Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Olahraga

Philippe Coutinho, Cinta dan Luka dalam Satu Nama

Indra Sinaga oleh Indra Sinaga
22 Juli 2019
A A
Philippe Coutinho

Philippe Coutinho

Share on FacebookShare on Twitter

Ada dua momen dalam hidup saya sejauh ini yang saya nilai sendiri memalukan. Yang pertama dengan segala dramanya, berusaha balikan dengan mantan. Yang kedua adalah menyatakan cinta kepada seseorang ketika wisuda, hanya untuk ditolak pada akhirnya. Yang kedua tidak terlalu berefek banyak karena saya sudah melalui yang pertama. Namun ketika mengalami yang pertama, saya merasa hinaaa~ (baca dengan nada Coki Pardede).

Saya meyakini bahwa cinta (dalam hal ini sepasang kekasih) harus ditopang oleh dua individu. Jika salah satu pergi meninggalkan apapun alasannya, maka bubarlah sudah. Meskipun salah satu ingin kembali, rasanya mustahil. Apalagi kalau orang itu yang diputuskan hubungannya. Karena sudah jelas, ada satu yang tidak ingin menopang cinta itu lagi. Jadi, untuk apa membuka kesempatan atau membujuk agar kembali bersepakat?

Philippe Coutinho dalam Kenangan

Setelah berhasil mengejar ‘impiannya’ untuk berbaju Barcelona, Philippe Coutinho ternyata tidak kerasan. Philippe Coutinho ingin pindah dari salah satu kiblat sepak bola modern. Jaminan selalu rutin mendapat tropi juara tidak membuatnya betah. Ditambah Barcelona baru menambah amunisi dalam diri Antoine Griezmann dan Frenkie De Jong. Masanya di Katalan mungkin tidak akan lama lagi.

Coutinho adalah nama besar. Kemampuannya tidak main-main. Dia adalah gelandang serang dengan kemampuan bermain kolektif dan individual yang sangat baik. Bisa merangsek ke sepertiga terakhir untuk membuka ruang, memberi umpan, atau mengeksekusi ruang kosong dengan placing shot yang melengkung mewah dan dijamin original 1 milyar persen kencang menghujam gawang.

Begitupun, bukan Barcelona yang bisa melihat potensi maksimal dari Coutinho. Adalah Brendan Rodgers, mantan pelatih Liverpool yang mempunyai ‘great characters’ yang bisa melihatnya. Beliau membeli Coutinho muda dari Inter dengan mahar 9 juta Euro saja. Dan benar saja, Coutinho menunjukkan ‘great characters’ dan menjadi tulang punggung dari Liverpool selama beberapa tahun. Sepeninggal Luis Suarez dan semakin turunnya performa sang Kapten Fantastik Steven Gerrad, Philippe Coutinho mengambil ahli sebagai pemain terbaik di tim. Kemampuan dribble dan placing shot sudah rutin menyihir ribuan pasang mata di Anfield.

Sayangnya, Liverpool dan kemarau pernah punya makna yang sama. Kebetulan, Philippe Coutinho berada di Liverpool dalam masa ‘kemarau’. Selepas musim ‘kepeleset’, Liverpool kembali ke masa-masa medioker yang sepertinya susah menang barang sebiji tropi receh sekelas Carabao Cup. Tidak ada yang bisa Coutinho dapatkan selain Piala Pemain Terbaik Liverpool tiap musim.

Akhirnya dia sadar, entah dari diri sendiri atau pengaruh dari pihak lain. Dia ingin keluar dari Anfield. Saya sudah mendengar desas-desusnya dari awal tahun 2017 via akun random Twitter yang mengincar orang tolol terjebak click bait. Dan pada musim panas 2017, Coutinho benar-benar mengajukan permintaan transfer.

Baca Juga:

Apa pun Bencana yang Menimpa Barcelona, Real Madrid lah (yang Dituduh Jadi) Penyebabnya

Real Madrid, Klub yang Tidak Punya Zaman

 

Menggurat Luka dari Drama Transfer

Liverpool sebenarnya sudah biasa ditinggal bintang-bintangnya. Mulai dari Coutinho sendiri sampai wonderkid binaan asli Liverpool yang tidak mau saya sebut namanya. Tapi perpindahan Coutinholah yang mungkin paling menyakiti hati fans. Enam bulan lamanya menyala harapan agar dia urung pindah. Hanya untuk dikhianati pada awal Januari 2018.

Ketika pihak klub enggan menjual, Coutinho merajuk. Berbagai usaha dan upaya dilakukan agar jalan keluar dimuluskan. Termasuk dengan mendadak ‘cedera punggung’. Lalu entah bagaimana bisa terbang ke Brazil untuk ikut laga persahabatan. Dan ternyata bisa bermain dengan baik bahkan mencetak gol pula. Lalu berselebrasi menggigit lambang federasi sepak bola Brazil sambil menunjuk langit. Dengan ekpresi yang lumayan menggambarkan kalau dia sedang ‘menderita’, seakan ingin meminta kepada Tuhan akan dibebaskan dari ‘penderitaan’ tersebut.

Begitupun, dia memang tidak pindah sama sekali. Dan sempat menolak untuk main. Penampilan pertamanya dari ‘pengasingan’ adalah ketika Liverpool melawan Sevilla pada 13 September dalam laga perdana penyisihan grup E Liga Champions 2018/2019. Dan tampil di Liga Inggris tiga hari kemudian. Dengan kata lain dia kurang lebih sebulan absen untuk pemulihan ‘cedera punggung’.

Coutinho mungkin mulai ‘ikhlas’ dan kembali bermain seperti biasa untuk Liverpool. Dia juga cepat nyetel dengan trisula maut baru dalam diri Salah, Mane dan Firminho. Saat itu saya yakin dia akan bertahan, setidaknya setelah ada kesempatan meraih tropi dengan kekuatan trisula maut itu. Coutinho juga diberi kesempatan tiga kali untuk menjadi kapten. Bahkan mencetak trigol dalam laga terakhir penyisihan grup E. Saya semakin yakin, si Little Magician akan bertahan sedikit lebih lama lagi.

Tapi yah, namanya berharap kepada manusia memang rentan dikecewakan. Setelah menebus Virgil Van Dijk, sang Little Magician malah angkat jangkar dan berlabuh ke Barcelona. Setelah lama dibuai harapan, akhirnya dia pergi jua. Ucapan terima kasihnya hanya seakan formalitas belaka. Dia pergi untuk mencari piala dan Barcelona adalah garansi nyata. Kisah cinta Liverpool dan Coutinho berakhir menyedihkan, kalau tragis kelihatannya terlalu sadis.

 

Apakah Harus Kembali ke Pelukan?

Saya tidak berharap dia gagal di Katalan sana. Mustahil membayangkannya karena dia adalah pemain jempolan. Bahkan teman sejawat saya yang fans karbitan Barcelona saja bisa melihat kalau dia memberikan impak yang luar biasa. Dan enam bulan pertama bersama Barcelona berakhir dengan bahagia dan berbuah piala pula.

Cerita berbalik arah di musim selanjutnya. Hampir selalu menjadi starter, namun minim keajaiban dari kaki lincahnya. Walau sempat bermain di posisi aslinya di awal-awal liga, dia kembali digeser dan dipatenkan di sayap kiri. Menggantikan Dembele, yang dibeli untuk menggantikan Neymar. Dia memang gelandang serang yang bisa bermain di sayap untuk beberapa situasi dan kondisi tertentu.

Namun Coutinho bukan pemain sayap dengan skillset yang dibutuhkan Barcelona. Berbeda ketika di Liverpool, dari sayap dia bisa dengan bebas menusuk ke sepertiga akhir untuk melakukan salah satu keahliannya yang diatas. Di Barcelona, dia tidak mengemban tugas itu. Dia hanya sekedar pemain sayap. Yang bebas berkreasi (dan menanggung seluruh beban) adalah sang dewa sepak bola, Lionel Messi. Karena itu, kontribusinya terjun bebas dan bisa dikatakan buruk untuk pemain sepak bola termahal ketiga di Dunia.

Dia dalam persimpangan. Inginnya mungkin tetap bertahan, namun persaingannya sungguh luar biasa. Di lini depan sudah bertambah Griezmann. Dan jika sehat, Dembele merupakan pemain yang lebih baik. Di lini tengah dia akan bersaing dengan De Jong dan Arthur yang lebih muda dan potensinya lebih baik. Jelas dia tidak pernah bermain di pos belakang atau dibawah mistar gawang.

Pergi bisa jadi jalan terbaik. Tapi kemana? Banyak gosip mengatakan dia akan jadi alat tukar untuk Neymar. Suara sumbang lainnya dia kembali ke Inggris dan akan menjadi tumbal setan di Manchester sana. Namun mungkin dalam lubuk hati, pasti masih ada rasa ingin kembali ke Anfield dan memakai jersey Liverbird sekali lagi. Menjadi seseorang yang dielu-elukan karena magis lewat kakinya. Bukan pemain mahal gagal yang tidak menjadi apa-apa seperti kata Jurgen Klopp dulu untuk mencegahnya pergi.

Ada kesempatan untuk kembali. Namun bagaimana dengan yang sudah merasa terkhianati? Memang benar adanya kalau Philippe Coutinho akan menjadi ‘rudal’ tambahan dalam skema jika kembali. Tapi bagaimana dengan pemain-pemain yang sudah bersusah payah masuk dalam skema? Bagaimana dengan fans yang merasa tersakiti dengan aksi ‘kucing-kucingan’nya waktu itu? Dia adalah orang yang ‘memutuskan’ hubungan itu. Orang yang tidak mau bersama-sama ‘menopang’ cinta.

Walaupun begitu, keputusan ada di tangan petinggi klub dan pelatih masing-masing klub. Jika Barcelona masih membutuhkan jasanya, terlepas entah performa macam apa yang akan ditunjukkan, maka dia tetap pemain Barcelona. Tetapi jika tidak dan Liverpool mau menebus mahar, maka pertunjukan The Little Magician akan kembali dibuka lagi di Merseyside. Dan saya sebagai seorang fans layar kaca yang berada nun jauh disana hanya bisa tersenyum pasrah dan mencoba mencari alasan untuk mencintai seseorang yang pernah pergi meninggalkan.

Karena sebenarnya saya (dan beberapa fans lainnya) lebih siap melihatnya berbaju apa saja (terutama Manchester United) dan membencinya dengan tenang.

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2022 oleh

Tags: barcelonafc barcelonaPhilippe Coutinhotransfer pemain
Indra Sinaga

Indra Sinaga

ArtikelTerkait

3 Hal yang Bikin Pendukung Barcelona Optimis meski Habis Dikalahkan Real Madrid laporta

Barcelona: Diam Bangkrut, Bergerak Masif Merekrut

16 Juli 2022
ansu fati barcelona bangkrut fcb femeni la masia arthur melo barcelona pjanic juventus MOJOK

4 Hal yang Bisa Dilakukan Andai Barcelona Bangkrut Beneran

1 Februari 2021
Daripada Coach Kira, Tsubasa Cocoknya Dilatih oleh Sajuri Sahid Saja!

3 Jurus Captain Tsubasa yang Nggak Bakalan Lolos VAR

13 November 2020
mo salah real madrid seto nurdiantoro Liverpool manchester united manchester city mojok.co

Begini Menderitanya Punya Pacar Penggemar Liverpool

5 Februari 2021
Real Madrid, Klub yang Tidak Punya Zaman (Unsplash) la liga

Real Madrid, Klub yang Tidak Punya Zaman

9 Mei 2024
Gareth Bale dan Gerard Pique: Rasa Bosan yang Perlu Diatasi Real Madrid dan Barcelona

Gareth Bale dan Gerard Pique: Rasa Bosan yang Perlu Diatasi Real Madrid dan Barcelona

26 November 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Aib Guci Tegal yang Membuat Wisatawan Malas ke Sana Mojok.co

Objek Wisata Guci Tegal Harus Bangkit karena Kabupaten Tegal Tak Ada Apa-Apanya Tanpa Guci

2 Februari 2026
Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh Mojok.co

Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh

4 Februari 2026
Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib Mojok.co

Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib

1 Februari 2026
Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026
Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

31 Januari 2026
Gambar Masjid Kauman Kebumen yang terletak di sisi barat alun-alun kebumen - Mojok.co

5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang

31 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi
  • Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam
  • Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.