Perdebatan Soal Working Mom yang Masih Itu-Itu Saja

Tidak semua working mom yang memiliki anak kecil, sanggup membayar pengasuh. Lantas, banyak yang terpaksa dititipkan ke tetangga atau dibawa bekerja.

Featured

Avatar

Perdebatan seputar working mom ini lama-lama menjengkelkan. Pasalnya, argumen yang dibangun sebatas tentang wanita modern, open minded, dan kemandirian. Kemudian, pihak yang kontra akan membalas dengan lagu-lagu lama. Yak betul!! Apalagi kalau bukan soal kodrat perempuan. Perempuan seharusnya di rumah mengurus anak, mengurus suami, memasak, dan sebagainya. Entah siapa yang menciptakan definisi kodrat-kodratan ini yang jelas keberadaannya telah hadir sejak ratusan tahun yang lalu.

Perempuan dan pekerjaan domestik adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Masalah benar dan salah bukan barang penting karena realitanya sebagian besar masyarakat kita memandang seperti itu. Saya pribadi tidak mempermasalahkan wanita-wanita yang ingin menjadi ibu rumah tangga, memasak untuk anak dan suami, serta melakukan pekerjaan domestik lainnya. Walaupun sebenarnya pekerjan domestik merupakan kewajiban bersama antara suami dan istri.

Wanita apa pun itu istilahnya tetap dapat bekerja sekaligus menjadi ibu rumah tangga. Namun, yang menjadi tantangan adalah faktor lingkungan sekitar dan kebijakan pemerintah yang dinilai masih kurang memaksimalkan potensi perempuan dalam pembangunan nasional. Menurut Bank Dunia, sekitar 93 persen wanita Indonesia di atas 15 tahun sudah melek literasi. Tingkat partisipasi perempuan dalam angkatan kerja mencapai 50,7 persen, meskipun begitu angka ini termasuk rendah menurut standar internasional. Riset McKinsey 2018 menunjukan kesetaraan gender dapat meningkatkan produk domestik bruto (PDB) Indonesia sebesar US$ 135 miliar pada 2025.

Sayang, gagasan-gagasan yang sering disuarakan dalam mendorong wanita untuk bekerja masih seputar tentang betapa keren menjadi ibu rumah tangga sekaligus wanita karier. Kemandirian finansial menjadi alasan utama mengapa seorang wanita perlu terjun ke dunia kerja bahkan ketika sudah menikah dan mempunyai anak. Lantas apakah hal tersebut salah? Saya pikir tidak. Namun, yang perlu kita sadari menjadi ibu yang bekerja bukanlah pekerjaan mudah. Ada rintangan lain yang hadir bersamaan dengan keputusan perempuan untuk tetap berkarir meski telah memiliki anak yaitu pengasuhan anak.

Baca Juga:  Mimpi Buruk Festival Musik Tahun 2019 di Indonesia

Sekilas pengasuhan anak ini bukan merupakan masalah besar, karena para ibu yang bekerja dapat menitipkan anak pada orang tua atau membayar baby sitter. Faktanya, tidak semua orang tua bersedia untuk dititipkan karena masalah kesehatan yang tidak mampu lagi untuk berlarian ke sana ke mari mengejar cucu-cucu mereka. Begitu juga baby sitter, suami istri yang bekerja tentu mampu membayar pengasuh hanya saja mereka kesulitan menemukan orang yang dapat dipercaya.

Kemudian, yang perlu kita sadari juga ada sebagian ibu, meskipun bekerja tetap tak mampu membayar pengasuh dan tak ada orang tua atau kerabat yang dapat dititipkan anak. Beberapa waktu yang lalu di media sosial sempat viral, seorang ibu penarik ojek online membawa anaknya dalam gendongan ketika sedang menarik penumpang. Isi kolom komentar atas posting-an itu langsung penuh dengan pujian dan empati. Ibu tersebut mengatakan ia bekerja demi mencari nafkah untuk kelima anaknya.

Masalah pengasuhan anak ini juga dirasakan oleh ibu-ibu yang menjadi buruh pabrik. Tidak jarang mereka meninggalkan balita mereka di rumah sendiri dengan hanya dititipkan pada tetangga. Tentu tindakan ini memiliki risiko. Ibu yang menggendong bayinya saat sedang menarik ojek rawan mengalami kecelakaan lalu lintas. Tidak hanya membahayakan si ibu dan anak tapi juga penumpang. Anak-anak yang seharian ditinggalkan orang tuanya tanpa pengawasan juga berisiko mengalami tindakan kriminal seperti penculikan dan kekerasan seksual.

Ya memang begitu banyak tantangan yang dihadapi perempuan saat memutuskan bekerja apalagi setelah memiliki anak. Untuk itu, pro kontra tentang working mom sudah seharusnya diisi dengan argumen yang mendorong tersedianya kebutuhan pendukung lain seperti child care yang berkualitas dan terjangkau serta cuti melahirkan bagi ayah. Di Indonesia keberadaan child care diyakini masih minim. Belum ada angka yang pasti mengenai jumlah child care.

Selain itu, child care masih disediakan oleh swasta sehingga biaya yang dikenakan tergolong mahal bisa sampai 500 ribu/jam. Bandingkan dengan UMP rata-rata di Indonesia maka dapat kita simpulkan child care saat ini masih diperuntukan untuk golongan menengah atas. Cuti melahirkan bagi ayah pun sebenarnya telah ada di Indonesia hanya saja masih diperuntukan bagi PNS dengan dengan masa 1 bulan.

Baca Juga:  Ma’ruf Amin Mau Ajarkan India Soal Toleransi, Itu Ahmadiyah Apa Kabarnya Pak?

Mendorong wanita untuk berkerja merupakan ajakan yang baik tetapi apabila gagasan-gagasan yang diajukan hanya soal kemandirian finansial dengan mengabaikan faktor pendukung wanita untuk berkarier, maka hanya akan menjadikan wanita sebatas komoditas yang digunakan untuk menambah PDB negara. Kesetaraan gender sering disalahtafsirkan sebagai bentuk perlawanan terhadap kaum pria, padahal sejatinya adalah perjuangan tentang keadilan bahwa wanita sudah semestinya memiliki kesempatan yang sama dalam memperoleh akses dan merasakan manfaat dari pembangunan nasional. Lalu, bagaimana bisa adil kalau tidak mendorong kehidupan yang lebih baik bagi perempuan?

BACA JUGA Emang Kenapa sih Kalau Sarjana Jadi Ibu Rumah Tangga? atau tulisan Chairunis lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
6


Komentar

Comments are closed.