Penjilat Atasan Adalah Borok dalam Kantor yang Bikin Pekerja Lain Tersingkir dan Menderita

Penjilat Atasan Adalah Borok dalam Dunia Kerja yang Bikin Pekerja Keras Tersingkir dan Menderita Mojok.co

Penjilat Atasan Adalah Borok dalam Dunia Kerja yang Bikin Pekerja Keras Tersingkir dan Menderita (unsplash.com)

Penjilat adalah entitas paling menyebalkan di kantor.

Sebelum bekerja, saya kira tantangan terbesar dalam dunia kerja adalah tugas menumpuk atau jam kerja panjang. Ternyata saya salah. Manusia-manusia di dalamnya alias teman kerja adalah tantangan paling besar. Dan, penjilat adalah salah satu jenis teman kerja yang bikin muak. Setidaknya itulah yang saya rasakan. 

Saya bekerja di kantor yang cukup besar. Cabangnya di mana-mana dan bisnisnya terus berkembang. Dari luar, semua terlihat profesional dan menjanjikan. Namun, kenyataannya tidak seperti itu.

Tuntutan kerja di sana besar, tapi gajinya mungil.  Saya sudah tahu ini sejak awal, tapi tetap menjalani pekerjaan ini karena cari kerja yang manusiawi di negara ini tidaklah mudah, apalagi in this economy

Diam bukanlah emas

Saya memang bukan tipe orang yang mudah akrab dengan lingkungan baru. Saya lebih banyak diam dan membutuhkan banyak waktu untuk merasa nyaman dengan orang lain. Dengan karakter seperti itu, jelas penjilat adalah hal peran yang tidak mungkin saya mainkan di kantor.

Pendiam bukan berarti saya tidak profesional, saya datang tepat waktu dan mengerjakan tugas yang ada. Saya menjalankan tanggung jawab sebagaimana mestinya. 

Persoalannya, lama-lama saya dipandang berbeda hanya karena pendiam. Ada jarak yang sulit dijelaskan. Status saya sebagai satu-satunya sarjana di tempat itu juga seperti ikut memengaruhi cara mereka memandang saya. Padahal saya sendiri tidak pernah merasa lebih pintar atau lebih tinggi daripada siapa pun.

Saya dicap sombong hanya karena pendiam di kantor. Lucunya, semua penilaian itu tumbuh tanpa ada yang benar-benar mencoba memahami saya secara langsung.

Penjilat adalah entitas paling menyebalkan di kantor

Setelah beberapa waktu bekerja, saya menyadari satu hal. Bekerja tidak hanya cukup dengan menyelesaikan jobdesc dengan baik. Kita juga harus pandai membangun kesan. Harus tahu kapan ikut tertawa dan harus tahu bagaimana membuat atasan merasa nyaman. Bahkan, beberapa orang rela menjadi penjilat atasan.

Dengan mata kepala ini saya melihat sendiri bagaimana karyawan rela jadi penjilat demi dekat dengan atasan. Bahkan, terkadang, hal-hal yang tersebut jauh dari jobdesc kantor. Misal, menemani atasan mengobrol sampai bersedia mengurus anak atasan yang masih balita. 

Semua terlihat tulus di depan, tapi ironisnya para penjilat itu tidak segan-segan membicarakan bosnya di belakang. Di situ saya sadar, hubungan dalam pekerjaan tidak melulu tulus, ada banyak intrik dan kepentingan di dalamnya. 

Awalnya saya punya prinsip membiarkan orang-orang jadi penjilat, saya hanya mau diam dan fokus mengurus kerjaan saya. Namun, ternyata saya salah. Diam pun tetap bisa dianggap ancaman oleh para penjilat. Diam pun bisa menimbulkan keirian yang tidak akan pernah saya pahami alasannya. 

Jadi pendiam di kantor tetap berisiko selama ada penjilat di kantor

Salah satu hal yang paling membekas selama bekerja di sana adalah ketika atasan memanggil saya untuk berbicara secara pribadi. Awalnya saya pikir itu hanya evaluasi biasa. Namun, semakin lama pembicaraan berlangsung, saya merasa seperti sedang diadili dengan tidak adil.

Atasan mulai menyampaikan berbagai pendapat teman-teman kerja tentang saya. Katanya beberapa teman kerja merasa tidak terbantu dengan kehadiran saya. Ada juga yang menganggap saya terlalu tertutup dan sulit diajak bekerja sama. Saya benar-benar bingung mendengarnya.

Bukan karena saya merasa paling rajin atau paling benar, tetapi karena saya tahu saya bekerja. Saya menjalankan tugas saya setiap hari dan menyelesaikan apa yang memang menjadi tanggung jawab saya.

Memang saya pernah melakukan satu kesalahan dalam pekerjaan. Namun, itu terjadi ketika kondisi tubuh saya sedang tidak baik. Hari itu saya sebenarnya sedang sakit, tetapi tetap memaksakan diri untuk masuk kerja karena tidak ingin dianggap tidak bertanggung jawab. Dalam kondisi kurang fokus itulah saya melakukan kesalahan. Saya menerima itu sebagai kesalahan pribadi saya dan tidak membela diri sama sekali.

Yang membuat saya kecewa bukan teguran atas kesalahan tersebut, melainkan bagaimana kesalahan itu seperti dijadikan alasan oleh para teman-teman penjilat untuk memberi penilaian buruk tentang diri saya. Laporan dari teman-teman kerja terasa tidak sesuai dengan kenyataan yang saya jalani setiap hari.

Bekerja sungguh-sungguh saja tidak cukup 

Gongnya adalah atasan sempat mempertanyakan minat kerja saya. Kalimat itu menjadi salah satu yang paling membekas di kepala saya. Saya merasa semua tenaga, keringat, dan usaha saya seperti tidak berarti apa-apa.

Yang paling menyakitkan, saya bahkan tidak benar-benar punya kesempatan untuk berbicara. Saya hanya duduk diam mendengarkan berbagai penilaian tentang diri saya sendiri seolah keputusan tentang siapa saya sudah dibuat sejak awal.

Saya bertanya pada diri sendiri apakah saya masih ingin bertahan di tempat yang membuat saya merasa sendirian seperti itu. Tempat yang membuat saya merasa tidak dipahami, tidak didengar, dan perlahan kehilangan semangat menjalani harinya.

Pengalaman tersebut membuat saya memahami satu hal. Di beberapa tempat, kerja keras saja tidak cukup. Kadang kita juga dituntut memainkan peran sosial yang melelahkan agar terlihat layak berada di sana. Jika tidak pandai memainkan peran itu, sekeras apa pun kita bekerja, semuanya bisa tetap dianggap tidak cukup.

Penulis: Ainun Qalbi Annur
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Cari Kerja Memang Susah, tapi Bertahan di Lingkungan Kerja Toxic Juga Nggak Ada Gunanya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version