PTC dan PCM, Dua Mall di Surabaya yang Kompak Menganggap Pengguna Motor sebagai Anak Tiri

PTC Surabaya dan PCM Surabaya, 2 Mall di Surabaya yang Kompak Menganggap Pengguna Motor sebagai Anak Tiri

PTC Surabaya dan PCM Surabaya, 2 Mall di Surabaya yang Kompak Menganggap Pengguna Motor sebagai Anak Tiri

Menjadi perantau baru di Surabaya itu awalnya menyenangkan. Kotanya besar, mallnya besar, jalannya besar. Tapi setelah dijalani beberapa alama, barulah hal-hal tak menyenangkan muncul. Salah satunya, perkara parkir motor. Lebih tepatnya, parkir motor di Pakuwon Trade Center dan Pakuwon City Market, atau yang biasa disingkat PTC dan PCM.

Kedua tempat ini, entah kenapa, kompak sekali dalam memperlakukan parkiran motor seperti kerabat jauh yang cuma diingat saat Lebaran. Pengalaman ini bukan mengada-ada. Saya pernah merasakan betapa pusingnya parkir di PTC dan PCM Surabaya..

Parkir motor di luar adalah takdir yang tidak bisa ditawar di PTC dan PCM

Sebagai manusia bermotor, saya datang ke PCM atau PTC Surabaya dengan ekspektasi yang wajar. Minimal, ada pilihan. Mau parkir di dalam gedung dengan tarif sekian, atau di luar dengan tarif lebih murah. Atau kalau lagi penuh, ya terpaksa di luar. Logika ini lazim di banyak kota.

Tapi di PTC dan PCM Surabaya, logika itu gugur sebelum sempat berkembang. Memang parkiran motor hampir di sebagian besar mall di Surabaya itu berada jauh memutar dari pintu depan. Tapi di kedua mall ini, tidak ada parkir motor di dalam. Semua wajib di luar, seakan-akan diminta tahu diri sebelum berjuang.

Kalau mobil mendapat basement yang teduh, motor cukup diberi halaman terbuka. Kalau mobil dinaungi atap, motor harus belajar berdamai dengan cuaca. Fenomena ini menjadi culture shock bagi perantau seperti saya.

Dalam bayangan saya, mall megah dan besar seperti PTC Surabaya semestinya menyediakan parkir motor yang ramah dan teduh. Ternyata yang ramah justru hujan dan panas, lengkap dengan topping kesabaran.

Sehat di badan, tidak di perasaan

Setelah parkir, perjalanan belum benar-benar usai. Masih ada jarak yang harus ditempuh dengan berjalan kaki menuju pintu masuk mall PTC dan PCM. Iya, jalan kaki itu menyehatkan, tapi beda cerita kalau jalan kakimu di Surabaya, dan jauh. Beda. Matahari di sini, cuma sepelemparan batu.

Itu kalau cuaca sedang panas. Kalau hujan, kita akan masuk mall dalam keadaan basah. Di saat-saat itulah mengutuk keadaan ekonomi jadi sebuah hal yang masuk akal. Kalau punya mobil, jelas sudah santai masuk parkiran. Sedangkan pengendara motor, ya sudah, menerima nasib.

Ironisnya, PTC dan PCM adalah mall yang megah. Interiornya modern. Tenant-nya lengkap. Lampunya estetik. Toiletnya wangi. Semua terasa dirancang dengan penuh perhatian. Tapi begitu keluar sedikit saja dari bangunan utama, ke area parkir motor, suasana berubah drastis. Seolah-olah bagian ini tidak masuk prioritas desain.

Padahal, di kota seperti Surabaya, motor bukan minoritas. Ia adalah alat mobilitas utama yang datang setiap hari dan paling setia.

BACA JUGA: 4 Mall di Surabaya yang Paling Nggak Ramah Pengendara Motor, Mall Elite Parkiran Motor Sulit

Pengendara motor memang seperti anak tiri, tapi mereka tetap kembali ke PTC dan PCM

Sebagai perantau dari Malang, kejutan ini terasa lumayan keras. Di Malang, parkir motor di luar itu pilihan sadar. Mau hemat, silakan. Mau nyaman, juga ada opsinya. Bahkan kalau parkiran dalam penuh saat high season, parkir luar tetap terasa sebagai kondisi darurat, bukan sistem permanen.

Sementara di PTC Surabaya dan PCM Surabaya, motor sudah lebih dulu diposisikan di luar pagar kemewahan. Ini bukan soal membandingkan kota mana lebih baik, tetapi perihal perbedaan cara memandang motor sebagai bagian dari ekosistem di mall.

Yang paling menarik, pengendara motor tetap datang dan memenuhi parkiran sejak pagi hingga menjelang mall tutup. Jujur saya heran, bagaimana bisa parkiran motor 2 mall ini seperti tidak pernah kosong sama sekali.

BACA JUGA: 3 Mall di Surabaya yang Sebaiknya Nggak Dikunjungi Jelang Lebaran

Intinya….

Sebenarnya ada banyak pilihan bagi pengunjung mall ini. Jika tidak ingin motor kepanasan atau kehujanan di area parkir PTC dan PCM, solusinya sederhana: tinggalkan motor, naik ojek mobil, lalu masuk mall dengan kondisi rapi dan kering.

Namun justru dari situ saya belajar satu hal yang cukup terang melalui dua mall Pakuwon, bukan hanya barang yang memiliki kasta, kendaraan pun demikian.

Pengunjung sepeda motor di PTC Surabaya dan PCM Surabaya ini barangkali tidak menuntut banyak. Yang kami minta amat sederhana, pengelola mall menyediakan tempat parkir yang proper.

Sepele memang, tapi ya, memang itu saja yang kami, pengendara motor, minta. Semoga PTC Surabaya dan PCM Surabaya mau mendengar keluhan kami.

Penulis: Ferika Sandra
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Alasan Pakuwon Mall Surabaya Lebih Baik daripada Tunjungan Plaza

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version