Prabanlintang di Kabupaten Tegal bikin saya kepincut. Siapa sangka malah jadi tempat wisata yang menyenangkan.
Libur sekolah dan Nataru tak hanya jadi momen paling ditunggu oleh anak sekolah, tapi juga oleh tukang kebun sekolah, staf tata usaha, dan—iya—guru. Tak bisa tidak, guru juga menanti waktu libur semesteran untuk rehat sejenak dari rutinitas yang kadang imbalannya tak pernah benar-benar impas dengan pengabdiannya.
Begitu pula dengan istri saya, seorang guru di sekolah swasta, yang sudah hampir dua minggu ini menikmati liburan dengan pulang ke kampung halaman di Kabupaten Tegal. Sebagai suami yang baik, atau setidaknya berusaha terlihat baik, saya pun menuruti kemauannya untuk ikut pulang kampung. Dalam batin saya, pisan-pisan dolani morotuo, sekalian healing, kan lumayan. Toh, pulang kampung pun bisa jadi semacam pelipur lelah bagi anak perantauan seperti saya dan istri, asal ya tidak dibarengi pertanyaan basa-basi yang bikin meringis.
Pulang kampung niatnya sekalian berwisata
Sejak sebelum keberangkatan menggunakan kereta Joglosemarkerto menuju Tegal, saya dan istri memang sudah menyiapkan agenda ganda. Silaturahmi keluarga sambil menyelipkan rencana kecil-kecilan untuk menjajal tempat-tempat wisata.
Maksudnya, agar liburan kali ini tidak sekadar tentang penggugur kewajiban moral, tetapi juga memberi ruang untuk menikmati suasana baru, melihat pemandangan berbeda, dan sekadar melepaskan penat dari rutinitas perantauan yang kadang lebih sering monoton.
Tegal memang kondang dengan aneka wisata alam
Sebelum bercerita soal Prabanlintang, saya mau cerita soal tempat wisata lain di Tegal. Secara geografis, Tegal memang dianugerahi paket wisata komplit. Di utara, bentangannya dataran rendah dengan pantai yang tenang dan datar, sementara di selatan ada kawasan perbukitan yang bersisian dengan lereng Gunung Slamet.
Dari wilayah pesisir seperti Kramat, Pangkah, Suradadi, hingga Warureja, sampai daerah pegunungan seperti Balapulang, Bumijawa, Jatinegara, Pagerbarang, dan Slawi bagian selatan, semuanya tersedia tanpa harus keluar kabupaten. Tegal seperti ingin sesumbar, “Mau laut ada, mau gunung juga ada, tinggal kamu kuat atau tidak finansialnya.”
Kondisi ini jelas berbeda dengan Blora, kota kelahiran saya. Di sana, mencari gunung itu nanggung—tidak tinggi tapi cukup bikin kesal dengan rutenya—sementara kalau ingin melihat pantai, harus siap-siap menyeberang ke kabupaten tetangga, Rembang. Karena itulah, ketika berada di Tegal, saya merasa seperti sedang dimanjakan pilihan.
Prabanlintang Tegal, wisata underated yang bikin saya kepincut
Dari beberapa tempat yang saya singgahi atau sempat direkomendasikan kerabat saat liburan ke kampung halaman istri, ada satu yang awalnya bikin saya skeptis: Wana Wisata Prabanlintang. Pas pertama lihat pelatarannya, batin saya langsung ngedumel, “Waduh, ini mah kayak pawon tetangga yang lupa dibersihkan seusai memasak, berantakan, dan kurang kerumat.”
Tapi begitu melangkah masuk, ealah… tidak seburuk yang dibayangkan. Prabanlintang Tegal nyatanya sudah ditata rapi, dihias secukupnya tapi tetap natural, sehingga tetap enak dipandang mata. Tambah lagi, udara sejuk khas pegunungan nyerobot paru-paru, aroma pinus bikin kepala plong, dan seketika saya pun merasa betah.
Lokasinya ada di Desa Danasari, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, sekitar 30–40 menit dari Slawi. Tiket masuknya ramah kantong: 10 ribu per orang, plus parkir 2 ribu. Murah tapi fasilitasnya cukup lengkap. Mulai dari Flying Fox, Mini ATV, spot foto nyeleneh kayak Rumah Hobbit dan jembatan kayu, area danau, ayunan, sampai tempat mewarnai ada di sini.
Dengan harga tiket dan fasilitas yang tersedia di dalam kawasan Prabanlintang bagi saya sudah sangat sebanding dan nggak mengecewakan.
Prabanlintang Tegal hanya butuh waktu untuk dikenal
Saya masih yakin kalau saja pengelola atau Pemkab Tegal ikut nimbrung dalam penataan dan promosi, Prabanlintang bisa lebih dikenal banyak wisatawan. Bahkan tidak kalah dengan wisata Guci. Soalnya pas pertama datang, kesan “asal ada” di area loket bikin saya ragu. Saya sempat mikir ini tempat wisata mangkrak atau kurang terurus. Padahal begitu masuk, area wisata sudah cukup tertata rapi dan nyaman.
Kalau boleh kasih saran, sedikit sentuhan di area loket bakal banyak membantu. Misalnya cat yang lebih cerah, signage yang jelas, atau penataan parkir yang tertata rapi dan terarah. Dijamin, kesan pertama bakal lebih meyakinkan pengunjung untuk mampir.
Jadi, inilah perkenalan saya dengan wisata di Tegal yang awalnya bikin pesimis, tapi ujung-ujungnya malah bikin takjub. Buat yang punya rekomendasi wisata underated lain di sekitar Kabupaten Tegal, tulis saja di kolom komentar. Supaya kunjungan saya ke rumah mertua berikutnya bisa lebih terencana dan bisa menata ekspektasi sebelum memutuskan untuk berkunjung.
Penulis: Dimas Junian Fadillah
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA Kabupaten Tegal Bernasib Suram Tanpa Kehadiran Wisata Guci.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















