada yang tertutup gerobak atau bahkan mengarah ke tiang listrik.

Pertanyaannya adalah, apakah tata ruang Purwokerto telah menyediakan ruang ekonomi yang layak bagi kelas menengah bawah? Jika dirapikan, itu bukan menjadi jawaban, tapi menimbulkan masalah bagi pejalan kaki di blok-blok lain di Purwokerto.

Purwokerto didesain untuk memanjakan kendaraan pribadi

Jika Anda berjalan-jalan di Purwokerto, Anda akan sadar bahwa tidak semua daerah terdapat trotoar, karena hanya terdapat di beberapa daerah. Setelah mengitari Purwokerto, menurut saya trotoar bagus ada di daerah sekitar kampus misalnya di Kawasan Universitas Jenderal Soedirman atau Unsoed, di komplek kulineran Kebondalem, dan sepanjang Jalan HR. Bunyamin, serta Jalan Overste Isdiman.

Meskipun ada beberapa daerah yang terdapat trotoar jalan, tapi tidak senyaman beberapa yang sudah saya sebutkan.

Unsoed menjadi kampus yang cukup memperhatikan pejalan kakinya. Ini perlu diikuti oleh beberapa kampus yang ada di Purwokerto, karena selain pelancong yang ingin melihat kampus-kampus di Purwokerto, mahasiswa juga butuh trotoar untuk pergi ke kampus. Hal yang mungkin remeh-temeh, tapi bagi isu yang diskriminatif bagi para mahasiswa yang berjalan kaki karena tidak memiliki kendaraan pribadi.

Ada kesan bahwa Purwokerto memang tidak terlalu memikirkan para pejalan kaki. Banyak sekali ditemukan kendaraan pribadi mengisi penuh jalanan jika Anda menyusuri Kota Purwokerto. Belum lagi dengan merambahnya ojek online yang dalam satu sisi membantu ekonomi para umkm, warga, dan driver itu sendiri. Tapi di sisi lain, menjadi pisau bermata dua yang mengakar di aspal Purwokerto.

Refleksi para pelaku usaha yang enggan juga sadar

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya para pelaku usaha memang haruslah sadar akan kepentingan umum selain mementingkan isi dompetnya sendiri. Salah satunya dengan menyediakan lahan parkir sendiri di depan atau samping rukonya. Bukannya menjorokkan bangunan ruko ke trotoar bahkan hingga bahu jalan, karena sudah pasti akan dimanfaatkan para pelaku parkir liar.

Bagi pejalan kaki rasanya akan gundah ketika melihat bangku atau meja untuk nongkrong dan makan berada di pipir trotoar. Mau lewat tidak enak, juga mau memutar tertutup lahan parkir liar. Maka pejalan kaki harus sabar, karena mereka tidak bisa terbang melewati ruko para pelaku usaha yang egois dan mementingkan dirinya sendiri. Jika tidak sabar pejalan kaki harus melewati bahu jalan, dan saya sarankan untuk berhati-hati karena banyak kendaraan yang berlalu-lalang.

Paradoks mengenai pembangunan dan pemeliharaan trotoar yang belum sempurna oleh pemerintah daerah, juga berdasar kepada kesadaran diri dari para pelaku usaha swasta yang harus sadar akan tanggung jawabnya untuk tidak mengambil hak para pejalan kaki, adalah masalah yang harus diselesaikan oleh Purwokerto. Yah, kota nyaman harusnya dirasakan oleh semua kalangan, bukan begitu?

Penulis: Novandi Ali Akbar
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 5 Esai Terpopuler Mojok 2025: Sebuah Rekaman Zaman dan Keresahan Lintas Generasi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version