Belakangan, Semarang seolah punya cara-cara kreatif baru buat bikin warganya makin doyan belanja. Bukan cuma lewat menjamurnya pembangunan mal atau kafe estetik yang merajai sudut kota, Kota Lumpia kini juga mengekor tren bikin jajanan viral seperti Bandung. Salah satu yang lagi naik daun tentu saja Roti Subuh.
Sebagai warga lokal yang lidahnya gampang penasaran, tentu saja saya nggak mau ketinggalan gerbong. Apalagi, gimmick penjualannya lumayan oke. Roti ini cuma dijajakan dalam durasi super singkat, yakni dari pukul 04.00 sampai 08.00 pagi saja. Benar-benar sesuai dengan namanya.
Awalnya, Roti Subuh ini cuma mangkal di kawasan Semarang Selatan, tepatnya di Jalan Singosari Raya. Tapi, karena peminatnya tumpah ruah, cabang kedua dan ketiganya langsung menyusul buka. Serunya lagi, salah satu cabang barunya itu letaknya dekat banget dengan rumah saya. Cuma butuh waktu lima menit naik motor.
Lantaran terhasut popularitas dan tergiur fakta lokasi dekat, saya sempat berniat ikut mencicipinya. Sayangnya, semangat itu langsung ambruk waktu ada anggota keluarga yang ngasih laporan kalau antreannya masih mengular panjang dari jam tujuh sampai delapan pagi. Mau ikut baris pas matahari belum kelihatan, kok rasanya kelopak mata masih susah diajak kompromi.
Untungnya, setelah riset kilat, saya dapat angin segar. Roti ini ternyata bisa dipesan sehari sebelumnya alias pre-order. Artinya, saya nggak perlu ikut antre berjamaah cuma demi sekotak roti dengan aneka isian. Layanan pesan lewat WhatsApp ini dibuka dari pagi sampai sore. Tapi, entah kenapa, begitu rotinya masuk mulut, ekspektasi saya malah terasa ketinggian.
Nggak ada yang istimewa dari Roti Subuh kecuali hanya dijual saat pagi saja
Pada kesempatan perdana kemarin, saya memutuskan memesan dua varian dulu. Orisinal dan cokelat. Alasannya sederhana. Selain karena saya memang penggemar berat cokelat, varian orisinal sengaja saya pilih sebagai garis start untuk menilai rasa dasarnya secara objektif. Takutnya, penilaian lidah saya kadung bias kalau langsung mencicipi isian yang terlalu ramai.
Sayangnya, begitu digigit, rasa Roti Subuh biasa saja. Nggak ada kejutan rasa yang bikin melek mata sepet khas pagi hari saya. Walau demikian, harus diakui kalau teksturnya memang juara.
Serat gandumnya terasa jelas di lidah dan sama sekali nggak bikin seret saat ditelan. Bahkan, efek sampingnya cukup positif. Pencernaan saya langsung lancar jaya hari itu. Dari segi kesehatan, roti ini jelas menang telak dibanding roti kebanyakan. Apalagi tingkat manisnya juga pas dan nggak bikin enek.
Namun, penilaian saya langsung goyah sewaktu mendarat di isian cokelatnya. Dalam bayangan saya, isian cokelatnya bakal wangi semerbak dan lumer di mulut. Kenyataannya, rasanya persis seperti selai cokelat pada roti sobek pabrikan yang biasa dijajakan keliling kampung pakai motor setiap pagi atau sore hari.
Kecewa
Belum lagi urusan teknis pengambilan yang justru bikin kecewa sendiri gara-gara pesan via WhatsApp sehari sebelumnya. Rencana awal, saya ingin mengambil pesanan pukul tujuh tepat. Tapi karena urusan rumah beres lebih cepat, saya nekat meluncur ke gerai pukul setengah tujuh.
Sesampainya di sana, kantong plastik bening yang terikat ujungnya dengan berisi pesanan saya memang sudah siap. Sialnya, Roti Subuh hanya ditata di dalam kotak terbuka tanpa penutup. Akibatnya, permukaan atas salah satu roti saya jadi bersentuhan langsung dengan bagian bawah kotak roti lain yang menumpuk di atasnya. Entahlah, secara standar kebersihan, cara packing seperti itu rasanya agak kurang layak.
Apesnya lagi, dua buah Roti Subuh pesanan saya itu sudah terlanjur dingin. Kemungkinan besar karena memang sudah disiapkan jauh-jauh waktu sebelum saya datang. Kalau dipikir-pikir, sepertinya bakal jauh lebih bijak kalau datang langsung dan beli on the spot. Barangkali, saya bisa menikmati sensasi roti yang masih mengepul hangat baru keluar dari oven, yang mungkin bakal bikin lelehan cokelatnya bekerja sesuai imajinasi.
Satu poin plus yang tersisa adalah meski sudah dingin dan terpapar angin luar, tekstur rotinya terbukti nggak jadi keras sama sekali. Tapi, kalau harus disuruh mengorbankan waktu tidur demi bangun kepagian dan mengantre demi roti bersuhu ruang, maaf saja, saya pilih mundur. Sepertinya, takdir lidah saya memang bukan berada di lingkaran penggemar setianya.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Roti Tan Ek Tjoan, Rasa dari Masa Lalu yang Boleh Diadu
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
