Percayalah, Naik Jabatan Itu Nggak Enak!

Percayalah, Naik Jabatan Itu Nggak Enak!

Percayalah, Naik Jabatan Itu Nggak Enak! (Pixabay.com)

Siapa sih yang nggak mau naik jabatan di kantor yang sudah bertahun-tahun ditempati? Punya jenjang karier yang melejit, ruangan ber-AC, bebas ngatur anak buah, tujangan, dan kenaikan gaji. Kerja cuma tinggal ngatur, ACC, tanda tangan, selesai, terus pulang. Kira-kira seperti itulah bayangannya.

Tapi sayangnya, bayangan kalian nggak sepenuhnya benar. Ya memang ada benarnya juga, sih, tapi banyak salahnya.

Saya memutuskan untuk mengambil langkah mundur alias resign dari perusahaan di tempat saya bekerja. Alasannya adalah karena saya mendapatkan promosi alias naik jabatan. Loh, kok malah resign? Nggak bersyukur.

Ya biarin to, kok ngatur.

Begini, naik jabatan itu ada nggak enaknya, dan jelas itu bukan hal sepele. Nggak enaknya dapat promosi kenaikan jabatan adalah pertama, akan ada rekan kerja yang iri dengan pencapaian karier kalian. Jelas dan itu sudah pasti. Bahkan yang lebih parahnya lagi, bisa saja kalian dijegal sama teman satu kantor yang sirik.

Nah, kalau kalian adalah orang yang cuek dan bodoamatan, hal ini bukan masalah yang besar. Sebaliknya, kalau kalian adalah orang yang terlalu banyak pikiran, justru hal ini akan menambah beban stres yang berpengaruh terhadap mental kalian. Itu yang pertama.

Kemudian soal gaji. Sudah pasti kalau naik jabatan, otomatis gaji juga bakalan naik. Di sini saya nggak bicara soal nominal, UMR, dan sebagainya. Akan tetapi saya berbicara soal untuk apa gaji itu digunakan. Nggak seluruh gaji yang diterima itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan gaya hidup sendiri, lho. Tapi terkadang gaji juga digunakan untuk refreshing dan menenangkan pikiran.

Kenaikan gaji yang nggak seberapa itu sebenarnya masih belum cukup untuk mengobati kesehatan mental bagi para leader. Serius, nggak bohong deh. Saya bekerja di bawah tekanan, kadang lembur, kadang harus menunda makan siang, mengabaikan chat dari keluarga, meskipun saya belum punya berkeluarga. Tapi di sisi lain, saya juga butuh refreshing sejenak untuk sekadar menenangkan pikiran dari tekanan yang diberikan oleh atasan.

Semakin naik tunjangan bagi karyawan, semakin besar pula tanggung jawabnya. Semakin besar tanggung jawabnya, semakin besar tekanannya. Dan semakin besar tekanannya, semakin besar risiko terserang penyakit stres. Biar nggak stres berkepanjangan, jelas kita butuh hiburan dan liburan. Maka dari itu, kenaikan gaji dan tunjangan bagi karyawan habis hanya untuk menghilangkan rasa stres, bukan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mungkin saya bisa dibilang orang yang kurang nerimo ing pandum. Lha tapi saya pengen kerja nyaman dan tidak ada paksaan je. Toh kalau kerja nyaman dan kita merasa tidak terpaksa, justru rezeki juga bakal mengalir lancar bukan?

Terakhir, prinsip kekeluargaan dan tanggung jawab bersama di dalam perusahaan, sebenarnya adalah kalimat untuk menghindari beban yang ada di dalam diri mereka sendiri. Kekeluargaan okelah, masih bisa dimaklumi, karena setiap hari kita bertemu dengan rekan-rekan kerja kita di kantor. Seolah seperti rumah kedua. Tapi untuk tanggung jawab bersama, saya rasa nggak dulu.

Seseorang yang akrab dengan saya pernah mengatakan “Halah, kalimat tanggung jawab bersama itu cuma bullshit, Ngget.” Iya, benar, hal itu justru hanya akan menjadikan tanggung jawab seolah dibebankan kepada orang lain. Sementara untuk orang yang mempunyai posisi tanggung jawab lebih besar malah bersantai ria, klepas-klepus udud, ngopi, dan menikmati enaknya hidup.

Dari beberapa hal yang saya sebutkan di atas, masihkah kalian wahai para jamaah mojokiyah mempunyai niatan untuk naik jabatan? Saran saya sih nggak usah. Toh kerja nyaman, tanpa tekanan, dan tidak ada paksaan juga lebih menyenangkan. Kalau pesan dari bapak koordinator saya, “Ora usah ngoyo, bayar e podho.”

Penulis: Grantino Gangga Ananda Lukmana
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Naik Pangkat Berjamaah di Tengah Wabah: Semua Ingin Menjadi Jenderal

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.
Exit mobile version