Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial Paling Cerdas

Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial yang Cerdas Mojok.co

Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial yang Cerdas (unsplash.com)

Hyundai Avega keputusan terbaik untuk kaum mendang-mending. 

Sore itu, matahari masih cukup terik. Saya mampir ke bengkel mobil milik teman saya yang sudah sepuluh tahun lebih menggeluti dunia otomotif. Saat datang, suara ketukan palu dan bau oli mesin langsung menyambut. Bengkel kawan saya ini memang tidak besar, tapi rapi. 

Teman saya sedang berdiri di depan mobilnya yang terparkir di sudut halaman, tersenyum bangga. Mobil itu Hyundai Avega warna abu-abu yang sudah dicat ulang rapi. Velg kaleng hitam polos, tapi dibalut ban BFGoodrich yang tebal dan gagah. Bukan mobil mewah. 

Saya terheran-heran kenapa dia memilih Hyundai Avega sebagai mobil harian. Kenapa bukan Avanza baru atau city car fresh lain dari Jepang. Dengan singkat dia menjawab karena murah. Dia memboyong mobil itu dengan harga Rp50 jutaan, bahkan di pasaran ada yang harganya di bawah itu. Kesempatan itu jelas tidak mungkin dia lepaskan, dengan duit segitu dia sudah dapat mobil “gajah nyempil”. Yang dia maksud gempil adalah mobil ini tangguh meski usia sudah belasan tahun. Spare part-nya pun tergolong gampang dicari karena mirip dengan Lancer. 

Pertemuan yang mengubah pandangan saya 

Teman saya yang orang bengkel ini tidak malu maupun gengsi membeli mobil bekas yang namanya kurang populer dibanding merek-merek lain. Keputusan ini tidak muncul begitu saja. Sebelum nyemplung di dunia bengkel, dia bekerja sebagai dealer resmi mobil Jepang. Tiap hari lihat orang-orang beli mobil baru dengan cicilan puluhan juta per bulan. 

Pengalaman itu membuatnya berpikir, kurang bijak rasanya kalau pendapatannya yang pas-pasan itu harus mencicil mobil Jepang baru. Duitnya bakal habis buat angsuran doang. Padahal mobil itu cuma buat harian, antar jemput anak, ke pasar, dan kadang ke luar kota. 

Lalu dia mulai hunting mobil bekas di OLX dan grup Facebook. Matanya tertuju pada Hyundai Avega tahun 2009-2011. Model liftback yang dulu sempat populer di Indonesia sebagai pengganti Hyundai Accent. Mesin 1.5 liter SOHC, 4 silinder, tenaga sekitar 93 hp cukup buat jalanan kota yang macet-macetan. 

Yang bikin dia jatuh hati, mobil ini sudah di-repaint full body warna abu metalik yang elegan. Velg kaleng standar diganti hitam doff, dan ban BFGoodrich All-Terrain yang mahal. Katanya, ban tersebut grip-nya mantap, nggak gampang selip walau hujan deras. Dan, velg kaleng membuatnya lebih kokoh, irit bensin.

Perawatan yang mudah 

Saya tanya lagi soal harga. Andi bilang, Hyundai Avega tahun muda (2009-2012) sekarang masih bisa didapat di kisaran Rp45-55 juta tergantung kondisi. Namun, kalau cari Hyundai Avega yang yang pajaknya hidup, mesin halus, dan body nggak karatan, setidaknya pembeli perlu siapkan duit Rp50 juta. Dia kemudian membandingkan dengan dengan mobil Jepang seumuran yang harganya bisa lebih mahal, tapi kondisinya sudah aus. Itu mengapa, Hyundai Avega adalah pilihan cerdas. Terlebih, Perawatannya nggak ribet. Servis rutin cuma ganti oli, filter, dan kampas rem. Nggak ada teknologi canggih yang bikin pusing. Mesinnya irit, 1 liter kalau di tol, bisa 12-14 km per liter. 

Saya sempat kaget saat dia bilang sparepart Avega banyak yang sama dengan Mitsubishi Lancer. Ternyata benar, dulu Hyundai dan Mitsubishi punya kerjasama teknis di era 2000-an. Beberapa komponen suspensi, rem, dan bahkan beberapa part mesin bisa dipakai silang. “Kalau di bengkel saya, saya sering pakai part Lancer buat Avega. Harga lebih murah 30-40 persen daripada original Hyundai. Gampang banget dicari di toko online atau pasar sparepart,” katanya.

Spesifikasi dan modifikasi yang bikin Hyundai Avega tetap keren

Hyundai Avega yang kawan saya pilih adalah varian GX. Mesin G4EK 1.5 liter, transmisi manual 5-speed yang halus. Interiornya masih orisinil, jok kain yang nyaman, AC double blower dingin. Yang sudah dimodifikasi hanya cat ulang (biaya Rp8 juta) dan velg (Rp4 juta). Total modal di bawah Rp70 juta sudah dapat mobil yang siap jalan 10 tahun lagi, bukankah keputusan yang bijak? 

Dia juga cerita soal handling Avega yang cukup lincah untuk ukurannya. Bobot ringan, suspensi empuk tapi stabil. Mobil ini memang bukan mobil balap memang, tapi buat harian di jalan Semarang-Solo yang banyak lubang, mobil ini juaranya. Ban BFGoodrich bikin dia bisa ngebut pelan di jalan rusak tanpa takut pecah ban. 

Perbandingan dengan mobil Jepang

Saya coba bandingkan. Kalau beli mobil Jepang baru entry-level, katakanlah Toyota Agya atau Daihatsu Ayla, harganya mulai Rp120-150 juta. Cicilan per bulan bisa Rp2-3 juta. Dalam 5 tahun, kamu sudah bayar Rp150 juta lebih, tapi nilai jualnya turun drastis. 

Sementara Avega Rp50 juta, nggak ada cicilan. Bensin dan servis bulanan cuma Rp500 ribu. Sisa duitnya bisa saya pakai buat upgrade bengkel atau investasi lain. “Lagian, mobil Jepang baru juga nanti bakal bekas. Kenapa nggak langsung ambil yang sudah bekas tapi masih prima?” tanyanya retoris.

Dia akui mobil Jepang punya kelebihan di resale value dan fitur safety udah modern. Tapi, untuk kebutuhan harian yang sederhana, Hyundai Avega sudah lebih dari cukup. “Saya nggak butuh kamera 360 derajat atau adaptive cruise control. Yang penting mesin nggak ngadat, rem pakem, dan AC dingin,” imbuhnya. 

Pengalaman sehari-hari dan tips merawat Hyundai Avega

Lebih lanjut, teman saya  juga memberi tips untuk yang mau pakai mobil Korea jadul seperti Avega. Pilih yang pajak hidup dan riwayat servis jelas. Cek kompresi mesin dan kondisi timing belt (Avega pakai belt, ganti tiap 60.000 km). Rutinkan ganti oli setiap 5.000 km pakai oli synthetic. Ban berkualitas seperti BFGoodrich biar aman di segala cuaca.

Dia juga bilang, “Jangan takut mobil Korea. Dulu orang bilang rapuh, tapi Avega ini sudah buktikan tahan banting.” Tak semua orang perlu mobil baru dari pabrikan Jepang yang mahal. Terkadang, pilihan “klise” seperti murah dan gampang dirawatjustru yang paling masuk akal. Hyundai Avega yang abu-abu itu, dengan velg kaleng hitam dan ban BFGoodrich adalah simbol kecerdasan finansial seorang mekanik yang tahu betul mana yang worth it.

Penulis: Budi
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Suzuki Katana Adalah Mobil yang Menyalahi Logika, Banyak Orang Menyukainya walau Jadul dan Kerap Bikin Sakit Pinggang.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version