ADVERTISEMENT

Food Junction Grand Pakuwon, mal di Surabaya yang paling tidak diskriminatif terhadap pengendara motor

Food Junction Grand Pakuwon, mal di Surabaya yang paling tidak diskriminatif terhadap pengendara motor

Food Junction Grand Pakuwon punya kawasan yang luas, tidak bertingkat dengan area parkir yang relatif mudah diakses. Dan, paling kerennya, ramah buat motor!

Salah satu yang sering membuat saya malas datang ke mal adalah karena lokasi parkirnya yang kadang diskriminatif. Banyak pusat perbelanjaan yang memperlakukan pengendara motor sebagai pengunjung kelas 2. Sehingga posisi parkirnya harus melewati jalur yang memutar, melewati lorong, dan kemudian membuat pengunjung harus berjalan jauh untuk mencapai pintu masuk. Belum masuk mal saja, tenaga sudah habis terkuras.

ADVERTISEMENT

Perkara itu membuat saya menempatkan kemudahan parkir sebagai nilai tambah bagi sebuah mal. Beruntungnya, saya mendapatkan pengalaman kemudahan parkir ini salah satunya ketika mengunjungi Food Junction Grand Pakuwon di Surabaya Barat

Berbeda dengan mal pada umumnya ya dipenuhi toko pakaian, barang elektronik, dan berbagai toko dari brand terkenal, Food Junction lebih seperti pusat kuliner berukuran besar yang konsepnya dibuat seperti mal. Makanan dan minuman tentu menjadi daya tarik utamanya, meskipun tetap ada berbagai jualan lainnya dan fasilitas rekreasi yang mendukung.

Terlepas dari itu, yang menarik bagi saya soal Food Junction ini tidak hanya datang dari makanan dan minumannya yang beragam.

Food Junction Grand Pakuwon berada di pinggiran Surabaya dengan area yang luas

Food Junction Grand Pakuwon terletak di kawasan Grand Pakuwon, Banjar Sugihan, Kecamatan Tandes, Surabaya Barat. Lokasinya agak jauh memang kalau titik acuannya dari pusat kota, apalagi bagi mereka yang tinggal di kawasan Surabaya Timur, Utara atau Selatan.

Perjalanan menuju mal ini juga memang nggak mudah. Selayaknya Surabaya dengan keruwetannya, banyak ruas jalan yang jadi langganan titik macet. Alhasil, mereka yang ingin menghabiskan waktu di Food Junction harus terlebih dahulu menguji kesabarannya dengan menghadapi ruwet, panas, dan semrawutnya jalanan Surabaya.

Mungkin ini yang jadi salah satu kekurangan yang jadi pertimbangan banyak orang ketika ingin mendatangi mal satu ini.

Namun, setelah tiba di lokasi, perspektif saya soal sebuah mal jadi cukup berubah. Sebab Food Junction punya kawasan yang luas, tidak bertingkat dengan area parkir yang relatif mudah diakses. Yah setidaknya berdasarkan pengalaman saya, parkir motor di Food Junction sangat mudah diakses dan jaraknya pun dekat dengan malnya itu sendiri. Berbeda dengan banyak mal lainnya di Surabaya.

Area kulinernya pun cukup luas. Karena namanya saja Food Junction, memang daya tarik utamanya ada pada makanan. Setidaknya terdapat sekitar 100 gerai makanan dan minuman, baik dengan konsep indoor maupun outdoor. Itu membuat para pengunjung bisa memilih makanan dan minuman sesuai preferensi dan duduk di mana saja.

ADVERTISEMENT

Banyaknya pilihan juga membuat seseorang bisa datang beramai-ramai, entah bersama keluarga, pacar, atau teman tanpa harus menyamakan selera makanan karena di sana banyak sekali pilihannya.

Meski begitu, ada satu bagian yang membuat saya betah berlama-lama di mal ini, yaitu danau buatan yang berada di tengah area mal.

Duduk di pinggir danau, menikmati sore tanpa banyak pengeluaran

Jadi di bagian dalam area Food Junction Grand Pakuwon, ada sebuah danau buatan yang di sekitarnya ada tempat untuk duduk bagi pengunjung. Bagi saya, keberadaan danau inilah yang menjadi keunikan dari Food Junction dibandingkan dengan pusat kuliner lainnya.

Saya beberapa kali datang ke tempat ini dan pengalaman yang paling saya nikmati adalah duduk menghadap danau ketika sore hari. Walau hanya duduk sambil menyeruput satu cup es jumbo disertai cemilan, rasa tenang yang ditawarkan begitu menyenangkan.

Rasa penat setelah menjalani banyak rutinitas agaknya sedikit berkurang. Dalam ketenangan yang saya rasakan, tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru sebentar duduk, tahu-tahu senja pun mulai menghitam.

Yang terpenting, suasana seperti ini tidak membutuhkan pengeluaran yang banyak. Dalam pengalaman saya, membeli minuman dengan harga kurang dari Rp10 ribu saja sudah cukup untuk menemani lamunan di pinggir danau pada sore hari di Food Junction.

Terlepas dari biaya parkir yang memang ada sendiri, tapi maksud saya, kita tidak perlu harus mengeluarkan banyak uang di restaurant atau makanan mahal untuk menikmati suasana tersebut.

Bagi saya, itu menjadi nilai tambah tersendiri. Sebab di tengah banyaknya tempat nongkrong, tidak semuanya memungkinkan seseorang merasakan suasana dengan pengeluaran yang relatif lebih kecil.

Menikmati festival di malam hari

Selain suasananya yang menenangkan, Food Junction Grand Pakuwon juga beberapa kali menjadi tempat penyelenggaraan festival dan berbagai acara malam. Salah satu yang terbaru adalah Boomi Carnival yang diselenggarakan mulai 2 Oktober – 1 November. Dan itu tanpa tiket masuk, hanya parkir saja. Atau yang skalanya lebih besar ada Pasar Malem Tjap Toendjoengan.

Keberadaan acara seperti ini membuat Food Junction punya daya tarik yang beragam. Sore hari pengunjung menikmati suasana dana yang tenang. Sementara saat festival berlangsung, kawasan tersebut berubah menjadi tempat ramai yang penuh wahana.

Meski begitu, kalau sudah menyangkut acara festival atau sejenisnya, konsekuensi keramaian dan tidak dapat tempat duduk harus siap dihadapi. Terlebih kalau areanya hujan deras. Namun ya balik lagi, bagi saya semua kekurangan itu tidak menghilangkan kesan menenangkan yang ditawarkan oleh mal satu ini.

Saya pikir, terkadang orang pergi ke mal bukan hanya semata-mata untuk membeli sesuatu, melainkan karena membutuhkan tempat untuk menghabiskan waktu, kan?

Sebab sering kali kita hanya ingin keluar rumah atau kos-kosan untuk mencari suasana yang berbeda. Tidak harus berbelanja banyak barang, menikmati makanan dan minuman yang mahal, atau melakukan kegiatan tertentu. Cukup duduk dan menghabiskan waktu dengan bengong.

Dan Food Junction Grand Pakuwon, menurut saya menawarkan pengalaman tersebut. Saya bisa datang, membeli minuman dengan harga terjangkau, kemudian duduk memandangi danau. Yah minusnya jauh aja kalau dari kos-kosan saya.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 3 Mall di Surabaya yang Sebaiknya Nggak Dikunjungi Jelang Lebaran dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok

Terakhir diperbarui pada 4 November 2026 oleh .

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.