Pulang ke Solo dari Jogja tidak pernah sesederhana menyalakan motor dan mengejar jarak. Di sepanjang Jalan Jogja-Solo, ada simpang yang sudah lama jadi kuburan, celah median yang mengundang maut, dan truk-truk yang seolah tidak pernah tidur.
Ini adalah kisah dari teman lama saya. Kami kenal dari skena sepak bola Solo dan Jogja.
Dia sudah cukup lama merantau ke Tangerang, lalu pindah ke Jakarta untuk menetap secara permanen. Kisah ini dia tuturkan ketika kami ngobrol tempo hari setelah dia membaca artikel Terminal Mojok tentang pulang ke Gunungkidul.
Dulu, dia sempat bekerja di Jogja. Nggak lama, nggak genap satu tahun. Namun, justru di jarak yang dekat, Jogja ke Solo, dia merasa pulang itu kadang penuh mara bahaya.
Inilah kisahnya.
Rasa malas pulang ke Solo karena harus lewat Jalan Jogja-Solo
Jadi, menjadi anak rantau yang tinggal di Jogja punya satu rutinitas yang mungkin tidak terlalu istimewa bagi sebagian orang: pulang ke rumah. Bagi saya yang berasal dari Solo dan ngekos di Jogja, kadang saya malas sekali untuk pulang.
Jaraknya memang tidak sampai membuat saya harus menyiapkan bekal makanan untuk perjalanan berjam-jam. Sekitar 60 kilometer, lewat Klaten, lalu masuk Solo. Namun, ada satu hal yang bikin waswas.
Perjalanan pulang seharusnya menjadi momen menyenangkan. Ada rumah, keluarga, dan kesempatan beristirahat sejenak dari rutinitas kehidupan anak kos. Sayangnya, sebelum sampai di rumah, saya harus melewati jalur yang membuat konsentrasi seolah tidak boleh kendur barang sedetik pun.
Jalan Jogja-Solo bukan sekadar jalur penghubung dua kota. Jalan ini adalah urat nadi perekonomian, akses warga untuk bekerja, sekolah, mengangkut logistik, rute pariwisata, hingga akses pulang ke rumah. Namun, bagi penglaju sepeda motor seperti saya, melintasi jalur ini kerap terasa seperti sedang menjalani ujian keselamatan.
Di atas jok motor matik kesayangan, selalu ada truk tronton yang melintas, celah median yang mengundang, jalan berlubang, dan satu hal yang tidak kalah bikin jantung berdebar: simpang Jombor.
Jombor itu semacam “kuburan”
Bagi orang awam, nama Jombor mungkin terdengar biasa saja. Sebuah desa di Kecamatan Ceper, Klaten, yang mungkin tidak pernah masuk dalam daftar tempat wisata. Namun, bagi pengguna Jalan Jogja-Solo, nama itu selalu sukses menghadirkan ingatan yang membuat bulu kuduk berdiri.
Simpang 4 Jombor berada di Desa Jombor, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten. Persimpangan ini bukan sekadar titik temu dua arah jalan. Di sini, arus kendaraan dari arah Solo dan Jogja bertemu dengan arus warga yang menyeberang, karyawan pabrik, pejalan kaki, dan kendaraan yang hendak memutar balik. Belum lagi akses ke perlintasan kereta Mbah Ruwet dan gereja di sekitar simpang.
Sejak lama, Jombor masuk dalam daftar black spot atau titik rawan kecelakaan di Klaten. Warga sekitar bahkan sudah lama mengusulkan pemasangan lampu lalu lintas.
Sebelum lampu itu terpasang, para satpam pabrik rela berdiri di persimpangan setiap pagi untuk membantu menyeberangkan pejalan kaki. Bayangkan, sebuah simpang di jalan nasional, masih bergantung pada lima satpam yang berdiri di tengah jalan.
Pada 2021, warga bernama Wawan (35) mengaku dalam sebulan terakhir lebih dari empat kecelakaan terjadi di persimpangan Jombor. Dia menyebut rata-rata kecelakaan terjadi antara kendaraan yang menyeberang melalui celah median dengan kendaraan yang melaju di ruas jalan raya. Satlantas Polres Klaten pun mengonfirmasi bahwa Jombor adalah salah satu lokasi black spot di Klaten.
Tingginya angka kecelakaan jadi ancaman buat kami yang mau pulang ke Solo
Persoalannya, Jombor bukan satu-satunya. Sebuah penelitian oleh Bella Titisari dari Universitas Muhammadiyah Surakarta pada 2019 berjudul Analisis Tingkat Kecelakaan Lalu Lintas (Studi Kasus: Kecelakaan Lalu Lintas Jalan Jogja-Solo Km. 17+300–Km. 49+800 Kabupaten Klaten) mencatat 645 kejadian kecelakaan di ruas tersebut. Dari jumlah itu, 154 orang meninggal dunia, 9 orang luka berat, dan 985 orang luka ringan.
Penelitian itu juga menghitung Equivalent Accident Number (EAN) tertinggi sebesar 399, dengan batas kendali atas (UCL) 264. Artinya, ada titik-titik yang tingkat kecelakaannya jauh di atas ambang batas yang wajar. Titik dengan EAN tertinggi berada di Km 46+800–48+300, kawasan Simpang 4 Prambanan.
Penelitian lain, oleh Alfonsus Gama Renando Kuswara dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta pada 2017, menemukan 22 kasus kecelakaan di area black spot Sta 4+000 dalam dua tahun. Kecepatan rata-rata kendaraan di lokasi itu mencapai 72,7354 km/jam, jauh di atas kecepatan rencana 60 km/jam.
Selama dua tahun, tercatat 195 kasus kecelakaan di ruas Prambanan–Klaten. Penelitian itu juga mencatat rambu lalu lintas yang terhalang pohon, kertas iklan, dan objek lain.
Memang, penelitian itu sudah berusia lebih dari setengah dekade dan tidak bisa langsung menjadi ukuran mutlak kondisi jalan hari ini. Namun, keberadaan dokumen akademik itu menjadi bukti sahih bahwa persoalan keselamatan di Jalan Jogja-Solo sudah menjadi ancaman lama yang tidak pernah tuntas. Dan lucunya, persoalan mematikan ini belum selesai menjadi bahan berita.
Rekam jejak 2026: dari pikap gula sampai bus Mira
Pada 28 Januari 2026, sebuah pikap bermuatan gula terguling di Jogonalan, Klaten, tak jauh dari exit tol Prambanan. Kecelakaan beruntun itu melibatkan truk dan mobil Xenia. Seorang penumpang Xenia meninggal dunia setelah sempat dirawat.
Belum genap tiga bulan, pada 18 April 2026 pukul 04:30 WIB, sebuah truk bermuatan pasir terperosok ke sungai di Desa Klepu, Kecamatan Ceper. Polisi menduga sopirnya mengantuk. Truk itu terjun ke sungai sedalam empat meter, merusak besi pengaman jalan dan menumbangkan dua tiang telepon.
Pada 21 Mei 2026 pukul 18:20 WIB, tiga kendaraan terlibat karambol di Jogonalan. Sebuah truk yang melaju dari arah Solo menuju Jogja diduga mengalami gangguan mesin, lalu ditabrak minibus dari belakang. Sopir minibus terjepit dan harus dievakuasi.
Pada 2 Agustus 2026 pukul 23:30 WIB, sebuah bus Mira terguling di Desa Kuncen, Kecamatan Ceper. Bus itu melaju dari arah Jogja menuju Solo, lalu kehilangan kendali dan melompati median setelah sopirnya berusaha menghindari seorang pesepeda. Dua orang luka.
Pada 18 Agustus 2026 pukul 05:25 WIB, dua truk bertabrakan di Desa Meger, Kecamatan Ceper. Sopir salah satu truk terjepit dan harus dievakuasi dengan bantuan Damkar. Kecelakaan terjadi saat truk dari arah Jogja menuju Solo menabrak truk di depannya.
Pada 27 Oktober 2026, seorang perempuan berinisial W (50) meninggal dunia di Jalan Jogja-Solo, Desa Klepu, Kecamatan Ceper. Polisi menduga tabrak lari. Tiga hari kemudian, petugas mengamankan sebuah mobil Datsun Cross beserta sopir dan penumpangnya di Berbah, Sleman, yang diduga terkait insiden tersebut.
Jika rentetan insiden ini hanya kita baca sekilas di layar gawai, mungkin semuanya terlihat seperti musibah lalu lintas biasa. Namun, bagi pengguna jalan yang mempertaruhkan nyawa di sana secara rutin, kejadian berulang ini bagaikan teror mental.
Pertanyaan saya selalu sama. Sebenarnya, seberapa besar probabilitas celaka yang harus saya hadapi setiap kali menarik tuas gas di jalur menuju Solo ini?
Celah median adalah undangan bahaya di jalur Jogja menuju Solo
Kalau urusannya hanya truk dan tikungan, mungkin pengendara roda dua masih bisa mengantisipasinya dengan menjaga kecepatan dan memperkuat insting. Masalahnya, Jalan Jogja-Solo menyimpan jebakan lain yang tidak kalah mematikan bernama celah median.
Celah median adalah bagian jalan yang sengaja dibuka agar kendaraan bisa berpindah arah atau menyeberang. Di atas kertas, ini adalah fasilitas. Di jalan raya yang ramai, celah median sering berubah menjadi undangan untuk melakukan manuver berbahaya. Pengendara motor menyeberang, mobil berpindah arah, truk melintas dengan kecepatan tinggi. Semua terjadi dalam hitungan detik.
Di Desa Trunuh, Kecamatan Klaten Selatan, warga pernah menutup celah median dengan pagar bambu. Di tengah pagar terpasang poster: “Maaf jalan penyeberangan ditutup, karena rawan kecelakaan, sering terjadi kecelakaan.”
Warga menutup celah tersebut setelah dua remaja tewas dalam kecelakaan yang melibatkan bus Mira dan sepeda motor. Warga bahkan sudah mengusulkan penutupan sejak sebelum pandemi COVID-19.
Di Desa Wadung Getas, Kecamatan Wonosari, celah median yang sedikit menikung juga rawan banget. Warga setempat bercerita bahwa lokasi itu sering dipakai untuk putar balik, padahal kendaraan dari kedua arah melintas dengan kecepatan tinggi. Di Desa Kuncen, celah median juga pernah menjadi lokasi kecelakaan yang melibatkan bus.
Celah median ini adalah “tumpahan solar” versi Jogja–Solo. Tidak terlihat seperti jebakan, tidak berbau bahaya, dan sering dianggap sebagai bagian normal dari jalan. Padahal, di balik celah yang tampak sederhana itu, ada keputusan hidup dan mati yang diambil dalam sepersekian detik.
Jalan berlubang dan lampu yang tidak ada
Belum selesai menghadapi celah median, pengendara masih harus berhadapan dengan jalan berlubang. Di Desa Kepanjen, Kecamatan Delanggu, lubang besar pernah muncul di tengah lajur. Dalam sehari, sedikitnya lima pengendara motor terjatuh. Lubang itu bahkan digenangi air karena pipa PDAM di bawahnya bocor. Di Desa Jambukulon, Kecamatan Ceper, lubang serupa juga sempat menjadi keluhan warga.
Warganet bahkan menyebut jalan di Klaten sebagai “taman 1.000 lubang”. Tambal sulam berulang kali, tetapi lubang kembali muncul. Sementara itu, warga mengeluh penerangan jalan di sejumlah titik belum memadai. Rambu lalu lintas ada, tetapi sebagian terhalang pohon atau kertas iklan.
Malam hari, kondisi ini menjadi lebih buruk. Pengendara sulit membedakan lubang yang terisi air hujan dari genangan biasa. Celah median yang gelap tidak bisa dibedakan dari bahu jalan. Lampu kendaraan dari arah berlawanan membuat mata silau. Semua elemen itu bertemu dalam satu perjalanan dari Jogja ke Solo, dan pengendara motor hanya punya satu tubuh untuk bertahan.
Dini hari, ketika jalan kosong menuju Solo justru paling maut
Ada satu pola yang jarang kita bicarakan. Jadi, banyak kecelakaan di Jalan Jogja-Solo terjadi pada dini hari. Pukul 04:30, 05:25, 05:30, dan 03:30. Jam-jam ketika jalan seharusnya kosong dan sepi.
Justru karena jalan kosong, kecepatan kendaraan meningkat. Truk dan bus melintas tanpa hambatan.
Pengemudi yang sudah menempuh perjalanan panjang mulai mengantuk. Di sisi lain, pengendara motor yang berangkat pagi juga sering dalam kondisi setengah sadar. Tidak ada lampu penerangan yang cukup, tidak ada saksi mata, dan tidak ada bantuan di sekitar.
Jalan yang seharusnya tidur justru sedang bekerja paling keras. Dan kita, yang hanya ingin pulang ke Solo, harus ikut terjaga.
Warga sudah bergerak, tetapi keselamatan bukan pekerjaan sukarela
Kabar baiknya, keresahan warga tidak hanya berhenti di keluhan. Di Jombor, warga mengusulkan lampu lalu lintas. Usulan itu akhirnya dipasang pada 2023, setelah bertahun-tahun menjadi black spot. Di Trunuh, warga menutup celah median. Dan warga di Delanggu melaporkan lubang jalan dan pipa PDAM yang bocor. Di banyak titik, satpam pabrik dan warga sekitar masih membantu menyeberangkan pejalan kaki.
Tetapi, kita tidak bisa terus-menerus menutup mata dan membiarkan warga bekerja seperti petugas pemadam yang baru datang setelah rumah terbakar. Sampai kapan penanganan keselamatan jalan nasional, Jalan Jogja-Solo ini hanya sebatas reaktif memasang pagar setelah korban berjatuhan?
Pagar bambu dan poster adalah pertolongan pertama, bukan obat penyembuh. Fokus utama seharusnya dikembalikan pada upaya mitigasi pencegahan yang tegas.
Audit ulang titik-titik rawan kecelakaan di Jalan Jogja-Solo, penutupan celah median yang tidak resmi, pemasangan rumble strip, penerangan jalan, marka yang jelas, dan kamera kecepatan harus dilakukan secara sistematis.
Lebih jauh, pemerintah pusat dan daerah tidak boleh lepas tangan dari kualitas infrastruktur. Perbaikan jalan berlubang harus permanen, bukan tambal sulam yang bertahan sebulan. Rambu lalu lintas harus terlihat, bukan terhalang pohon dan iklan. Dan tempat istirahat bagi sopir truk harus disediakan, karena banyak kecelakaan berawal dari pengemudi yang mengantuk.
Jangan sampai kita semua membiarkan hal-hal yang tidak normal menjadi biasa. Terlalu sering membaca berita truk terbalik dan motor jatuh di Jalan Jogja-Solo tidak seharusnya membuat kita mewajarkan bahwa jalan ini memang kawasan yang sudah seharusnya berbahaya.
Saya hanya ingin pulang ke Solo, lewat Jalan Jogja-Solo, dengan tenang
Sebagai pemuda Solo yang ngekos di kota, saya tidak muluk-muluk menuntut jalur arteri yang lurus mulus sepi kendaraan seperti jalan tol. Saya sadar betul bahwa jalur ini adalah denyut nadi ekonomi regional yang harus membagi ruangnya dengan berbagai kelas sosial dan kepentingan ekonomi.
Saya tidak menuntut kesempurnaan, saya hanya ingin satu hal sederhana: berkendara dengan perasaan aman di Jalan Jogja-Solo.
Tentu saja berkendara dengan kehati-hatian ganda adalah kewajiban dasar setiap pengguna jalan. Tetapi, rasa waswas karena ancaman struktural dan kelalaian yang terus berulang, jelas bukanlah sesuatu yang bisa dimaklumi.
Masyarakat Solo dan Klaten memang terkenal tangguh dalam menghadapi ujian kerasnya kehidupan. Namun, itu tidak berarti bahwa setiap perjalanan rutin kami untuk menengok keluarga harus dikonversi menjadi ujian survival, kesabaran, dan keteguhan iman.
Saya cuma ingin pulang untuk makan malam bersama keluarga dan tidur tanpa harus waspada, bukan untuk mengikuti simulasi bertahan hidup di atas aspal Jalan Jogja-Solo. Di saat tubuh lelah setelah sepekan berkutat dengan rutinitas, saya hanya ingin memacu motor dengan tenang, tanpa harus berjudi dengan nasib.
Karena sejauh apapun jarak memisahkan Jogja dan Solo, filosofi perjalanan tetaplah tunggal: pulang dengan selamat. Jangan sampai jalan yang seharusnya mempersatukan Solo dan Jogja, justru menjadi pemisah antara kita dan orang-orang yang kita cintai.
BACA JUGA Jalan Solo-Jogja Kena Kutukan, Hanya Orang Sakti yang Bisa Lewat Sini Tanpa Kejeglong! dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.