Informasi
ADVERTISEMENT

Purwakarta dan Purwokerto, Namanya Mirip, Nasibnya bak Bumi dan Langit, padahal Harusnya Bisa Setara!

Purwakarta dan Purwokerto, Namanya Mirip, Nasibnya bak Bumi dan Langit, padahal Harusnya Bisa Setara!

Hiburannya setara

Purwakarta bukan daerah yang sepelosok itu untuk kemudian dibilang nggak sanggup bersaing dengan Purwokerto. Meskipun sama-sama berstatus administratif kabupaten, Purwakarta bukan wilayah yang sepenuhnya rural.

Purwakarta punya banyak pesona di bidang FnB dan hiburan. Soal kuliner, biasanya warganet menyebut suatu daerah sudah maju dengan parameter keberadaan Starbucks dan Richeese, ditambah dengan Indomaret dengan jumlah tertentu. Jangan khawatir, kabupaten ini punya itu semua.

Tempat wisata pun banyak, baik yang alam maupun buatan. Ada Gunung Parang dan Gunung Bongkok yang jadi favorit pendaki, Cikao Parks dan The Colorville untuk wisata keluarga, dan yang baru-baru ini kembali jadi wisata favorit baru: Waduk Jatiluhur.

Dari hiburan-hiburan yang tersedia ini, Purwakarta siap menyaingi Purwokerto yang punya Baturraden, Gunung Slamet, dan The Village.

Pendidikan jadi faktor penentu di Purwakarta

Purwakarta sebenarnya bisa saja menyamai atau bahkan menyalip popularitas Purwokerto dari beberapa hal yang sudah saya sebutkan tadi. Hanya saja soal institusi pendidikan, Purwakarta masih “kalah”.

Salah satu alasan Purwokerto dipilih untuk proyek integrated city adalah keberadaan beberapa kampus besar di sana. Ada Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) sebagai PTN serta Universitas Islam Negeri Prof. KH. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) dan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) sebagai PTS. Kampus-kampus berukuran besar ini tentunya “membawa” banyak mahasiswa.

Sementara itu, kampus yang ada di Purwakarta masih berukuran mikro yang mungkin mahasiswanya berasal dari Purwakarta atau kota-kota di sekitarnya saja. Keberadaan mahasiswa dari luar daerah berkontribusi besar untuk membangun sekaligus mempopulerkan suatu kota.

Dengan segudang potensi ini, amatlah wajar jika Purwakarta bisa sama terkenalnya dengan Purwokerto, tidak lagi jadi pelengkap atau daerah yang dikenal karena selip lidah saja. Tapi, semua tergantung pengelolanya, mau memanfaatkan potensi, atau puas-puas saja cuman begini.

Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA “Purwokerto Macet” Dua Kata yang Dulu Mungkin Terdengar Lucu, tapi Tidak dengan Saat Ini

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Terakhir diperbarui pada 6 Juni 2025 oleh .

Noor Annisa Falachul Firdausi

Alumnus UGM asal Yogyakarta yang lagi belajar S2 Sosiologi di Turki

Exit mobile version