Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Pengalaman Mendaki Pertama Kalinya dan Nekat Langsung ke Lawu: Sebuah Kesalahan yang Nggak Bikin Saya Menyesal

Muhammad Nur Azza oleh Muhammad Nur Azza
9 November 2025
A A
Pengalaman Mendaki Pertama Kalinya dan Nekat Langsung ke Lawu: Sebuah Kesalahan yang Nggak Bikin Saya Menyesal

Pengalaman Mendaki Pertama Kalinya dan Nekat Langsung ke Lawu: Sebuah Kesalahan yang Nggak Bikin Saya Menyesal (AdrianVallen via Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya bukan orang yang rutin olahraga. Paling-paling cuma jogging atau sepedaan waktu pagi hari, itupun jarang. Jadi, ketika akhirnya memutuskan buat mendaki gunung untuk pertama kalinya, bisa dibilang itu keputusan yang agak nekat. Dan lebih nekat lagi karena gunung pertama saya adalah Gunung Lawu via Candi Cetho, jalur yang kata orang sih nggak ramah buat pemula. Apalagi yang belum pernah muncak.

Waktu itu memang saya dan seorang teman saya sudah merencanakan dari jauh hari buat naik ke gunung. Saya tertarik soalnya saya suka melihat pemandangan alam, sekaligus pengin menjajal kamera yang baru saya beli buat motret tanaman atau hewan unik yang ada di gunung.

Keputusan akhirnya jatuh buat muncak ke Lawu, dengan alasan teman saya pernah sekali ke sana walau belum sampai puncak. Ini jadi sebuah “bekal” tersendiri bagi kami. Karena kami cuma dua orang, kalau keduanya nggak ada pengalaman sama sekali bisa gawat.

Lika-liku muncak di Gunung Lawu, HP hampir hilang

Karena kami berangkat dari rumah terlalu siang, alhasil sampai di Karanganyar sudah sore hari. Kami memulai perjalanan dari basecamp sekitar jam 4 sore. Jalur awal dari bawah hingga pos 3 cenderung tertutup, gelap, dan kadang becek. Beberapa kali saya sempat tergelincir. Waktu sudah menunjukkan sekitar jam setengah 7 malam ketika saya melewati pos 2. Mulai agak panik juga karena suasananya makin gelap, walau sebenarnya saya sudah menyiapkan senter.

Saya termasuk orang yang suka ngos-ngosan. Jalan baru beberapa meter, harus istirahat. Di tengah perjalanan itu, saya sempat kehilangan HP. Baru sadar setelah berjalan cukup jauh ke atas. Mau tak mau, saya harus turun lagi, setengah berlari, sambil berharap HP masih di tempat yang saya perkirakan. 

Tapi begitu sampai di lokasi perkiraan, HP sudah tak ada. Panik? Jelas. Saya sudah berpikiran aneh-aneh apalagi suasana sudah gelap sekali. Bahkan saya sempat berpikir buat nggak lanjut dan turun aja. Beruntung sekali, ternyata ada rombongan pendaki lain yang menemukannya dan mengamankannya. Rasanya seperti diselamatkan dari bencana kecil. Terima kasih banyak buat mas-mas baik hati di Gunung Lawu itu. Saya benar-benar bersyukur.

Namun, tenaga saya sudah terkuras banyak karena insiden itu. Akhirnya, saya dan teman saya memutuskan untuk ngecamp di pos 3. Kami tiba sekitar jam 9 malam, hawa sangat dingin, dan tubuh rasanya sudah mau ambruk.

Habis ngecamp di Gunung Lawu, harapannya sih jalurnya enak…

Awalnya berencana lanjut pagi-pagi sekali, tapi rasa malas dan lelah lebih besar. Jadi kami baru lanjut sekitar jam 11 siang. Dari pos 3 Gunung Lawu ke atas, jalurnya mulai terjal, tapi belum seberapa dibandingkan setelah pos 4. Setelah pos 4, jalur mulai terbuka, berdebu, dan curam. Vegetasinya makin sedikit, napas mulai sesak, tapi pemandangan di atas awan membuat semuanya terasa layak.

Baca Juga:

Tawangmangu Memang Destinasi Wisata Andalan di Jawa Tengah, tapi Kudu Waspada karena Selo Boyolali Siap Lebih Terkenal

Karanganyar Nggak Kalah dari Purwokerto: Daerah Terbaik di Jawa Tengah

Dari pos 4 ke 5 menurut saya adalah bagian paling jauh. Jalurnya sedikit menurun lalu kembali menanjak curam sebelum akhirnya bertemu hamparan sabana yang luas. Kami tiba di pos 5 sekitar jam 5 sore. Tapi karena lokasinya kurang nyaman buat ngecamp, kami lanjut ke Gupakan Menjangan, sekitar 20 menit jalan dari sana.

Begitu tiba, langsung kami langsung aja mendirikan tenda buat istirahat. Sabana Gunung Lawu luas terbentang, udaranya segar, dan suasananya tenang. Rasanya seperti mendapat hadiah setelah perjuangan panjang.

Keesokan harinya, kami lanjut muncak sekitar jam 10 pagi. Di puncak, cuaca panas tapi tetap dingin. Sangat aneh bagi yang pertama kali muncak kayak saya. Setelah puas menikmati pemandangan dan berfoto di puncak, kami menyempatkan diri buat mampir ke salah satu warung di puncak, termasuk saya sempat mampir ke warung yang dikelola oleh Mbok Yem (almarhumah).

Nggak berani langsung pulang karena capek

Kami turun Gunung Lawu sekitar jam 2 siang, dan menurut saya, perjalanan turun ini lebih menyiksa daripada pas naik. Karena emang tenaga udah habis-habisan. Saya pikir, turun itu enak karena cepet. Tapi tetep aja capek. Jeda istirahat di selang berjalan saya lebih parah daripada pas naik. Kami sampai di basecamp sekitar jam 7 malam, dan menjadi yang terakhir turun di hari itu.

Karena kaki rasanya udah nggak karuan, saya nggak berani pulang malam itu dan memilih buat menginap aja di basecamp.

Gunung Lawu mungkin bukan gunung yang ramah buat pendaki yang belum pernah muncak terkhusus saya. Tapi setelah itu saya belajar banyak hal tentang kesabaran, tentang rasa syukur, dan tentang kebaikan orang asing yang tanpa pamrih menolong di tengah gelapnya jalur pendakian.

Penulis: Assyifa Furqon Gaibinsani
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 9 Jam “Menghilang” di Gunung Lawu Magetan hingga Bisa Kembali berkat Kiriman al-Fatihah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 November 2025 oleh

Tags: gunung lawukesulitan mencetak di gunung lawupengalaman mendaki di gunung lawupos pendakian di gunung lawu
Muhammad Nur Azza

Muhammad Nur Azza

Warga Solo coret yang sedang belajar Hubungan Internasional di Solo. Menaruh perhatian pada konservasi alam dan arkeologi. Suka baca Doraemon.

ArtikelTerkait

Karanganyar Nggak Kalah dari Purwokerto Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Karanganyar Nggak Kalah dari Purwokerto: Daerah Terbaik di Jawa Tengah

26 Februari 2023
Tawangmangu, Wisata Andalan Jawa Tengah yang Dikejar Selo Boyolali (Unsplash)

Tawangmangu Memang Destinasi Wisata Andalan di Jawa Tengah, tapi Kudu Waspada karena Selo Boyolali Siap Lebih Terkenal

20 Maret 2024
gunung lawu mistis mapala mojok

Gunung Lawu Memang Beda, dan Kami Dipaksa Menyerah

3 September 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Berharap Terminal Bawen Semarang Segera Berbenah agar Tidak Membingunkan Pengunjung Mojok.co

Berharap Terminal Bawen Semarang Segera Berbenah agar Tidak Membingungkan Pengunjung

20 Februari 2026
6 Oleh oleh Khas Jogja Paling Red Flag- Cuma Bikin Sakit Hati! (Wikimedia Commons)

6 Oleh oleh Khas Jogja Paling Red Flag, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Sakit Hati

22 Februari 2026
Toyota Fortuner Mobil Mahal yang Terlihat Murahan karena Cara Berkendara Pengemudinya Mojok.co

Toyota Fortuner Mobil Mahal yang Jadi Terlihat Murahan karena Cara Berkendara Pengemudinya

23 Februari 2026
7 Destinasi Wisata Bantul yang Nggak Spesial dan Cukup Dikunjungi Sekali Seumur Hidup Mojok.co

7 Destinasi Wisata Bantul yang Nggak Spesial dan Cukup Dikunjungi Sekali Seumur Hidup

24 Februari 2026
Monumen Kapal Selam di Surabaya Sebenarnya Kaya Informasi, tapi Ogah kalau Harus ke Sana Lagi Mojok.co

Monumen Kapal Selam di Surabaya Sebenarnya Kaya Informasi, tapi Ogah kalau Harus ke Sana Lagi

24 Februari 2026
QRIS Masuk Desa, yang Ada Cuma Ribet dan Cepat Miskin (Unsplash)

QRIS Masuk Desa, yang Ada Cuma Keribetan dan Bikin Cepat Miskin

19 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Pindah ke Lingkungan Muhammadiyah Lebih Tentram: Jauh dari Bunyi Toa Masjid yang Berisik hingga Terbebas dari Iuran dan Cap Islam Abal-abal
  • Cerita Perantau Jatim: Diremehkan karena Tinggal di Kos Kumuh Jogja, Bungkam Mulut Tetangga dengan Membangun Rumah Besar di Desa
  • Maunya Motor Matic, tapi Terpaksa Pakai Supra buat Kuliah di Fakultas “Elite” di UGM demi Menyenangkan Ayah
  • Sahur dengan MBG, Nilai Gizinya Lebih Cocok untuk Mahasiswa ketimbang Anak Sekolah
  • 35 Tahun Bekerja Keras demi Anak, tapi Kesepian di Masa Tua karena Dianggap Tak Pernah Hadir untuk Keluarga
  • Danau UNESA, Tempat Pelarian Pekerja Surabaya Gaji Pas-pasan dan Gila Kerja. Kuat Bertahan Hanya dengan Melamun

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.