Pengingat di Hari Ulang Tahun Jogja #HUT263Jogja

Di balik glamornya kota-kota besar, selalu ada sisi lain yang memang kurang diperhatikan atau bahkan tidak diperdulikan oleh banyak orang, Jogja misalnya.

Artikel

Avatar

Pada hari Kamis pahing tanggal 13 Sura 1682 bertepatan dengan 7 Oktober 1756, Sri Sultan Hamengku Buwana I beserta keluarganya pindah atau boyongan dari Pesanggrahan Ambarketawan masuk ke dalam Kraton Ngayogyakarta. Momen kepindahan inilah yang dipakai sebagai dasar penentuan Hari Jadi Kota Yogyakarta. Jogja ulang tahun gaes~

Yogyakarta, kota yang kata orang-orang adalah kota istimewa, kota pelajar, kota yang ramah dengan segalanya yang serba murah. Tempat segala kenangan melebur, di jalanan padat Malioboro, keindahan alam di berbagai sudut desanya, atau pada cangkir-cangkir kopi di kedai-kedai yang menjamur. Yogyakarta memang telah dikenal dengan tempat yang sangat nyaman untuk berhaha-hihi ria.

Namun di balik glamornya setiap kota-kota besar, selalu ada sisi lain yang memang kurang diperhatikan atau bahkan tidak diperdulikan oleh banyak orang, Jogja misalnya. Maka bertepatan dengan hari lahirnya, mari merayakan dengan mengingat hal-hal yang perlu diperhatikan.

Jogja Darurat Sampah

Ingat pada akhir Mei kemarin, tragedi ditutupnya TPST Piyungan di Bantul karena tempat yang sudah tidak dapat menampung sampah lagi. Imbasnya, penumpukan sampah di beberapa titik TPS lainnya di Yogyakarta. Padahal TPST Piyungan merupakan pusat pembuangan sampah dari kabupaten Sleman dan Bantul, serta kota Yogyakarta sendiri. TPST yang setiap harinya mendapat kiriman sampah mencapai 600 ton.

Sampah memang selalu menjadi masalah di banyak tempat, terutama di kota besar yang notabene ramai dikunjungi oleh orang-orang luar kota, entah itu wisatawan, pelajar, atau pekerja. Semakin banyak orang, maka volume sampahpun semakin meningkat. Dan hal itu yang kemudian menjadi masalahnya. Jika sudah begitu, terus bagaimana?

Jadi begini, pertama, jangan menyalahkan siapapun secara sepihak. Apapun yang terjadi di hidup kita, cobalah memulai dengan intropeksi diri dulu. Eh, ini bukan tulisan motivasi ala Adji Santoputro, loh ya. Tapi intropeksi memang perlu juga terhadap apa yang terjadi di lingkungan kita, masalah sampah adalah masalah kita bersama. Maka dari itu, cobalah perfikir apa yang dapat kita lakukan secara mandiri untuk mengurangi masalah tersebut.

Baca Juga:  Bodo Amat dengan Buku “Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat”

Nah kedua, mulailah bergerak dengan mengolah produksi sampah individu. Memilih dan memilah sampah rumah tangga.Yang organik dan non-organik, atau bahasa gaulnya  bosok lan raiso bosok. Akan lebih baik jika dapat mengurangi produksinya dengan zerowaste, misalkan. Apa itu zerowaste? Singkatnya, gaya hidup bebas sampah. Seperti mengurangi pembelian makanan dengan packing sekali pakai.

Jogja Makin Panas

Salah satu akibat semakin panasnya kota Jogja adalah karena kurangnya RTH di kota ini. dilansir dari researchgate.net, menurut UU No. 2 tahun 2007 luas minimal RTH di wilayah perkotaan agar dapat menjalankan proses-proses ekologis tersebut minimal 30% dari tital luas wilayah kota, terdiri atas RTH publik 20% dan RTH privat 10%. Lebih lanjutnya dapat dilihat dibaca di sini.

Pada Agustus 2019, RTH di kota Jogja baru mencapai 19% masih jauh dari target. Namun, tahun ini Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kota Jogja juga sedang membangun 5 RTH Publik guna memenuhi standar RTH perkotaan yakni 30%. Yang artinya, Jogja bakal lebih adeeem~

Selain itu, kemacetan yang kian parah juga ditunjukan dari kualitas udara di sejumlah simpang jalan Kota Yogyakarta mendekati ambang batas baku mutu. Meski dari hasil pengukuran yang dilakukan, kualitas udara ‘road side’ di Kota Yogyakarta belum melebihi ambang batas baku mutu.

Walaupun pakar Transportasi Publik Masyarakat Transportasi Indonesia Djoko Setijowarno di Yogyakarta mengatakan solusi untuk kemacetan di Kota Yogyakarta adalah dengan memaksimalkan keberadaan angkutan umum, tapi kalau individu-individunya masih malas dan kurang kesadarannya untuk menggunakan transportasi umum. Yah, sama aja atuh.

Keduanya harus sama-sama dibenahi. Pemerintah menambah akses dan keberadaan transportasi umum, sedangkan masyarakatnya juga harus bangun kesadarannya.

Nah, selain mengandalkan pemerintah, kita juga bisa membantu dengan menanam tanaman-tanaman secara mandiri. Alih-alih mengurangi emisi karbon di lingkungan sekitar kita, kan bisa juga buat nyegerin mata lihat yang hijau-hijau, ya kaan.

Jogja yang dulu memang bukanlah Jogja yang sekarang. Mari jadikan Jogja (tetap) berhati nyaman dengan terus memperbaikinya. Mari bergerak bersama. (*)

Baca Juga:  Rindu Itu Ringan, Yang Berat Itu Kamu

BACA JUGA Untuk Perempuan Berjilbab Besar yang Bonceng Sepeda Motor: Lampu Sein Belakang Itu Bukan Aurat, Jadi Tak Perlu Ditutupi atau tulisan Annatiqo Laduniyah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
1

Komentar

Comments are closed.